Punya Suami Brengsek,Istri Seksi Dijadikan Bahan Taruhan Judi Akhirnya Diewe Habis2an.

Sebut saja Maria, perempuan berumur 32 tahun nyaris putus asa dalam menjalani hidup ini. Suaminya, Budi, justru menjadikannya sebagai seorang pelacur. Aku tak pernah menyangka jika Mas Budi tega menjual tubuhku. Ketika pertama kali aku mengenalnya, dia adalah laki-laki yang baik dan selalu menjagaku dari berbagai godaan laki-laki lain. Kami menikah lima tahun yang lalu dan dikarunai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan kami beri nama Rizal. Perkawinan kami mulus-mulus saja sampai Rizal muncul diantara kami. Tentu saja waktuku banyak tersita untuk mendidik Rizal.

Mas Budi berkerja di perusahaan swasta yang bergerak dibidang produksi kayu, sedangkan aku hanya tinggal di rumah. Tetapi aku tidak pernah mengeluh. Aku tetap sabar menjalankan tugasku sebagai ibu rumah tangga sebaik-baiknya. Sebenarnya setiap hari bisa saja Mas Budi pulang sore hari. Tetapi belakangan ini dia selalu pulang terlambat. Bahkan sampai larut malam.

Pernah ketika kutanyakan, kemana saja kalau pulang terlambat. Dia hanya menjawab “Aku mencari penghasilan tambahan Mar”, jawabnya singkat.

Mas Budi makin sering pulang larut malam, bahkan pernah satu kali dia pulang dengan mulut berbau alkohol, jalannya agak sempoyongan, rupanya dia mabuk. Aku mulai bertanya-tanya, sejak kapan suamiku mulai gemar minum-minum arak. Selama ini aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Kadang-kadang ia memberikan uang belanja lebih padaku. Atau pulang dengan membawa oleh-oleh untuk aku dan Rizal anak kami.

Setiap kali aku menyinggung aktivitasnya, Mas Budi berusaha menghindari. “Kita jalankan saja peran masing-masing. Aku cari uang dan kamu yang mengurus rumah. Aku tidak pernah menanyakan pekerjaanmu, jadi lebih baik kamu juga begitu”, katanya.

Aku baru bisa menerka-nerka apa aktivitasnya ketika suatu malam, dia memintaku untuk menjual gelang yang kupakai. Ia mengaku kalah bermain judi dengan seseorang dan perlu uang untuk menutupi utang atas kekalahannya, jadi itu yang dilakukannya selama ini. Sebagai seorang istri yang berusaha berbakti kepada suami, aku memberikan gelang itu. Toh dia juga yang membelikan gelang itu. Aku memang diajarkan untuk menemani suami dalam suka maupun duka.

Suatu sore saat Mas Budi belum pulang, seorang temannya yang mengaku bernama Bondan berkunjung ke rumah. Kedatangan Bondan inilah yang memicu perubahan dalam rumah tanggaku. Bondan datang untuk menagih utang-utang suamiku kepadanya. Jumlahnya sekitar sepuluh juta rupiah. Mas Budi berjanji untuk melunasi utangnya itu. Aku berkata terus-terang bahwa aku tidak tahu-menahu mengenai utang itu, kemudian aku menyuruhnya untuk kembali besok saja.

Tetapi dengan pandangan nakal dia tersenyum, “Lebih baik saya menunggu saja Mbak, itung-itung menemani Mbak.”

Aku agak risih mendengar ucapannya itu, lebih-lebih ketika melihat tatapan liar matanya yang seakan-akan ingin menelanjangi diriku.

“Budi tidak pernah cerita kepada saya, kalau ia memiliki istri yang begitu cantiknya. Menurut saya, sayang sekali bunga yang indah hanya dipajang di rumah saja” ucap Bondan.

Aku makin tidak enak hati mendengar ucapan rayuan-rayuan gombalnya itu, Tetapi aku mencoba menahan diri, karena Mas Budi berutang uang kepadanya. Dalam hati aku berdoa agar Mas Budi cepat pulang ke rumah, sehingga aku tidak perlu berlama-lama mengenalnya.

Untung saja tak lama kemudian Mas Budi pulang. Kalau tidak pasti aku sudah muntah mendengar kata-katanya itu. Begitu melihat Bondan, Mas Budi tampak lemas. Dia tahu pasti Bondan akan menagih hutang-hutangnya itu. Aku meninggalkan mereka di ruang tamu, Mas Budi kulihat menyerahkan amplop coklat. Mungkin Mas Budi sudah bisa melunasi hutangnya. Aku tidak dapat mendengar pembicaraannya, namun kulihat Mas Budi menunduk dan sesekali terlihat berusaha menyabarkan temannya itu.

Setelah Bondan pulang, Mas Budi memintaku menyiapkan makan malam. Dia menikmati sajian makan malam tanpa banyak bicara, Aku juga menanyakan apa saja yang dibicarakannya dengan Bondan. Aku menyadari Mas Budi sedang suntuk, jadi lebih baik aku menahan diri. Setelah selesai makan, Mas Budi langsung mandi dan masuk ke kamar tidur, aku menyusul masuk kamar satu jam kemudian setelah berhasil menidurkan Rizal di kamarnya.

Ketika aku memasuki kamar tidur dan menemaninya di ranjang, Mas Budi kemudian memelukku dan menciumku. Aku tahu dia akan meminta ‘jatahnya’ malam ini. Malam ini dia lain sekali sentuhannya lembut. Pelan-pelan Mas Budi mulai melepaskan daster putih yang kukenakan, setelah mencumbuiku sebentar, Mas Budi mulai membuka bra tipis yang kukenakan dan melepaskan celana dalamku.

Setelah itu Mas Budi sedikit demi sedikit mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuhku, tidak ada yang terlewati. Kemudian aku membantu Mas Budi untuk melapaskan seluruh pakaian yang dikenakannya, sampai akhirnya aku bisa melihat penis Mas Budi yang sudah mulai agak menegang, tetapi belum sempurna tegangnya.

Dengan penuh kasih sayang kuraih batang kenikmatan Mas Budi, kumain-mainkan sebentar dengan kedua belah tanganku, kemudian aku mulai mengulum batang penis suamiku dengan lembutnya. Terasa di dalam mulutku, batang penis Mas Budi terutama kepala penisnya, mulai terasa hangat dan mengeras. Aku menyedot batang Mas Budi dengan semampuku, kulihat Mas Budi begitu bergairah, sesekali matanya terpejam menahan nikmat yang kuberikan kepadanya.

Mas Budi kemudian membalas, dengan meremas-remas kedua payudaraku yang cukup menantang, 36B. Aku mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan mulai bergerak dari puting payudaraku dan mulai menjalar keseluruh bagian tubuhku lainnya, terutama ke vaginaku. Aku merasakan liang vaginaku mulai terasa basah dan agak gatal, sehingga aku mulai merapatkan kedua belah pahaku dan menggesek-gesekan kedua belah pahaku dengan rapatnya, agar aku dapat mengurangi rasa gatal yang kurasakan di belahan liang vaginaku.

Mas Budi rupanya tanggap melihat perubahanku, kemudian dengan lidahnya Mas Budi mulai turun dan mulai mengulum daging kecil clitorisku dengan nafsunya, Aku sangat kewalahan menerima serangannya ini, badanku terasa bergetar menahan nikmat, peluh ditubuhku mulai mengucur dengan deras diiringi erangan-erangan kecil dan napas tertahan ketika kurasakan aku hampir tak mampu menahan kenikmatan yang kurasakan.

Akhirnya seluruh rasa nikmat semakin memuncak, saat penis Mas Budi, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke dalam vaginaku, rasa gatal yang kurasakan sejak tadi berubah menjadi nikmat saat penis Mas Budi yang telah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak maju mundur, seakan-akan menggaruk-garuk gatal yang kurasakan.

Suamiku memang jago dalam permainan ini. Tidak lebih dari lima belas menit aku berteriak kecil saat aku sudah tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang kurasakan, tubuhku meregang sekian detik dan akhirnya rubuh di ranjang ketika puncak-puncak kenikmatan kuraih pada saat itu, mataku terpejam sambil menggigit kecil bibirku saat kurasakan vaginaku mengeluarkan denyut-denyut kenikmatannya.

Dan tidak lama kemudian Mas Budi mencapai puncaknya juga, dia dengan cepatnya menarik penisnya dan beberapa detik kemudian, air maninya tersembur dengan derasnya ke arah tubuh dan wajahku, aku membantunya dengan mengocok penisnya sampai air maninya habis, dan kemudian aku mengulum kembali penisnya sekian lama, sampai akhirnya perlahan-lahan mulai mengurang tegangannya dan mulai lunglai.

“Aku benar-benar puas Mar, kamu memang hebat”, pujinya. Aku masih bergelayut manja di dekapan tubuhnya.

“Mar, kamu memang istriku yang baik, kamu harus bisa mengerti kesulitanku saat ini, dan aku mau kamu membantu aku untuk mengatasinya”, katanya.

“Bukankah selama ini aku sudah begitu Mas”, sahutku. Mas Budi mengangguk-angguk mendengarkan ucapakanku.

Kemudian ia melanjutkan, “Kamu tahu maksud kedatangan Bondan tadi sore. Dia menagih utang, dan aku hanya sanggup membayar setengah dari keseluruhan utangku. Kemudian setelah lama berbicang-bincang ia menawarkan sebuah jalan keluar kepadaku untuk melunasi hutang-hutangku dengan sebuah syarat”, ucap Mas Budi.

“Apa syaratnya, Mas?” tanyaku penasaran.

“Rupanya dia menyukaimu, dia minta izinku agar kamu bisa menemani dia semalam saja”, ucap Mas Budi dengan pelan dan tertahan.

Aku bagai disambar petir saat itu, aku tahu arti ‘menemani’ selama semalam. Itu berarti aku harus melayaninya semalam di ranjang seperti yang kulakukan pada Mas Budi. Mas Budi mengerti keterkejutanku.

“Aku sudah tidak tahu lagi dengan apalagi aku harus membayar hutang-hutangku, dia sudah mengancam akan menagih lewat tukang-tukang pukulnya jika aku tidak bisa membayarnya sampai akhir pekan ini”, katanya lirih.

Aku hanya terdiam tak mampu mengomentari perkataannya itu. Aku masih shock memikirkan aku harus rela memberikan seluruh tubuhku kepada lelaki yang belum kukenal selama ini. Sikap diamku ini diartikan lain oleh Mas Budi.

“Besok kamu ikut aku menemui Bondan”, ujarnya lagi, sambil mencium keningku lalu berangkat tidur. Seketika itu juga aku membenci suamiku. Aku enggan mengikuti keinginan suamiku ini, namun aku juga harus memikirkan keselatan keluarga, terutama keselamatan suamiku. Mungkin setelah ini ia akan kapok berjudi lagi pikirku.

Sore hari setelah pulang kerja, Mas Budi menyuruhku berhias diri dan setelah itu kami berangkat menuju tempat yang dijanjikan sebelumnya, rupanya Mas Budi mengantarku ke sebuah hotel berbintang. Ketika itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.00 malam. Selama hidup baru pertama kali ini, aku pergi untuk menginap di hotel.

Ketika pintu kamar di ketuk oleh Mas Budi, beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, dan kulihat Bondan menyambut kami dengan hangatnya, Suamiku tidak berlama-lama, kemudian ia menyerahkan diriku kepada Bondan, dan kemudian berpamitan.

Dengan lembut Bondan menarik tanganku memasuki ruangan kamarnya. Aku tertunduk malu dan wajahku terasa memerah saat aku merasakan tanganku dijamah oleh seseorang yang bukan suamiku. Ternyata Bondan tidak seburuk yang kubayangkan, memang matanya terkesan liar dan seakan mau melahap seluruh tubuhku, tetapi sikapnya dan perlakuannya kepadaku tetap tenang, sehingga dikit demi sedikit rasa grogi yang menyerangku mulai memudar.

Bondan menanyakan dengan lembut, aku ingin minum apa. Kusahut aku ingin minum coca-cola, tetapi jawabnya minuman itu tidak ada sekarang ini di kamarnya, kemudian dia mengeluarkan sebotol sampagne dari kulkas dan menuangkannya sedikit sekitar setengah sloki, kemudian disuguhkannya kepadaku, “Ini bisa menghilangkan sedikit rasa gugup yang kamu rasakan sekarang ini, dan bisa juga membuat tubuhmu sedikit hangat. Kulihat dari tadi kelihatannya kamu agak kedinginan”, ucapnya lagi sambil menyodorkan minuman tersebut.

Kuraih minuman tersebut, dan mulai kuminum secara dikit demi sedikit sampai habis, memang benar beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh dan pikiranku agak tenang, rasa gorgi sudah mulai menghilang, dan aku juga merasakan ada aliran hangat yang mengaliri seluruh syaraf-syaraf tubuhku.

Bondan kemudian menyetel lagu-lagu lembut di kamarnya, dan mengajakku berbincang-bincang hal-hal yang ringan. Sekitar 10 menit kami berbicara, aku mulai merasakan agak pening di kepalaku, tubuhku pun limbung. Kemudian Bondan merebahkan tubuhku ke ranjang. Beberapa menit aku rebahan di atas ranjang membuatku mulai bisa menghilangkan rasa pening di kepalaku.

Tetapi aku mulai merasakan ada perasaan lain yang mengalir pada diriku, ada perasaan denyut-denyut kecil di seluruh tubuhku, semakin lama denyut-denyut tersebut mulai terasa menguat, terutama di bagian-bagian sensitifku. Aku merasakan tubuhku mulai terangsang, meskipun Bondan belum menjamah tubuhku.

Ketika aku mulai tak kuasa lagi menahan rangsangan di tubuhku, napasku mulai memburu terengah-engah, payudaraku seakan-akan mengeras dan benar-benar peka, vaginaku mulai terasa basah dan gatal yang menyengat, perlahan-lahan aku mulai menggesek-gesekkan kedua belah pahaku untuk mengurangi rasa gatal dan merangsang di dalam vaginaku. Tubuhku mulai menggeliat-geliat tak tahan merasakan rangsangan seluruh tubuhku.

Bondan rupanya menikmati tontonan ini, dia memandangi kecantikan wajahku yang kini sedang terengah-engah bertarung melawan rangsangan, nafsunya mulai memanas, tangannya mulai meraba tubuhku tanpa bisa kuhalangi lagi. Remasan-remasan tangannya di payudaraku membuatku tidak tahan lagi, sampai tak sadar aku melorotkan sendiri pakaian yang kukenakan. Saat pakaian yang kukenakan lepas, Mata Bondan tak lepas memandangi belahan payudaraku yang putih montok dan yang menyembul dan seakan ingin loncat keluar dari bra yang kukenakan.

Tak tahan melihat pemandangan indah ini, Bondan kemudian menggumuliku dengan panasnya sembari tangannya mengarah ke belakang punggungku, tidak lebih dari 3 detik, kancing bra-ku telah lepas, kini payudaraku yang kencang dan padat telah membentang dengan indahnya, Bondan tak mau berlama-lama memandangiku, dengan buasnya lagi ia mencumbuiku, menggumuliku, dan tangannya semakin cepat meremas-remas payudaraku, cairan vaginaku mulai membasahi celana putihku.

Melihat ini, tangan bondan yang sebelahnya lagi mulai bermain-main di celanaku tepat di cairan yang membasahi celanaku, aku merasakan nikmat yang benar-benar luar biasa. Napasku benar-benar memburu, mataku terpejam nikmat saat tangan Bondan mulai memasuki celana dalamku dan memainkan daging kecil yang tersembunyi di kedua belahan rapatnya vaginaku.

Bondan memainkan vaginaku dengan ahlinya, membuatku terpaksa merapatkan kedua belah pahaku untuk agak menetralisir serangan-serangannya, jari-jarinya yang nakal mulai menerobos masuk ke liang tubuhku dan mulai memutar-mutar jarinya di dalam vaginaku. Tak puas karena celana dalamku agak mengganggu, dengan cepatnya sekali gerakan dia melepaskan celana dalamku. Aku kini benar-benar bugil tanpa tersisa pakaian di tubuhku.

Bondan tertegun sejenak memandangi pesona tubuhku, yang masih bergeliat-geliat melawan rangsangan yang mungkin diakibatkan obat perangsang yang disuguhkan di dalam minumanku. Dengan cepatnya selagi aku masih merangsang sendiri payudaraku, Bondan melepaskan dengan cepat seluruh pakaian yang dikenakan sampai akhirnya bugil pula. Aku semakin bernafsu melihat batang penis Bondan telah berdiri tegak dengan kerasnya, Besar dan panjang.

Dengan cepat Bondan kembali menggumuliku dengan benar-benar sama-sama dalam puncak terangsang, aku merasakan payudaraku diserang dengan remasan-remasan panas, dan.., ahh.., akupun merasakan batang penis Bondan dengan cepatnya menyeruak menembus liang vaginaku dan menyentuh titik-titik kenikmatan yang ada di dalam liang vaginaku, aku menjerit-jerit tertahan dan membalas serangan penisnya dengan menjepitkan kedua belah kakiku ke arah punggungnya sehingga penisnya bisa menerobos secara maksimal ke dalam vaginaku.

Kami bercumbu dengan panasnya, bergumul, setiap kali penis Bondan mulai bergerak masuk menerobos masuk ataupun saat menarik ke arah luar, aku menjepitkan otot-otot vaginaku seperti hendak menahan pipis, saat itu aku merasakan nikmat yang kurasakan berlipat-lipat kali nikmatnya, begitu juga dengan Bondan, dia mulai keteteran menahan kenikmatan tak bisa dihindarinya. Sampai pada satu titik saya sudah terlihat akan orgasme, Bondan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan hentakan2 penisnya yang dipercerpat.. akhirnya kekuatan pertahananku ambrol.. saya orgasme berulang-ulang dalam waktu 10 detik.. Bondan rupanya juga sudah tidak mampu menahan lagi serangannya dia hanya diam sejenak untuk merasakan kenikmatan dipuncak-puncak orgasmenya dan beberapa detik kemudian mencabut batang penisnya dan tersemburlan muncratan-muncratan spermanya dengan banyaknya membanjiri wajah dan sebagian berlelehan di belahan payudaraku. Kamipun akhirnya tidur kelelahan setelah bergumul dalam panasnya birahi.

Keesokan paginya, Bondan mengantarku pulang ke rumah. Kulihat suamiku menerimaku dengan muka tertuduk dan berbicara sebentar sementara aku masuk ke kamar anakku untuk melihatnya setelah seharian tidak kuurus.

Setelah kejadian itu, aku dan suamiku sempat tidak berbicara satu sama-lain, sampai akhirnya aku luluh juga saat suamiku minta maaf atas kelakuannya yang menyebabkan masalah ini sampai terjadi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama, suamiku kembali terjebak dalam permainan judi. Sehingga secara tidak langsung akulah yang menjadi taruhan di meja judi. Jika menang suamiku akan memberikan oleh-oleh yang banyak kepada kami. Tetapi jika kalah aku harus rela melayani teman-teman suamiku yang menang judi. Sampai saat ini kejadian ini tetap masih berulang. Oh sampai kapankah penderitaan ini akan berakhir.

Pengalaman Pertama Menggenjoti Tante Ku yang Lonte.

Dimulai dari pengenalan terlebih dahulu, nama Bruno, kalau sekarang umur Ayu sudah 19th.Dirumah kami, tinggal beberapa orang yang berisikan, Ibu dan Ayah Ayu, Adik 2 orang, Tante Ayu (Adik dari ayah). Tante Ayu sudah menjanda lmyn lama, yaitu 4-5 tahun. Tetapi kejadian itu bermula ketika Ayu menduduki bangku SMA kelas 2. Oh iya, untuk bayangan para Semproters semua, Tante Ayu memiliki postur tubuh yang benar benar seperti pemain Film Porno luar negeri (Serius).

Saat kelas 2 SMA ABG sedang mencari jati dirinya, begitu pula Bruno. Hari Sabtu dan Minggu, keluarga Bruno selalu keluar kota untuk Refreshing ke Villa yg kami punya di daerah Kota Hujan. Saat itu Bruno sedang tidak ikut bersama mereka, dan dirumah hanya sisa Saya dan Tante. Mungkin karena Tante berfikir dirumah tidak ada orang, Tante mempraktikan senam di kamarnya yg tepat ada di depan tangga.

 Saat itu niatnya Saya ingin menonton TV di ruang TV yg berada dekat dari kamar Tante, saat menuruni tangga, ternyata Tante tidak menutup kamarnya. Dan apa yg Saya lihat ? Tante hanya menggunakan Bra+Celana Dalam saat melakukan senam. “Waaahhh, Rejeki di siang bolong” Kataku dalam hati. Lalu Saya tidak jadi turun tangga, dan duduk di tangga supaya dapat melihat tontonan ‘asyik’ ini.

Tante yg selama ini Saya idam idamkan, ternyata dalam kondisi setengah telanjang. Tante melakukan beberapa gerakan yg membuat si Otong semakin menegang. Saat itu Saya sambil melakukan onani dan menonton Tante yg sedang melakukan senam. Saya membayangkan betapa enaknya kalau si Otong dijepit oleh Buah Surga nya yg besar dan kencang itu, ketika berkhayal, “Aaaahhhhhhh” si Otong pun keluar. Sejak dari kejadian itu, hasrat Saya semakin bertambah untuk menyetubuhi Tanteku ini.

1 Minggu kemudian tepatnya hari Minggu keluargaku pergi lagi ke Kota Hujan, dan tebak apa? Yap, sisa Aku dan Tante dirumah. Saat itu Saya sengaja duduk di tangga sambil menunggu Tante senam. “Loh, tapi kok udah jam segini blm senam jg?”Kataku dalam hati.Saya coba cek sepatu&Sandal Tante, “Ah ada kok ini sandalnya tapi tunggu ada sepatu siapa ini?”. Saat hendak ke kamar yg berada di lantai 2, terdengar suara desahan “Sssshhhhh UUuhhhh” ternyata suara itu dari kamar Tante ! Dengan sedikit rasa takut, aku coba buka kamar Tante, dan setelah sedikit ternganga pintu kamar Tante……..

Benar saja ! Kudapati Tante sedang bermasturbasi, Tante memasukan 2 jari nya, dan memilin puting susu nya sambil mendesah ke enakan “Sssshhhhhhh sssshhhhhhh mmmmmhhhh” Aku hanya bisa menganga lebar melihat ini semua. Setelah beberapa saat, Tanteku seperti kejang dan mengeluarkan cairan dari Vagina nya dan ditambah dengan erangan yg hebat. “Aaaaaahhhhhh Ahhhhhhhh ” Ternyata Tanteku sudah orgasme, se selesai nya bermasturbasi, Tanteku masih memilin milin puting nya lalu setelah beberapa lama ia pun tertidur.

Saat Tante tertidur Kucoba beranikan diri, Aku masuk ke kamar Tanteku lalu Aku melakukan onani di depan wajahnya. Ya! Aku melakukannya, entah darimana Aku bisa mendapatkan keberanian sebesar itu. Selang beberapa menit, aku sudah ingin orgasme, Aku sempat mengeluarkan suara “Aaahhh” lalu badan Tante bergerak. Dalam fikirku “Jgn disudahi, sudah mau keluar” tetapi mata Tante lebih cepat terbuka, dan reaksi Tante seperti Kaget sangat tidak percaya keponakan kecilnya melakukan hal ini.

Tanteku berteriak dengan kencang…

Tante : Kamu ngapain Brunooo..!!!!!

Aku : Eeh, emmm..,, ini…, eee… (Tergagap gagap)

Tante : Ngpain kamu masuk ke kamar Tante Hah?!!

Aku : Tante tadi sempat berteriak, Brunoo kaget, saya kira Tante kenapa, tapi Tante lagi begitu begitu (Sedikit menangis)

Bruno termasuk anak yg polos, tp semenjak tau semprot jd ngerti *Kidding Brow*

Tante : Yaa tapi kamu harus ketuk pintu dahulu…

Nada Tante melembut, mungkin karena salah Tante juga yg tidak menutup pintu, dan Tante jg malu atas tindakan nya

Aku : Maafin aku Tante

Tante : Iyaudah gpp, lain kali jgn bgitu. Kamu kan tau, Tante sudah ditinggal sama Om Bram sangat lama, jadi ini hal yg wajar Noo wanita.

Aku : Iya tan….

Tante : Tuh kan si ‘Nono Kecil’ tegang ngeliat Tante masaa… (Sambil cubit2 pipiku)

Kamu penasaran yaaa??

Aku : Emmm sdkit penasaran sama hal yg kyk gini Tan…

Tante : Blm pernah kamu emangnya? Sama pacar atau temen?

Aku: Belum Tan, Nunu takut

Tante : Sini duduk Tante ajarin….

Aku pun duduk di kasur Tante, dan Tante berlutut di hadapanku. Yg terjadi selanjutnya, Tante menjilati Penis ku!! “Mmmmhhhh mmmmhhh ” Suara yg dikeluarkan Tante membuat diriku semakin bergairah….

Saat Tante mulai menjilati Penis ku, Aku hanya bisa memejamkan mata dan berkata “Aaahh Apa ini benar terjadi” Perasaan senang karena Tante yg selama ini aku idam-idam kan melakukan hal ini denganku. Saat memejamkan mata aku sudah tidak tahan ingin mengeluarkan Sperma, Tante pun berbicara “Hmmm mau kluar yaa? Dasar Perjaka” Gurau Tante. Dan Aaaaahhhhh aaahhhhhh Croooootttt , semua sperma pun keluar bercucuran di wajah Tante, Tante terlihat begitu senang sambil memainkan sperma yg baru keluar tadi.

Tante : Uuuuhh banyak bangeett sihh keluarnyaa (sambil menjilat sperma yg ada di wajahnya)

Aku : Ma…Ma..Maaf Tan, jadi berantakan…

Tante : Knapa minta maaf ? Tante seneng bgt lagih. Tuh Nono kecil nya aja masih bangun, berarti mau lagi

Aku hanya bisa tersipu malu karena Penis ku yg masih menegang.

“Yuukkk Sini” Kata Tante sambil menarik penisku ke arah Vagina nya. Aku hanya bisa terdiam dan masih tidak percaya ini terjadi. Saat itu Tante memasukkan Penisku kedalam vagina nya, rasannya Hangat sekali, seperti di sedot, dan Bleesssss seluruh penisku masuk. Tante bergumam “Eeeemmmhhhh, gerakin Nu..” Minta nya secara manja, lalu aku mulai menggerakkan badanku maju dan mundur.

Aku : Aaahhh Tann…..

Tante : Knapa sayang? Enak yaa? Uuuhhhhh

Aku : mmmmmhhhh Enak banget Tan…..

Tante : Lebih Cepat Nooo…

Aku pun mempercepat gerakan tadi, Aaahhhh rasanya begitu Nikmat, melihat wajah Tante ku begitu menikmati permainan ini.

Setelah 15 menit lebih Aku rasannya ingin Ejakulasi kembali.

Tante : Jangan keluar duluuu, tahan sedikit lagii… Mmmhhhhh mmmhhhhh

Aku : Uuuhhhh Iya Tan (Sambil meremas dada Tante yg bergoyang)

Sudah Tidak tertahankan lagi, lalu Aku merasa Tante buang air kecil, dan ternyata itu adalah saat Tante mengalami Orgasme. Kami berdua mengejang hebat, saling berteriak satu sama lain, “Aaaaaahhhhh Nunuuuu Aaaahhhh” Seru Tante. Aku pun sedikit berteriak keenakan “Taaannn aaahhhhh” Crrrooottttt Crooottttt.

Tanpa kusadari, aku mengeluarkan sperma di dalam vagina Tante. Aku pun terkejut, tetapi Tante mengatakan bahwa “Udah gpp kok didalam, Tante udah ga bisa hamil lagi karena pernah di operasi pengangkatan rahim”. Hufftttt sontak kata kata itu membuat batin ku menjadi lebih tenang.

“Nono, km kl mau lagi nanti bilang ke Tante aja ya sayang, ga boleh main ini sama Pacar atau Perempuan lain sebelum kamu nikah yaa…

Kalo kamu mau tinggal bilang ke Tante ya sayang, Tante gamau karena hal ini Nono jadi laki laki bandel nanti, Janji?” Ucap Tante.

“Iya Tan, Janji kok Nono jg mau nya sama Tante, kan sama Tante lebih enak hehehe ” Gurau ku kepada Tante

“Dasar deehh ponakan Tante tersayang, (Tante mengecup bibirku dengan mesra) Mmmwwahhh Gih mandi, nanti keburu mamah papah pada pulang loohh”Ucap Tante.

“Okedeh Tan… “Ucap ku

Aku tersenyum senyum bahagia sambil melangkahkan kaki ku ke kamar mandi, saat di kamar mandi pun, Aku masih tidak percaya bahwa hal ini benar terjadi.

Setelah kejadian saat itu hubunganku dan Tante ku mulai jadi lebih dekat, Aku sudah tidak canggung lagi untuk mengobrol dengan Tante ku. Terkadang Tante ku minta ditemani belanja ke mall, lalu kami menonton bioskop, dan makan di sebuah restoran. Kami seperti sepasang muda mudi yang dimabuk cinta, tetapi hubungan itu tentu saja kami rahasiakan ketika ada keluarga kami, tetangga, kolega, dsb. Selain sering mengunjungi Villa saat weekend, keluarga ku terkadang mengadakan ‘Long Trip’ seperti ke pulau Bali, Kota Palembang, Jogja, Raja Ampat, Mentawai, dan semacamnya. Saat itu Ayahku sempat mengajakku untuk pergi ke Bandung dan menginap untuk 3-4 hari, tetapi berhubung aku sedang ada UTS (Ujian Tengah Semester), jadi Aku tidak bisa ikut ke Kota yang di penuhi Gadis-gadis Cantik itu . Tante ku juga tidak ikut, dia tipe orang yang lebih suka bersantai dirumah, menghabiskan waktu untuk istirahat, yaa seperti itulah.

Tapi semua itu memiliki sisi baiknya, Aku dan Tante ku jadi bisa leluasa dirumah. Saat semua nya sudah berangkat pergi ke Bandung, Aku kembali ke kamar untuk bermain game online yang sedang aku gemari ‘L*st Sag*’ Haha, mungkin ada yang tau atau juga ada yang bermain dsini. Lalu saat sedang asyik bermain, Aku mendengar sedikit ada suara lagu lagu yang sedang diputar dan itu bukan berasal dari laptop ku. Aku pun menge cek ke lantai bawah, dan lagu itu diputar dari kamar Tante ku. Aku coba buka sedikit kamar nya karena penasaran untuk apa dia memutar lagu sekeras itu, saat sudah terbuka sedikit celah aku pun melihat lagi bahwa Tante ku sedang senam yg biasa ia lakukan setiap hari nya. Saat aku melihatnya, si Nunu kecil pun menjadi terbangun, betapa seksi dan menggairahkan gerakan gerakan yang Tante ku lakukan hanya dengan menggunakan Bra dan Celana Dalam nya. Hasrat ku pun tidak tertahan kan aku lalu masuk ke kamar Tante ku, Aku lalu memeluk Tante ku dari belakang.

Tante ku terlihat sedikit terkejut : Ada apa No?

Aku : Eeemm ini Tan..

Tante : Hayo kenapa..?

Aku : Ini Tan… Ee.. liat Tante senam, Nono jadi sedikit terangsang

Tante : Huuu, pantas pas meluk ada yang nyundul nih

Aku pun malu tetapi dengan perasaan yang gembira karena Tante mengerti apa yang aku inginkan, lalu aku pun menciumi bibir Tante ku yang menggairahkan. Kami berciuman tidak lama hanya beberapa detik karena sudah tidak tahan, aku menuntun tangan Tante ku untuk memegang si kecil. Tante ku sangat telaten dalam mengocok Penisku

Tante : Enak kan Nu?

Aku: Mmmhh Enak banget Tan..

Setelah beberapa lama Penisku di mainkan oleh Tante ku, lalu Tante ku mulai menjilati nya dengan penuh nafsu, “Aaahhh Hangat sekali Mulut Tante ” kata kata itu terlintas di pikiranku. Tante menyedot penisku dengan kencang sekali, “uuuhhh” Rasannya sudah tidak tahan dengan keahlian Tante ku ini. Tidak beberapa lama berselang,”MMMHHH TANTEEE” Aku mengeluarkan sperma ku di dalam mulut Tanteku. Aku kira sperma itu akan di ludahkan, tetapi tidak! Sperma ku ditelan semua oleh Tante. Setelah itu Tante masih menjilati Penis ku, dan Tante kembali mengemut penis ku. Aaaahhh Rasannya enak sekali, saat kami sedang asyik melakukan itu ada yang membunyikan bel rumah kami. Saat kulihat, ternyata itu hanya tukang cuci pakaian yang biasa mencuci pakaian kami. Jadi kami sudahi dulu permainan kami untuk saat itu…

Aku pun menonton TV dikamar, kalau menonton TV Aku tidak dapat diusik apalagi ketika menonton film kartun kartun kesukaan ku yang ada di channel Cartoon Network . Wah tanpa terasa jam menunjukkan sudah pukul 7 , aku masuk memutuskan untuk mandi karena sudah terasa tidak nyaman. Selesai mandi aku ke ruang pakaian untuk mengenakan pakaian ku, lalu setelahnya Aku pun kembali ke rutinitas ku untuk menonton TV di kamar. Saat aku membuka kamar, sudah ada Tante ku duduk di tepi kasur dengan menggunakan Lingerie berwarna hitam yang ia miliki. Aku pun merasa senang karena Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi kami mulai dengan berbincang bincang dan bercanda seperti sepasang kekasih yang dimabuk oleh asmara.

Tante : Seneng yaa lihat Tante ada di kamar kamu? Haha

Aku : Engga yee biasa aja

Tante : Ohh yaudah deh Tante pulang lagi ke alam nya

Aku : Dih masa cantik cantik ngambek

Tante : Tadi bilang Tante apa?

Aku : Cantik

Wajah kami berdekatan, lalu aku melumat bibir Tante ku dengan mesra sekali. “Mmmhhhh” itulah suara yang Tante keluarkan saat kami saling mencumbu bibir satu sama lain. Aku menindih tubuh Tante ku diatas kasur dan aku mulai meraba payudara Tante ku yang sangat kenyal itu, Tante ku hanya bisa bergumam “Mmmmhhh” lalu Aku pun menempelkan Penis ku ke bibir vagina Tante ku. Ooohhh hangat terasa di bibir vagina Tante ku, ku gerak gerakkan penisku di sekitar vagina Tante ku. Karena Tante sudah tidak tahan, tangan nya menuntuk Penis ku hingga masuk ke dalam vagina nya. “Uuuhhhh” Tante ku mulai merasa ke enakkan, dengan sedikit canda dia berkata “Kayaknya makin gede aja nih..? hehe” Aku hanya bisa tersenyum mendengar kata kata nakal yang keluar dari mulutnya. Aku mulai menggerakkan penisku..

Tante : Yang keras Noo…

Aku pun mempercepat gerakan Penisku, dan Tante semakin histeris

Tante : Aaaahhhh shit enakkkkk bangettt

Aku : Uuuuhhh Tantee

Tante : Enaakk sayang Enaakk

Tante sambil asyik memainkan buah dada nya yang begitu sempurna

Aku : Aaahhhhh

Tante : Tante mau diatas Noo.

Kami pun berganti posisi, aku merebahkan badan ku. Dengan cepat Tante ku langsung memasukkan lagi Penisku ke dalam vagina nya, “Ouuuhhhhh” Tante mulai menggoyangkan bokong nya dengan cepat.Setelah beberapa saat, Tante tiba tiba seperti kejang2 kecil lalu berteriak “Aaaaaaahhhh” cairan pun keluar dari vagina Tante ku. Tanpa beristirahat Tante ku terus melanjutkan, hingga beberapa saat Aku sudah tidak bisa menahan, rasannya sudah ingin keluar.

Aku : Nono mau keluar Tan…

Tante: Yaudah kluarin aja di dalam..

“Aaaaaahhhhhhh Taannn” Teriakku, saat merasakan nikmat yang sungguh luar biasa..

Setelah itu kami pun bersih bersih di kamar mandi, dan Tante tidur dikamar ku malam itu dengan sangat nyenyak….

Tetapi sangat disayangkan itu adalah kejadian terakhir bagiku, karena 1 minggu kemudian Tante ku tinggal bersama anak nya selama beberapa Tahun. Yang membuat kami terpisah antar pulau, dan setelah beberapa tahun itu Tante ku kembali singgah di rumah ku. Tetapi situasi kami sangat canggung, tidak pernah sapa satu sama lain, seperti sudah melupakan apa yang pernah terjadi sebelumnya Padahal aku sangat menginginkan itu kembali terjadi, tetapi tidak tahu bagaimana cara membuatnya agar semua itu dapat terulang. Kini Aku hanya dapat mengintip sesekali dari lubang yang kubuat ketika Tante ku melakukan senam.

Dokter Seksi Malu2 Ujung2 nya Keenakan Dientot.

Santi adalah seorang dokter yang mendapat tugas PTT di sebuah desa yang terletak di pedalaman propinsi Jambi. Setamat dari kedokteran ia harus bertugas sebagaimana sumpah saat ia diwisuda. Berbagai upaya dilakukan oleh orang tuanya, yang notabene pejabat teras suatu daerah, namun karena saat ini telah berubah dan adanya keputusan pemerintah maka tidak dapat ditunda dan dihindari.

Santi adalah seorang gadis yang berusia 24 tahun. Setiap ke kampus ia selalu menyetir sedan All Newnya sendiri. Ia berparas cantik dengan rambutnya sebahu dan berkulit putih bersih. Tingginya 165cm dengan pinggul yang berbentuk dan sepasang kaki yang panjang. Dadanya sesuai dan amat serasi dengan bobot tubuhnya yang 49 kg.

Dengan sosok secantik itu, tidak heran banyak teman pria di kampus maupun di luar kampusnya yang naksir namun hanya Ranto yang berkenan di hatinya. Ranto adalah tunangannya. Ranto adalah seorang putra pengusaha di kota itu dan sekarang bekerja pada sebuah BUMN di kota itu juga.

Hari pertama Santi di desa itu, cukup jauh perjalanan ia tempuh. Selain langkanya angkutan umum juga perlu ditempuh satu hari perjalanan darat dari kota Santi. Letaknya terisolir. Maklum Santi biasa di propinsi yang telah maju. Santi diantar oleh pegawai kecamatan dan juga diantar oleh sang pacar.

Sesampai di desa itu, Santi diperkenalkan dengan para pegawai klinik. Salah seorangnya bernama Yanti. Santi menetap di rumah kepala suku yang kebetulan memiliki dua buah rumah. Santi dikenalkan kepada Pak Rutan yang merangkap kepala dusun desa itu. Pak Rutan amat disegani dan ditakuti di desa itu. Jarak antar rumah di desa itu amat jarang. Mata pencaharian masyarakatnya adalah petani karet. Di rumah kayu Pak Rutan inilah Santi tinggal dan menetap selama ia bertugas.

Sebagai kepala suku, Pak Rutan bertanggung jawab terhadap keselamatan Santi. Pak Rutan adalah lelaki berumur 60 tahun. Ia penduduk asli dusun itu dan memiliki 3 orang istri. Masing-masing istrinya memiliki rumah sendiri, maklum Pak Rutan banyak memiliki tanaman karet.

Santi betugas bersama Yanti ke desadesa memberikan pelayanan kesehatan. Pak Rutan kadangkadang membantu Santi mengantar ke desa jika Yanti sedang tidak bisa. Dengan sepeda motor tuanya Pak Rutan memboncengkan Santi. Untuk tugas kedesa yang jauh Pak Rutanlah yang mengantar dan bertindak sebagai penunjuk jalan.

Suatu ketika Santi pernah diganggu oleh pemuda kampung sebelah. Maklum jalan desa itu hanya setapak dan hanya bisa dilalui sepeda motor, untunglah saat itu Pak Rutan muncul. Ia menantang pemuda itu duel. Karena keberanian dan keahliannya silat maka pemuda itu dapat ia kalahkan. Pemuda itu berjanji tak akan menganggu Santi bertugas lagi. Saat itu Santi amat cemas namun ia lega sebab Pak Rutan memiliki kewibawaan dan ilmu silat, ditunjang kokohnya badan Pak Rutan.

Karena seringnya Santi berboncengan dengan Pak Rutan, ditambah jalan yang tidak mulus dan setapak, tidak heran sesekali dada Santi bergeser pada punggung Rutan. Saat-saat itu selalu membuat desiran dalam dada Rutan. Selain Santi cantik, Pak Rutan merasakan kekenyalan dada Santi. Setiap saat ia bonceng selalu menggoda nafsunya. Santi merasa Pak Rutan adalah sosok yang amat ia segani dan ia merasa terlindungi.

Suatu senja setelah pulang dari tugasnya, Santi mandi dan kebetualn Pak Rutan singgah di rumah Santi. Saat itu Santi baru saja akan berjalan ke kamarnya dengan handuk masih di badannya. Pak Rutan melihat kemulusan bahu dan kulit betis Santi amat bersih dan menambah keinginannya untuk mendekati Santi.

Oooo Pak Rutan.. Ada apa, Pak? kata Santi.

Ndak, Bu Dokter. Saya cuma ingin mampir saja, jawab Rutan.

Duduk dulu, Pak.. Saya baru mandi, nihh Bentar ya, Pak? kata Santi.

Silahkan, Buk.

Sempat Pak Rutan melihat ke pinggul Santi. Oooohhhhh amat menggodanya. Ooo.. ia telan air liurnya.

Senja telah beranjak dan Santi pun keluar kamar dengan pakaian kaos longgar dan celana mini 3/4. selama ia mengantar Santi baru kali ini ia melihat kulit Santi yang putih dan mulus mulai dari bahunya. Santi selama bertugas selalu pakai celana jeans dan baju kemeja dokter jadi semua bentuk tubuhnya tertutup.

Lalu Pak Rutan berbincang-bincang dengan Santi. Karena hari mulai hujan dan angin pun bertiup kencang, maka mereka masuk ke rumah dalam. Santi pun tak lupa menyediakan makanan kecil dan minuman. karena telah akrab maka sesekali mereka ngomong kesana kemari dan kadang masalah seks. Bagi Santi amat lumrah, karena ia dokter dan Pak Rutan bukan orang lain baginya. Ia ladeni terus Pak Rutan berbicara.

Lalu Pak Rutan menggeser duduknya dan ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih dekat kepada Santi. Santi pun dengan antusias membiarkan Pak Rutan duduk di sampingnya.

Bu Dokter? kata Pak Rutan. Saya merasa Bu Dokter amat pintar. Apa ndak takut tinggal di rumah ini?

Ooo.. ndak, Pak kata Santi.

Oooo cincin Ibu amat bagus. Coba saya liat. kata Rutan sambil meraih tangan Santi.

Santi biarkan Rutan meraih tangannya. Namun Rutan bukannya melihat cincin namun meremas tangannya.

Santi kaget dan bertanya.

Jangan, Pak Malu saya. Masak Pak Rutan begitu? katanya.

Ooo.. maaf, Bu, kata Rutan.

Lalu Rutan kembali melihat cincin dan berkata.

Ibu cantik. Kalo saya punya istri seperti ibu ndak saya biarkan kemana-mana, kata Rutan.

Santi hanya senyum sambil memandang Pak Rutan.

Jangan lagi la, Pak. Masa sudah 3 ndak cukup-cukup? Apa bapak ndak repot harus menggilir dan membagi belanja? kata Santi.

Oooo.. tenang aja, Bu Saya sudah atur, koq, kata Rutan.

Lalu Rutan melingkarkan tangannya ke bahu Santi. Santi pun melepaskan tangan Rutan itu. Rutan pun maklum, lalu ia dekatkan mulutnya dan ia tiupkan nafasnya ke tengkuk Santi yang di tumbuhi rambut halus sebab saat itu Santi mengikat rambutnya.

Santi bergidik. Ia merasa khawatir dengan sikap orang ini. ia kenal baik dan orang ini seperti ingin sesuatu darinya.

Lalu Santi menjauh. Ia berpikir kalau Ranto pacarnya, yang juga tunangannya, belum pernah berbuat seperti ini. Mereka pacaran pun biasa saja paling hanya cium pipi dan pegang tangan. Naluri wanitanya bangkit, namun menghadapi orang tua seperti Rutan ia harus bijaksana.

Rutan pun lalu terus mendekat kearah Santi, sambil berkata.

Buuuu Saya merasa suka dengan Ibu.

Santi hanya diam.

Lalu Rutan kembali meraih tangannya dan menarik Santi ke pelukannya. Santi ingin berontak namun ia segan dan merasa serba salah. Ia biarkan Rutan memeluknya dan Rutan pun membelai rambut serta memainkan rambutnya dari balik telinga Santi.

Karena suasana mendukung dan di rumah itu tiada cahaya listrik, ditambah hari hujan maka Santi pun terbawa hanyut dalam pelukan Rutan yang seusia dengan ayahnya.

Merasa mendapat kesempatan, Rutan tidak menyianyiakannya. Ia cium bibir Santi. Sebagai laki-laki berumur, ia amat berpengalaman dalam soal menaklukan wanita, apalagi wanita seperti Santi yang masih mentah dan belum berpengalaman.

Santi terbawa arus gairahnya, sebab Ranto belum pernah seperti itu terhadapnya. Dengan keliaran tangan Pak Rutan, jari Rutan berpindah kedalam blus yang dikenakan Santi. Lalu ia pilin bukit kembar itu.

Santi terhengak. Badannya panas dingin merasakan sensasi itu. Sementara mulut Pak Rutan terus menempel di bibir Santi dan turun ke leher jenjangnya. Meskipun hari hujan dengan derasnya di luar namun badan Santi mengeluarkan keringat.

Lalu Pak Rutan menghentikan aksinya dan terlihat wajah Santi memerah menahan gejolak nafsu sekaligus juga perasaan malu. Ia tahu Santi ingin permainan dilanjutkan namun Rutan ingin sesuatunya aman.

Ia angkat Santi ke kamar yang cukup bersih di rumah kayu itu. Di dalam kamar itu Rutan membaringkan Santi lalu ia berjalan ke luar untuk mengunci pintu rumah serta pintu kamar dari dalam. Santi tergolek di ranjang besi model tempo dulu yang ada di kamar itu sambil menunggu Pak Rutan kembali.

Lalu Pak Rutan kembali memulai aksinya dengan membuka kancing baju Santi. Baju itu ia lepaskan dan terbukalah tubuh bagian atas Santi. Santi hanya mendesis dan memicingkan matanya. Ia merasa malu dan jengah. Setelah baju itu terbuka, terpampanglah sepasang dada putih mulus tertutup BH bermerk Wacoal. Santi memang anak orang kaya yang amat memperhatikan pakaian dalamnya.

Pak Rutan lalu bergerak kebelakang tubuh Santi dan menciumi tengkuk yang ditumbuhi rambut halus itu, lalu turun ke bahu dan leher Santi. Santi hanya merem melek merasakan rangsangan yang mulai naik keubun-ubunnya.

Lalu tangan Rutan yang telah keriput itu, membuka pengait BH berwarna pink itu sehingga terlihatlah dua bukit salju yang puncaknya kemerahan. Pak Rutan yang melihat itu, tau bahwa puting dada Santi belum terjamah tangan laki-laki. Ia tau bahwa ada hentakan dari tubuh Santi saat ia putar puting dada saat itu. Putingnya pun masih kecil dan dengan bernafsu Pak Rutan lalu meremas dan memilin kedua bukit kembar yang ukurannya segenggam tangannya.

Santi hanya melenguh dan keringat mulai membasahi tubuhnya yang putih mulus itu. Kepalanya bergerak ke kiri ke kanan menahan geli dan nafsu. Dengan mulutnya Pak Rutan lalu menjilat puting dada Santi lalu menggigitnya dengan penuh perasaan, membuat dada yang putih itu menjadi merah dan lalu jilatan Pak Rutan turun ke arah perut Santi.

Langkahnya terhalang oleh celana Santi. Dengan tangannya, Pak Rutan menurunkan celana 3/4 itu ke lutut Santi dan lalu ia masuki goa vagina Santi dengan jari tangannya. Di sana ia menemukan hutan yang perawan dan terlindung, lalu ia menemukan goa yang mulai basah. Jari tangan Rutan memasuki goa terlarang itu dan memilin daging kecil yang ada di sela dinding goa Santi.

Santi terperanjat. Buru-buru ia tarik tangan pak Rutan.

Jangan, Pak. Sudahlah Pakk Yang itu jangan mohon saya, Pak.. pinta Santi kepada Pak Rutan.

Itu bukan buat Bapak cukup, Pak? Saya akan menikah 3 bulan lagi, kata Santi.

Pak Rutan menghentikan aksinya. Dengan wajah menahan nafsu, ia pandangi Santi. Ia tahu juga bahwa Santi pun sedang menikmati aksinya tadi. Ada bayangan kecewa dari mata Santi, namun Pak Rutan mengerti, bahwa memang sebagai seorang perawan Santi adalah seorang gadis baik-baik. Wajarlah kalau keperawanannya ingin ia persembahkan kepada suaminya kelak yaitu Ranto.

Bapak kan sudah mendapatkan apa yang Bapak inginkan. Maaf, Pak Mungkin bapak kecewa kata Santi.

Pak.. sampai saat ini pun Bang Ranto, calon suami saya, belum pernah mencium bibir apalagi sampai telanjang seperti ini.. Hanya Bapaklah yang mampu membuat saya bisa sampai seperti saat ini. Maafkan saya pak.

Pak Rutan diam, ia merasa Santi benar, namun ia ingin sekali menuntaskan gelora birahinya Maka sekali lagi ia peluk Santi yang saat itu bertelanjang dada.

Lalu Pak Rutan meraih bibir Santi dan menciuminya Santi diam saja. Ia tahu Pak Rutan pasti kecewa, ia biarkan saya Pak Rutan kembali bertindak seperti tadi.

Lalu lidah Pak Rutan kembali bermain di rongga mulut Santi dan tangannya meraih dada Santi. Santi membiarkannya. Ia tidak ingin mengecewakan orang tua itu. Lalu aksi Pak Rutan kembali mulai dengan memilin buah dada Santi hingga Santi mau tidak mau bangkit nafsunya. Rutan ingin sekali merenggut kegadisan dokter cantik ini, apapun resikonya. Ia telah setengah jalan.

Lalu Santi kembali ia rebahkan ke kasur itu. Pak Rutan pun membuka busananya. Lalu ia buka kemejanya juga celana panjangnya sehingga Rutan hanya memakai celana dalam saja. Dada Rutan penuh bulu dan wajah Rutan yang keras itu menampakan keinginan yang besar untuk memerawani Santi. Belum pernah ia ditolak oleh wanita. Santi anak kemarin sore harus takluk kepadanya. Itulah prinsipnya.

Lalu ia buka celana 3/4 Santi sampai terlihat CD hijau muda bermerk sama dengan BHnya. Masih terpasang CD itu, jari Pak Rutan meletakkan jari tangannya di belahan bibir vagina Santi. lalu dari samping CD itu ia masuki goa itu dengan jarinya.

Santi berkali kali merasa lonjakan pada dirinya tanda nafsunya menaik. Pak Rutan tahu, Santi mulai tak sadar akan tindakannya. Lalu CD itu ia turunkan dari selangkangan Santi.

Dengan sebelah tangannya, Rutan membelai bibir vagina dan memainkan klitoris Santi. Santi histeris. Lalu kepala Pak Rutan turun diantara paha Santi dan menjilat kelintit yang telah memerah itu. Inilah yang membuat Santi terpejam matanya dan kakinya menghentak hentak kegelian.

Ada sedikit malu pada dirinya saat itu. Namun rasa itu hilang dengan gelora birahinya. Pak Rutan tahu itulah saat-saat seorang gadis ingin merasakan sorga dunia. Pengalamannya telah biasa seperti itu.

Tidak berapa lama kemudian Santi memuncratkan air maninya keluar sedangkan saat itu lidah Pak Rutan sedang ada di bibir vaginanya. Santi orgasme dan lemaslah seluruh tubuhnya.

Lalu Pak Rutan kembali memilin dada dan bibir vagina Santi. Santipun tidak mengerti ia hanya pasrah padahal saat itu ia telah melarang Pak Rutan menjamah kemaluannya.

Setelah yakin Santi mulai naik nafsunya, Pak Rutan melihat Santi terpejam dan kakinya menghentakhentak, maka ia buka CDnya, sehingga tersembullah sebatang kontol Pak Rutan yang meskipun tampak hitam namun telah 3 orang wanita ia perawani. Penis Pak Rutan tegak perkasa ingin memasuki goa terlarang milik Santi.

Santi merinding melihat panjang dan besarnya penis Pak Rutan yang tegak saat itu. Seumurnya baru kali ini ia melihat yang sebesar itu. Saat ia kuliah dulu ia hanya melihat vital pria yang telah mati dan tidak membuatnya takut.

Perlahan tangan Pak Rutan membuka paha Santi namun Santi merapatkan pahanya. Sebagai perawan ia merasa harus mempertahankannya. Berulangulang Pak Rutan berusaha membuka paha Santi. Ia ciumi betis dan jari Santi. Itu pernah ia lakukan saat ia melakukan hubungan seks dengan istrinya saat malam pertama dulu. Ia tahu Santi akan menyerah.

Memang tindakannya itu membuat kedua paha Santi terkuak dan terbuka sehingga tampaklah lobang yang basah dan rapat.

Tangan Pak Rutan mengelus elus paha yang putih itu dengan hati-hati. setelah paha Santi sempurna terbuka lalu ia angkat kedua kaki Santi ke bahunya. Lalu ia ganjal pinggul Santi dengan bantal. Ia berharap penisnya akan lancar saja masuk ke vagina Santi. setelah itu, ia arahkan kepala penisnya.

Santi memejamkan matanya, tidak berani menatap aksi Pak Rutan. Berulang-ulang Rutan mencoba namun terus gagal. Santi pun telah bersimbah keringat sehingga kulitnya jadi mengkilat, ditindih tubuh hitam yang juga berkeringat.

Lalu Pak Rutan membuka kaki Santi agak melebar dan paslah kepala penisnya memasuki dinding perawan itu. Lalu ia raih tangan Santi dan ia pegang keduanya sedang kontolnya telah mulai masuk.

Aduhhhhhh.. Saaaakitttt, sakitttt pakkkk jerit Santi.

Rutan menghentikan goyangannya Ia sadar itulah saat selaput dara Santi robek dan ia lalu perlahan mendorongkan masuk seluruhnya

Aduuuukhhhhhhhhh. Ugghhhhhh. Ampun, Pak. jerit Santi.

Lalu Pak Rutan mengulum bibir Santi dengan mulutnya sehingga jeritan Santi tidak membuat pecah konsentrasinya. titik air mata menetes di mata Santi Ia menangisi. telah tidak gadis lagi dan kegadisannya direnggut orang lain. Bukan pacarnya.

Lalu air mata Santi telah bercampur dengan keringat pada wajah dan badannya. Sedang saat itu di luar rumah sedang hujan deras seakan tidak mau kalah dengan kedua makhluk dalam kamar itu.

Berkalikali Rutan memajumundurkan penisnya keluar masuk lobang yang masih perawan itu. Hal biasa baginya seorang gadis menangisi saat ia diperawani. Memang awalnya sakit namun setelah agak lama hubungan kelamin itu semakin nikmat rasanya. Itu dirasakan Santi. Ia memang masih mentah dalam hubungan seks. Ia pun menuruti gerakan Rutan.

Lalu setelah beberapa menit kemudian Rutan memuntahkan spermanya di dalam vagina Santi. Santi pun dari tadi telah beberapa kali orgasme. Lalu Pak Rutan menghentikan gerakannya dan tetap membiarkan penisnya tertanam di dalam lobang kemaluan Santi. Ia tertidur. Santi pun merasa letih dan nyilu pada selangkangannya.

Malam itu Pak Rutan melihat adanya noda darah pada paha dan seprei yang telah kusut karena permaianannya tadi. Menjelang subuh Pak Rutan kembali mengulang permainan ranjang itu. Santi pun seolah mulai mengerti dan tau caranya.

Malam itu sempat terjadi 3 kali permainan habishabisan. Seolah dunia milik mereka. Sedang Santi mulai lupa dengan Ranto.

Santi terjebak oleh nafsu Rutan dan iapun setia melayani Rutan, baik saat bertugas atau sedang libur.

Rutan pun berkeinginan menjadikan Santi sebagai istrinya. inilah yang membuat Santi sedih, orangtuanya pasti marah dan Ranto akan memusuhinya. Namun akhirnya ia bertekad akan membatalkan pertunangan dengan Ranto. Ia pun ingin hidup di dusun itu dengan Rutan yang ia rasakan amat perkasa. Sebab bagaimanapun bagi Santi, kegadisannya telah direnggut Pak Rutan maka Pak Rutanlah yang bertanggung jawab.

Santi setiap bulan masih selalu pulang ke rumah orang tuanya di kota. Setelah kembali dari kota, ia telah ditunggu oleh Pak Rutan yang akan memberinya sejuta kenikmatan ranjang.

Meskipun umurnya telah tua, Rutan selalu memiliki stamina yang yahut dalam hubungan seks. Sebagai seorang kepala suku di pedalaman itu, ia mengetahui resep untuk tetap kuat.

Santi pun dengan rela meninggalkan kemewahan yang ia miliki dengan kekasih dan orang tuanya dan memlih hidup dengan Rutan di desa itu yang masih terbelakang.