Kucolok Memek Sempit Pacar Sahabat Ku Sendiri.

Sebut saja nama saya Andrean. Sdh menikah dan punya 1 orang anak. Saya tinggal diwilayah yg masuk sebagai wilayah Bogor tp saya bekerja di Jakarta. Sebelum saya menceritakan pengalaman-pengalaman yg pernah saya alami, saya minta maaf kalau cara saya bercerita tdk begitu bagus karena saya memang bukan penulis.

ini berawal ketika saya kuliah di Bandung dan jauh dari orangtua. Karena jauh dari orang tua maka saya berpikir inilah kesempatan bagi saya untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru terutama tentu saja soal seks. Dari info-info yg saya terima dari teman-teman yg berpengalaman, saya tau banyak hal-hal yg berkaitan dgn sex.

Penyewaan LD porno ( waktu itu belum ada VCD hihihihihihi ), majalah, stensilan, tempat perempuan yg bisa diajak gituan, tempat jual obat kuat, obat tidur, alat kontrasepsi ( kalo ini mah dimana-mana sdh banyak ). Kalo soal gaya dan posisi-posisi sex itu sih belajarnya dari film bokep.

Saya sendiri masih perjaka ting ting saat itu dan sdh sangat ingin melepaskan keperjakaan saya ( hehehe… ). Sayangnya setelah kuliah 1 semester, saya belum dapat pacar jg. Maklum kampus saya adalah kampus teknik ternama yg 90% isinya cowok jadi ya persaingannya ketat.

Saya sendiri bukan termasuk cowok yg beruntung alias gak kebagian cewek sekampus bahkan ya itu tadi tdk punya pacar. Padahal saya udah dapat banyak “ilmu” dari teman-teman saya terutama dari Ridwan , teman kosku yg sdh ambil tugas akhir. Dia kuliahnya beda jurusan tp masih sekampus. Saya bahkan sdh diajari olehnya bagaimana cara bisa berhubungan seks dgn pacar kita tanpa memaksanya meski awalnya dia tdk mau.

Ajaran itu tdk ajaib-ajaib amat karena modalnya cuma obat tidur atau obat perangsang tergantung situasinya. Trik yg berbahaya memang tp kagak bisa jg dipraktekin jg ( karena kejombloanku itu ). Namun akhirnya berkat trik itu, aku memang bisa melepaskan kerperjakaanku tp rupanya trik itu menjadi senjata makan tuan.

Berkat trik dari Ridwan itu aku berhasil menyetubuhi Intan, pacar Ridwan sendiri, dan sampai kini Ridwan tdk mengetahuinya. Itupun bukan aku yg melakukan trik tersebut tp Kamil, anak kost satu lagi teman kita berdua, dan aku cuma kecipratan “getah” enaknya saja.

Ceritanya Ridwan itu doyan gonta-ganti pacar dan sepertinya setiap pacarnya pasti pernah dia setubuhi. Di tahun terakhir kuliahnya dia punya pacar serius, namanya Intan. Dibilannya serius karena kata Ridwan dgn Intaninilah dia ingin menikah. Di mata Ridwan , Intanadalah cewek yg sempurna. Kalau dari segi fisik, Intan memang seksi, cantik, putih dan montok. Buah dadanya lumayan menantang dgn pinggul dan perut yg ramping. Rambut panjang dgn wajah yg menawan.

Intan sering berkunjung ke kamar kost Ridwan . Entah datang sendiri atau datang bersama Ridwan . Mungkin Ridwan menjemputnya terlebih dahulu karena Intan kuliah di universitas yg berbeda. Rasanya setiap kali Intan datang berkunjung, mereka selalu “main” dalam kamar Ridwan . Itu ditandai dari suara rintihan Intan yg sering terdengar ketika sedang disetubuhi oleh Ridwan . Meski setiap kamar kost di rumah itu cukup besar tp tetap saja ada suara yg terdengar ketika mereka sedang bersetubuh.

Malah terkadang ada suara jeritan dari Intan ketika dia mencapai puncak kenikmatannya. Biasanya setelah itu kegaduhan mereka berakhir dan itu artinya mereka telah selesai atau telah tertidur. Tp jika Ridwan hasratnya sedang menggebu-gebu maka dia akan menyetubuhi Intan terus menerus seperti kuda liar sepanjang siang atau sepanjang malam tergantung waktu kedatangan Intan. Ini ditandai dgn suara rintihan Intan yg terjadi berulang-ulang dan terus menerus dari arah kamar Ridwan .

Tdk jarang Intan sampai bermalam di kamar Ridwan meski tdk pernah sampai berhari-hari. Demikianlah, Ridwan si raja sesat, begitu kami menyebutnya dan kegiatan birahinya dgn Intan. Kami dan anak kost yg lain hanya bisa maklum dan mencemburui “keberuntungan” Ridwan .

Oh ya di rumah itu hanya ada 3 kamar kost yg diisi oleh Ridwan , Kamil dan aku. Kamil jg sdh punya pacar tp pacarnya itu sangat alim sehingga menolak melakukan hal-hal yg “aneh-aneh”. Tp Kamil jg sdh tdk perjaka. Dia melakukan seks pertama kali sejak SMA dan di tahun-tahun awal kuliah pun dia punya pacar di kota asalnya Jakarta dimana mereka selalu bercinta setiap kali bertemu.

Hubungan mereka akhirnya kandas setelah pacarnya itu selingkuh dan punya cowok lain. Kamil jg berasal dari kampus yg sama dgn kami dan dia setahun belakangan masuk kuliahnya dari Ridwan . Jadi mereka berdua adalah seniorku meski dua-duanya beda jurusan dari aku. Baik Ridwan , Intan, dan Kamil ketiganya berasal dari Jakarta.

Hari itu Ridwan mengerjakan tugasnya di kampus sampai malam sedang aku dan Kamil asik mengobrol saja di depan kamar masing-masing. Pukul 8 malam, Intan datang dan menyapa kami. Kamil mengatakan bahwa Ridwan masih di kampus dan kemungkinan akan pulang tengah malam. Mendengar itu Intan mengatakan akan menunggu di kamar Ridwan saja. Mungkin Ridwan belum memberitahunya sehingga Intan datang “terlalu cepat”.

Jaman itu komunikasi belum selancar sekarang karena belum jamannya smartphone seperti sekarang. Intan pun masuk ke dalam kamar Ridwan dan menunggu pacarnya itu pulang. Intan memang punya kunci cadangan Ridwan sehingga leluasa keluar-masuk kamarnya. Dan itu sering dilakukannya apalagi saat-saat itu ketika Ridwan sibuk mengerjakan proyek tugas akhirnya di kampus.

Hal ini sebenarnya tdk dibolehkan oleh ibu kost kami tp ibu kost kami tdk mengetahuinya. Ibu kost sebenarnya melarang kami membawa tamu perempuan tp dia tdk pernah mengontrol kegiatan kami di kamar masing-masing. Ketiga kamar kost kami ada diatas dan memiliki pintu belakang yg tdk bisa dilihat dari arah rumah utama dimana keluarga ibu kost tinggal.

Sejam kemudian, pukul 9 malam, aku dan Kamil masuk kamar masing-masing dan melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. Sekitar pukul 10 malam aku turun kebawah maksudnya ingin mengambil air panas untuk membuat susu. Ketika aku di dapur aku mendengar ibu dan bapak kost sedang ada tamu. Aku bisa mendengar percakapan mereka. Dari pembicaraan yg kudengar sepertinya tamu tersebut adalah bapak dan ibunya Ridwan . Wah gimana ini, pikirku. Mereka pasti akan naik ke kamar Ridwan dan kalau sampai memergoki Intan didalamnya, bisa gawat urusannya.

Aku tdk jadi mengambil air panas dan segera keatas dan berpikir untuk memberitahu Kamil. Biar dia yg memberitahu Intan karena dia lebih senior dari aku dan dia yg lebih mengenal Ridwan serta Intan. Aku mengetuk kamar Kamil dan begitu dia membuka pintu aku segera memberitahu situasinya. Dia berpikir sebentar. Kemudian dia bukannya keluar untuk memberitahu Intan, malah masuk kembali ke kamarnya.

“Tunggu sebentar”, katanya.

“Wah, gimana sih, kok malah masuk lagi”, kataku.

“Sebentar Ri”, katanya lagi dari dalam kamarnya.

Rasanya agak lama jg aku menunggu sampai akhirnya dia keluar sambil nyengir.

“Ngapain bos?”, tanyaku.

“Ah enggak ga apa-apa”, jawabnya.

Kita ke kamar Ridwan lalu Kamil pun mengetuknya. Tdk langsung dibuka sehingga Kamil harus mengetuknya lagi. Sementara itu di ujung bawah tangga sdh terdengar suara percakapan. Dari suaranya, aku segera tahu bahwa itu adalah suara bapak-ibunya Ridwan dan bapak kost kami. Gawat, ini benar-benar gawat. Aku dan Kamil saling berpandang-pandangan dgn panik.

“Ri, do something, lo kesana cegat mereka!”, kata Kamil.

“Trus ngapain?”, tanyaku kebingungan.

“Ngapain kek, ajak ngobrol kek, yg penting mereka jangan naik dulu. Udah kesono cepetan”, perintahnya.

Maka akupun berlari turun berpura-pura mau mengambil air panas dan dibawah diujung tangga aku bertemu mereka. Aku memang berhasil menahan mereka beberapa saat. Aku beritahu bahwa Ridwan masih di kampus mengerjakan tugas sehingga bapak kost terpaksa balik ke depan untuk mengambil kunci cadangan. Sambil menunggu bapak kost, aku bercerita bahwa Ridwan sedang sibuk karena tugas akhir yg dikerjakannya.

Setelah bapak kost kembali dgn kunci cadangan, aku tdk bisa menahan mereka lebih lama karena mereka memang ingin segera naik. Aku jg tdk ingin menimbulkan kecurigaan dgn menghalang-halangi mereka naik. Di bawah segera setelah aku mengisi termos kecilku akupun naik kembali ke atas. Di atas aku lihat bapak kost baru saja membuka pintu kamar Ridwan dan menyilahkan kedua orang tua Ridwan untuk masuk.

“Hufff….syukurlah”, pikirku,

“situasinya sdh terselamatkan. Hampir saja”.

“Eh tp kemana mba Intan nya?”. Tdk mungkin dia keluar lewat pintu belakang karena aku tdk mendengar suara pintu belakang dibuka. Apalagi pintu belakang sdh digrendel.

Setiap jam 9 malam, pintu belakang pasti di grendel sama orang rumah. Disamping itu dari arah ujung tangga bawah siapapun yg keluar masuk lewat pintu belakang pasti akan terlihat oleh orang tua Ridwan dan bapak kost. Jadi kemana mba Intanya?. Pintu kamar Ridwan telah ditutup dan aku mendengar suara orangtua Ridwan yg entah mengomentari apa dalam kamar anak mereka. Aku jg tdk melihat Kamil. Apa mba Intan ngumpet di kamar Kamil? Yah pasti begitu, pikirku.

Cuma itu kemungkinan yg paling baik dan paling masuk akal. Begitulah analisaku. Aku segera menemukan jawabannya karena Kamil keluar dari kamarnya menemuiku yg masih sibuk mengamati keadaan. Dia merangkulku dan membawaku agak menjauh. Dia berbicara padaku dgn suara pelan nyaris berbisik.

“Ri, lo jangan bilang Ridwan ya kalo Intan kesini malam ini?”, katanya.

“Loh, kenapa?”, tanyaku heran.

“Pokoknya jangan deh”, katanya lagi tersenyum nakal.

“Iya tp kenapa? Emangnya ada apa?”, tanyaku lagi masih tdk mengerti.

“Gini aja deh. Lo jangan bilang Ridwan dan gue janji 1 atau 2 jam lagi lo akan dapat kejutan istimewa”.

“Kejutan apaan sih? Gak ngerti ah!”, kataku lagi.

Dalam hati rasanya aku mulai mengerti akan rencana “busuk” Kamil tp aku masih belum yakin. Apakah dia akan…..? Ah tdk, tdk mungkin. Kamil dan Ridwan berteman baik, tdk mungkin Kamil sampai tega melakukannya. Tp kalau soal urusan nafsu, siapa yg tahu. Ah sdhlah aku ikuti saja kemauan Kamil dan menunggu perkembangannya.

Kami berdua masuk kamar dan sebelum masuk kamar Kamil mengedipkan matanya padaku. Aku menunggu dgn berdebar-debar dalam kamar. Apakah mereka akan melakukannya? Apakah Intan mau mengkhianati Ridwan ? Semudah itu? Dan bagaimana caranya? Lalu setelah mereka selesai maka benarkah setelah itu giliranku agar aku tutup mulut. Begitukah? Wah…kalau benar begitu maka inilah malam dimana aku kehilangan keperjakaanku. Bagaimana kalau sampai Ridwan tahu? Pikiran-pikiran itu memenuhi otakku sambil menunggu dgn harap-harap horny.

Hehehehe… Tdk sampai 1 jam rasanya aku mendengar suara-suara “aneh” dari kamar Kamil. Suaranya seperti suara rintihan yg teredam. Aku mendengar terus dgn seksama. Yak, aku yakin itu suara Intan dan sepertinya Kamil sdh berhasil menyetubuhinya. Aku mengenal dgn baik suara rintihan Intan jika sedang disetubuhi oleh Ridwan .

Tp kali ini bukan Ridwan yg melakukannya tp teman baiknya, Kamil. Dan aku terlibat dalam persekongkolan itu. Ada rasa bersalah terhadap Ridwan tp nafsuku lebih menguasaiku. Ini jg sebagai pelajaran bagi Ridwan yg suka memamerkan pacarnya sama kami. Lagian kan dia jg yg mengajarkan sama kita bagaimana cara mendapatkan cewek hingga menidurinya. Duh, aku tdk sabar menunggu giliranku.

Sdh 15 menit sejak aku mendengar suara rintihan Intan dan sepertinya suara rintihan itu sdh hilang. Apakah mereka sdh selesai? Bagaimana kalau mereka tertidur? Wah…bisa-bisa aku gak “kebagian”. Karena mendapat pikiran seperti itu, aku segera bangkit dan keluar kamarku. Aku mengetuk kamar Kamil dgn pelan. Tak lama aku dengar suara Kamil dari dalam kamarnya.

“Siapa?”, tanyanya pelan.

“Gue, Ridwan”, jawabku jg dgn pelan.

Dia membuka pintunya sedikit dan aku lihat wajahnya yg meski agak memerah tp tersenyum sumringah.

“Udah gak sabaran lu ye?”, katanya sambil membuka pintu lebar menyilahkan aku masuk.

Ternyata Kamil bertelanjang bulat dan tdk mengenakan apapun di tubuhnya. Badannya penuh keringat dan penisnya masih basah yg meski sdh agak melemas tp masih terlihat tegang. Namun yg paling menarik perhatianku adalah pemandangan yg tersaji di atas ranjang Kamil. Seorang mahluk cantik yg sangat seksi bertelanjang bulat dgn tubuh putihnya nan indah penuh dgn keringat yg memantulkan cahaya kamar sehingga memperlihatkan erotisme yg luar biasa.

Tubuh indah itu pasti mengundang birahi setiap lelaki normal yg memandangnya. Intan tersenyum agak malu melihatku. Dia merubah posisinya yg tadinya telentang lalu kemudian melipat kakinya menutup memeknya. Dia jg berusaha menutup payudaranya dgn tangannya. Aku masih terdiam dan melongo. Beberapa kali aku menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhnya. Tingkahku itu mungkin membuat Intanmenjadi grogi.

“Hey…kenapa bengong? Baru pertama lihat cewek telanjang ya?”, katanya lagi sambil cekikikan.

Kamil kemudian mendorongku,

“Udah situ…ambil jatah lo, itu adik lo udah bangun tuh”. Kamil dan Intantertawa menyaksikan tonjolan dalam celana pendekku.

Penisku memang sdh berdiri sejak tadi dan membuat celana pendekku terlihat menonjol. Aku memang tdk mengenakan celana dalam dan hanya mengenakan celana pendek beserta kaos oblong. Kamil kemudian duduk di kursi dalam kamarnya. Akupun duduk di ranjang Kamil tdk tahu harus bagaimana. Intankemudian bangkit dari tempat tidur.

“Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Sperma Kamil banyak banget nih”, katanya.

Sewaktu Intan bangkit dan berjalan ke kamar mandi memang dari dalam memek Intan mengalir turun ke pahanya yg putih mulus itu cairan putih kental. Memek Intan terlihat agak melebar dgn warna kemerahan. Kamil hanya tertawa kecil saja melihat hasil perbuatannya. Sewaktu Intan di kamar mandi, Kamil memberi tanda acungan jempol padaku. Entah apa maksudnya.

“Buka dong baju lo semua”, kata Kamil kemudian.

Akupun menelanjangi diriku. Aku tdk perduli lagi disitu ada Kamil. Begitu aku menarik turun celanaku, penisku melenting keatas. Hal itu dilihat oleh Intan yg sedang melap memeknya. Dia tertawa,

“Duh…udah langsung gede gitu ya?”, katanya.

Dgn tubuh indahnya yg telanjang, Intan mendekat kearahku. Saking tingginya hasratku, lututku sampai gemetar dan aku seperti menggigil kedinginan. Intan kemudian mengambil lotion ditasnya dan membalurkannya ke penisku yg sdh sangat keras. Rasanya nikmat penisku di gosok dgn tangan lentik Intanyg cantik itu.

“Mil…gemukan ini dari punya lo”, ujarnya sambil menatap Kamil. Kamil hanya tersenyum.

“Gitu ya?”, jawab Kamil.

“Kamu baring deh,” kata Intan kemudian.

Akupun baring di ranjang dan Intan kemudian mengambil posisi untuk memasukkan memeknya ke dalam penisku. Detik detik kehilangan keperjakaanku aku saksikan dgn seksama dan dalam kenikmatan yg senikmat-nikmatnya. Hehehehe…. Pelan-pelan dia menurunkan pantatnya yg montok itu dan memeknya pelan-pelan menelan penisku yg sdh berdiri dgn kerasnya. Aku melihat bagaimana bibir memek Intan membuka dan seolah menghisap penisku masuk ke dalamnya. Expressi Intan jg mengagumkan. Dia menggigit bibir bawahnya dan terlihat mengeden seperti orang sedang buang air besar. Tubuhnya sampai gemetar ketika melewati bagian tergemuk dari penisku.

“Ehhhhgggg….duh gemuk amat sih nih burung”, katanya sambil mendesah.

Setelah memeknya menelan habis penisku, dia berhenti sejenak mengambil nafas.

“Kamu udah gak perjaka sekarang”, katanya menggodaku.

“Iya mba, makasih ya”, jawabku sambil mencium bibirnya.

Dia pun mulai menggoyang pantatnya naik turun. Uuuuuggghhhh….nikmat benarrr.. Jadi ini yg disebut kenikmatan seks. Jauh lebih enak dari masturbasi. Pantesan banyak orang yg ketagihan. Apalagi Intan sangat piawai menggoyang pantatnya. Kadang di maju mundurin. Kadang diputer kaya nguleg sambel. Tentu saja tanpa melupakan gerakan naik turunnya yg erotis itu. Payudaranya ikut berayun mengikuti irama goyangannya. Secara insting, aku pun mencoba menghisap dan merangsangnya di payudaranya. Ternyata Intan sangat suka. Goyangannya kini ditambah dgn erangannya yg sangat merangsang itu. Rintihan Intan yg selama ini aku dengar sayup-sayup saja, kini aku dengar dgn sangat jelas di telingaku.

“Gimana rasanya?”,tanya Intandisela-sela goyangannya.

“Enak mba…enak banget”, jawabku.

“Kalau mau keluar bilang ya sayang”, katanya tersenyum.

Uh cantik benar dia. Cantiknya beda dari biasanya. Cantik erotis. Aku sdh tdk perduli lagi dia pacar temanku. Aku jg tdk perduli ada Kamil disitu. Aku melirik sesaat ke arah Kamil. Aku lihat dia menggosok-gosok penisnya yg sdh membesar lagi. Mungkin karena belum pengalaman atau karena goyangan Intan yg maut, aku sdh sangat kesulitan menahan muntahan spermaku. Baru 5 menit aku digoyang, aku sdh tdk kuat lagi.

“Mba….aku….mau…ke…lu…arr…”. Intan segera menghentikan goyangannya dan mencabut memeknya dari penisku.

Aku agak kecewa jg karena rasa nikmatnya terputus tp ternyata Intan ingin menelan spermaku. Dia mengocok penisku dan menadahkan mulutnya dihadapan penisku. Karena sdh tdk tahan, akupun memuncratkan spermaku. Banyak sekali yg keluar. Intan langsung mewadahi muntahan spermaku itu dgn mulutnya. Dia kemudian menelan sperma sebanyak itu yg ada dimulutnya. Saking banyaknya sampai ada beberapa yg mengalir keluar dari mulutnya.

“Sperma perjaka biar awet muda”, katanya sambil tersenyum.

Aku terbaring lemas setelah gelombang kenikmatan akibat muncratnya spermaku tuntas. Intan masih dalam posisi setengah menungging di hadapanku sambil memegangi penisku yg mulai melemas ketika Kamil bangkit dari kursinya dan mendekati kami. Dia berkata,

“Intan, kamu masih belum tuntas kan?”, tanyanya sambil memegangi penisnya yg ternyata sdh menegang kembali. “Huu..kamu tuh ya”, hanya itu komentar Intan sambil tersenyum melihat penis Kamil yg menghadap kearahnya.

Kamil pun mengambil posisi di belakang Intan dan Intan yg sdh tahu apa yg akan terjadi tetap mempertahankan posisi setengah menunggingnya. Kamil kemudian mengangkat pantat Intan agak tinggi dan menariknya kebelakang dgn agak kasar.

“Hey…pelan-pelan dong” ujar Intan setengah protes sambil tertawa.

Namun tawa Intan segera berhenti dan berubah menjadi

“Owwww….”, ketika Kamil menjebloskan penisnya ke dalam lubang kenikmatan miliknya.

Kamil pun segera memompa tubuh indah Intan dan merekapun mulai mengayuh kembali kenikmatan ragawi bersama. Aku yg berada di hadapan mereka melihat dgn jelas bagaimana ekspresi keduanya. Intan dgn mulut terbuka, alis agak berkerut dan tubuh yg terayun-ayun mengikuti pompaan Kamil. Mulutnya mengeluarkan rintihan nikmat,

“ah…ah…ah….”. Melihat pemandangan seperti itu, akupun jadi terangsang lagi dan penisku yg tadinya sdh lemas pelan-pelan mulai menegang kembali.

Akupun bangkit dan mengangsurkan penisku ke mulut Intan yg segera disambar oleh si cantik itu. Kini kedua lubang atas bawahnya telah terisi. Dibawah memeknya digenjot oleh batang Kamil dan diatas mulutnya disumpal oleh penisku.

Penisku dikulum dan disedot oleh mulut mungil Intan yg tdk henti-hentinya mendesah karena dientot oleh Kamil. Karena entotan Kamil itu, Intan jadi tdk konsentrasi dalam menghisap milikku. Terkadang dia menggantinya dgn kocokan tangan. Malah semakin lama ketika entotan Kamil semakin kencang, Intan hanya memegangi penisku tanpa diapa-apakan.

Karena posisi penisku yg begitu dekat dgn wajahnya maka penisku itu hanya menggesek-gesek pipinya saja. Karena nampaknya Intan kesulitan menangani dua batang sekaligus maka aku pun mengalah. Aku turun dari ranjang dan duduk di kursi yg tadi diduduki oleh Kamil. Akupun menyaksikan persetubuhan mereka yg semakin membara.

Entah berapa lama, mungkin sekitar 10 menitan, mereka sepertinya akan mencapai puncak kenikmatan bersama. Genjotan Kamil semakin cepat sementara rintihan Intanjg semakin sering dan keras terdengar. Sampai akhirnya Kamil dgn suara agak tersengal berkata,

”Ran…gue…udah….mo…nyampe…”. Mendengar itu Intan memutar-mutar pantatnya cepat sekali mengejar kenikmatan yg ingin diperolehnya bersama.

Sampai akhirnya dalam suatu hentakan yg keras Kamil membenamkan penisnya sedalam-dalamnya didalam memek Dewi. “Aaahh….”, teriak mereka hampir berbarengan.

Tubuh Intan bergetar hebat dan wajahnya menengadah dgn mata terpejam dan alis berkerut. Mulutnya terbuka lebar sambil memekik

“Aahh…Aaaahh…” berkali-kali. Pantatnya didorong-dorongkan kebelakang seolah ingin menelan habis seluruh batang Kamil yg masih tersisa.

Mereka mendapakan puncak kenikmatan berbarengan dan hal itu berlangsung hampir selama 15 detik. Setelah itu mereka pun ambruk bertindihan. Kamil mencabut penisnya lalu kemudian berbaring telentang disamping Intanyg masih tengkurap. Mereka berdua nampak tersengal-sengal dan berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Intan kemudian memutar badannya baring menelentang.

Mereka berdua nampak kelelahan karena tak lama kemudian mereka tertidur. Aku yg masih merasa nanggung lalu bangkit mendekati ranjang dgn maksud untuk menuntaskan hasratku dalam memek Intan. Aku tdk perduli dgn Intan yg masih kelelahan. Aku naik keatas ranjang dan menempatkan penisku dihadapan memek Intan yg masih tertidur. Dari dalam memek itu mengalir cairan putih yg meski tdk sebanyak tadi tp masih cukup jelas terlihat.

Aku tdk tahu apakah Intan memang telah tidur atau berpura-pura saja karena ketika aku melap memeknya dgn baju Kamil yg ada diatas lantai, dia tdk bereaksi. Setelah aku yakin memek Intan sdh cukup kering, pelan-pelan akupun menusukkan penisku ke dalamnya. Ternyata dia tdk tidur karena meskipun matanya tertutup tp dia menggigit bibirnya. Akupun mengecup bibir itu ketika penisku telah terbenam seluruhnya. Dia membuka matanya sambil berpura-pura merajuk,

“Kamu tuh masukin barang tanpa minta izin”, katanya.

“Habis masih penasaran sih mbak”, ujarku sambil menciuminya dgn gemas.

Dia membalas ciumanku dan kita pun berciuman cukup lama sampai akhirnya dia melepaskannya dan berkata sambil tersenyum,

“Digoyang dong”. Akupun mulai menaik-turunkan pantatku dgn irama yg lambat.

Intan ini memang luar biasa, karena setelah bersetubuh berkali-kali pun, dia masih bisa mengimbangi gerakanku. Dia menjepitkan kakinya dipinggangku sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Awalnya aku mengayuh dgn pelan dan tenang namun seiring dgn bertambahnya rasa nikmat di penisku akupun meningkatkan tempo kayuhan pantatku. Nikmat yg tak mampu dilukiskan dgn kata-kata dirasakan penisku.

Nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhku yg membuat aku semakin cepat mengayuh kenikmatan diatas tubuh Intan pacar teman kostku itu. Aku semakin cepat menggenjotnya dan Intan pun semakin erotis dalam menggoyang pantatnya. Goyangan yg membuat penisku terasa dipilin dan diperas. Untungnya aku masih bisa menahan deraan kenikmatan yg ditimbulkan oleh jepitan memek Intan sehingga tdk sampai muncrat terlebih dahulu seperti tadi.

Kali ini aku bertekad untuk mengeluarkan spermaku dalam memek Intan agar proses kehilangan keperjakaanku menjadi lengkap. Demikianlah, pacuan kenikmatan yg ditimbulkan oleh maju-mundurnya penisku dan goyang “dangdut” pantat Intan berlangsung cukup lama. Kami tdk perduli lagi dgn Kamil yg telah tertidur disamping kami dan orangtua Ridwan di kamar sebelah. Intan mulai lagi mengeluarkan rintihan-rintihan birahinya.

Sampai akhirnya dia memegangi kedua bongkah pantatku dan mengatur gerakan pantatku agar penisku menggosok daerah tertentu dalam memeknya. Daerah yg agak kasar dan menonjol dalam memeknya namun menimbulkan efek yg lebih nikmat bagi kepala penisku. Hal itu semakin menyulitkan aku dalam menahan desakan di ujung penisku. Karena merasa akan segera keluar, aku mempercepat sodokanku dan ternyata hal itu mempercepat Intan untuk mencapai puncak kenikmatannya. Sodokan-sodokan cepat yg aku lakukan membuat rintihan Intansemakin keras pertanda semakin dekatnya dia dgn puncak kenikmatannya. Akhirnya saat itu tiba. Dgn satu teriakan keras,

”Aaaah….”, tubuhnya mengejang dan memelukku erat. Dia mencengkeram pantatku dan menempelkan dgn ketat tubuhnya ke tubuhku. Kakinya menjepit pinggangku dgn kuat.

Aku merasakan memeknya berkedut dgn kuat dan membanjiri penisku. Kedutan memek Intan itu membuat penisku serasa diremas-remas dan benar-benar membuatku tak mampu menahan muntahan di penisku. Akhirnya penisku memuncratkan isinya bersamaan dgn remasan memek Intan terhadap penisku. Penisku yg sedang menumpahkan isinya itu ditambah dgn kedutan kuat memek Intan yg menjepitnya menjadi nikmat ganda yg baru pertama kali aku alami dalam hidupku.

Nikmatnya bukan alang kepalang. Rasanya aku dilempar ke sebuah tempat yg dalam tak bertepi. Pandangan mataku gelap dan tiap kali deraan kenikmatan itu datang rasanya aku seperti melihat titik cahaya dalam kegelapan itu. Benar-benar sebuah kenikmatan yg luar biasa. Rangkaian kenikmatan demi kenikmatan yg melanda diriku yg diakhiri dgn muncratnya spermaku di dalam memek Intan menyempurnakan hilangnya keperjakaanku malam itu. Akhirnya aku ambruk dalam pelukan Intan. Aku mencium bibirnya dgn mesra dan sayang.

“Makasih mba”, ungkapku jujur padanya.

Dia hanya tersenyum dan balas menciumku. Sebenarnya aku jg harus berterimakasih pada Kamil yg telah mengatur semua ini. Tp dia telah tertidur disamping kami dan sdh tdk perduli lagi pada aktivitas kita. Aku mencabut penisku dan menggelosoh turun dari tubuh Dewi. Spermaku tumpah keluar dari dalam memeknya dan lumayan banyak mengalir melalui rekahan pantatnya. Aku berbaring disampingnya dgn tubuh lunglai. Jam telah menunjukkan pukul 12.30. Itu artinya sdh sejam lebih aku dikamar Kamil. Kami sama-sama terdiam dan Intan tak lama kemudian tertidur. Aku sendiri masih berbaring dalam keheningan mengingat-ngingat kembali malam yg luar biasa ini.

Meski ukuran ranjang Kamil cukup besar tp tak urung terasa sempit jg. Apalagi ventilasi di kamar Kamil tdk sebaik di kamarku karena terletak ditengah antara kamarku dan kamar Ridwan sehingga jumlah jendela lebih sedikit dari kamarku. Untungnya udara malam Bandung membuat kami tdk terlalu kegerahan. Maklum hanya ada kipas angin yg menemani kami. Aku yg tdk bisa tidur akhirnya memutuskan untuk balik ke kamarku. Sewaktu bangkit untuk mengenakan baju aku terangsang melihat Intan yg tertidur dalam ketelanjangannya. Aku berpikir untuk mengajak Intan ke kamarku. Siapa tahu saja aku bisa menyetubuhinya lagi. Aku tdk jadi mengenakan bajuku dan dgn tetap bertelanjang aku bangunkan Intan.

“Mba….mba…mba”, kataku berusaha membangunkannya sambil menjawil-jawil pipinya. Dia akhirnya terbangun.

“Dikamarku aja yu mba. “, kataku ketika dia terjaga.

Dia menggeliat sehingga membusungkan dadanya yg membuat nafsuku bangkit kembali. Pelan-pelan penisku membesar kembali.

“Emang kenapa Ri? “, tanya Intanmalas.

“Disini panas dibandingkan kamarku. Lagian mas Ridwan sering ke kamar ini. Dia kan akrab sama mas Kamil. Kalau ntar atau besok, mas Ridwan pulang terus ngetuk kamar ini, gimana?”, ujarku memberiku alasan. Alasan yg tdk dibuat-buat dan memang masuk akal kok.

“Gitu ya, Ri?” ujar Intansetengah khawatir. Dia bangkit.

“Ya udah deh ke kamar kamu aja. Tp aku jangan diapa-apain lagi ya”, pintanya.

“Iya yuk…”, jawabku sekenanya.

Dalam hati aku tdk menjamin akan memenuhi permintaannya. Untungnya dia tdk melihat penisku yg sdh tegak karena aku menutupinya dgn kaos oblong dan celana pendekku yg kupegang dgn tangan. Sepatu hak tinggi miliknya yg terletak di dekat pintu pun diangkatnya.

Dia mengambil tasnya dan memungut bra, kaos oblong, dan celana dalam miliknya yg tergeletak dilantai. Dia ingin mengenakannya.

“Duh…mba, gak usah. Disebelah aja biar cepet.”, kataku melarang.

“Kamu tuh kaya Kamil aja. Satu perguruan sih ya?”, jawabnya sambil tersenyum.

Aku agak bingung jg dgn kata-katanya.

“Ya udah deh yuk. Gak ada orang kan diluar?”, lanjutnya.

“Gak ada.”, jawabku sambil mengintip keluar.

“Udah kan? Itu aja? Jeansnya mana?”, tanyaku heran melihatnya memegangi semua baju dan tasnya tp tanpa jeansnya.

Seingatku tadi dia datang ke rumah ini mengenakan jeans. Lucu sekaligus merangsang deh melihat Intan dalam keadaan seperti itu. Dia menggantung tasnya di bahu tp bertelanjang dan hanya memegangi baju-bajunya.

“Gak sempat dikeluarin dari kamar Ridwan . Keburu ortu Ridwan datang. Tp sama Kamil sdh diumpetin dalam dos pembungkus tape recordernya punya Ridwan yg ada dibawah tempat tidurnya. Duh…harus segera diselamatkan tuh kalau enggak bisa kacau nanti.”, jawabnya.

“Oh iya…besok begitu Ridwan pergi kita langsung keluarin tuh. Lagian tanpa itu gak bisa pulang kan?”, jawabku.

Aku mulai bisa menebak bagaimana awalnya tadi hingga akhirnya Intan bisa kami setubuhi malam itu.

Aku pun membuka pintu dan setengah berlari ke kamarku disebelah yg tdk terlalu jauh. Intan segera mengikutiku jg dgn setengah berlari. Sampai di kamarku, dia melihat sekeliling dalam kamarku sambil terlihat hendak mengenakan bajunya. Namun segera kucegah. Aku menarik tubuhnya kearahku dan mendekapnya.

“Ri…kamu mau ap…”, dia tdk bisa menyelesaikan kata-katanya karena aku mencium bibirnya erat.

Awalnya dia diam saja namun akhirnya membalas mesra ciumanku. Aku menarik lepas baju-baju, tas dan sepatu yg dipegangnya. Kami pun berciuman bertelanjang bulat sambil berpelukan erat. Intan pasti tahu bahwa aku menginginkannya lagi dari penisku yg sdh tegak dan menunjuk perutnya.

Aku kemudian mematikan lampu kamar agar kalaupun ada yg mengintip tdk akan bisa melihat kegiatan kami. Itupun dgn tirai jendela yg masih tertutup sehingga tak akan mungkin orang luar untuk melihat keadaan di dalam. Kami hanya mengandalkan lampu luar lewat jendela atas untuk penglihatan. Selesai berciuman, aku berjongkok menjilati memeknya sambil tanganku meremas-remas payudaranya. Intan nampak sangat menikmatinya. Dia berpegangan ke dinding kamar untuk menyanga tubuhnya yg sedang merasakan kenikmatan. Akhirnya setelah sama-sama terangsang kami pun mulai mengambil posisi untuk bercinta kembali. Intan aku minta menungging di kursi kamarku dan wajahnya ke arah tirai jendela.

Singkat kata, kami pun bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Intan berpegangan pada sandaran kursi ataupun pegangan tangan kursi. Sementara pantatnya bergerak maju-mundur berlawanan arah dgn gerakan maju-mundur penisku dalam memeknya. Kadang diputar-putarnya membuat penisku terasa diremas-remas namun nikmatnya benar-benar menggetarkan. Intan pun sangat menikmatinya terdengar dari suaranya yg terus saja merintih-rintih nikmat.

Selagi kami bercinta dalam posisi itu, tiba-tiba kami mendengar gerbang belakang rumah di buka. Tdk lama gerbang itu ditutup kembali dan terdengar langkah orang menaiki tangga. Tdk salah lagi Ridwan sdh pulang dan demi mendengar pacarnya pulang Intan menghentikan gerakannya. Tubuhnya terasa tegang dan dia diam dalam gelap. Aku yg sedang berada dalam kenikmatan tdk memperdulikannya dan terus saja memompa memek pacar Ridwan tersebut.

“Ri…berhenti dulu dong, nanti kedengaran Ridwan ”, katanya berbisik.

“Enggak mungkin mba…asal kita gak bersuara, gak akan kedengaran”, jawabku berbisik pula tanpa menghentikan gerakan maju-mundurku.

Aku mendengar suara Ridwan duduk di kursi tempat aku dan Kamil mengobrol tadi. Dia pasti mau melepas sepatunya sebelum masuk ke kamar. Itu kebiasaan kami semua yg kost disini. Tiba-tiba timbul pikiran iseng dan nekatku. Tirai yg menutup jendelaku aku tarik kesamping sehingga kami bisa melihat apa yg dilakukan Ridwan .

“rid…ngapain kamu?”, Intan terpekik tertahan.

“Biar kelihatan mas Ridwan lagi ngapain mba, jadi kita bisa jaga-jaga kalau dia mendekat ke kamar ini, ” jawabku sekenanya untuk menenangkannya. Untuk sementara aku menghentikan pompaan penisku.

“Iya tp …” ,Intan berusaha untuk protes namun segera aku bungkam dgn mulutku. Kami pun berciuman mesra kembali.

“Kamu tuh ya, nekat dan nakal,” ujar Intansetelah aku melepaskan ciumanku.

Dari cahaya yg berasal dari luar jendela, aku melihat senyum manis Intan diwajahnya yg cantik ketika dia mengatakan itu.

Tiba-tiba aku menghentakkan kembali penisku ke dalam memeknya.

“Owww…uhhhh…kamu tuh….ah….”, reaksi Intan ketika aku melakukan itu. Dia tdk berani untuk merintih keras karena di depan kamar pacarnya masih sedang duduk dikursi.

“Jangan dulu dong Ri, nanti …”, kata Intan sambil berusaha memegang pinggangku.

Tp aku tdk perduli. Aku pun terus saja memompanya. Intan sdh tdk berdaya dalam situasi seperti itu. Malah akhirnya dia membalas goyanganku dan menikmatinya kembali meski pacarnya masih ada di dekat situ. Kami bercinta sambil mengamati kegiatan Ridwan yg sedang membuka sepatu dan jaketnya. Dalam jarak kurang dari 3 meter, Ridwan tdk menyadari bahwa Intan pacarnya sedang asyik memadu kenikmatan ragawi sambil menikmati batang lelaki lain yg masih merupakan sahabatnya.

Entah apa yg ada dalam pikiran Ridwan karena setelah selesai membuka sepatunya pun dia masih duduk-duduk di kursi itu. Dia seperti sedang memandang ke arah kami. Tp sebenarnya tdk demikian karena kursi yg didudukinya memang mengarah ke kamarku.

“Dia kaya ngeliatin kita ya mba…”, kataku di sela-sela persetubuhan kami.

“I…yaa…”, jawab Intancuek diantara desahannya.

“Kalau dia ternyata emang ngeliatin gimana?”, godaku.

“Udah…ah… rewel… ******* ya ******* aja..”, jawab Intan berpura-pura kesal.

Sementara kami berdua sdh semakin mendekati puncak kenikmatan kami. Gerakan maju-mundur pantatku semakin cepat sementara putaran pantat Intanjg semakin intensif.

“Mba…aku… udah… ham….pirr…”

“Bareng Ri…bareng… aku…jg…hampir…”

Kami berpacu lebih hebat lagi membuat kursi kamar agak berderik. Kami tdk perduli dgn bunyi itu dan dgn Ridwan yg masih duduk di depan kamarku. Dan akhirnya setelah tdk mampu menahan kenikmatan yg terus mengumpul di ujung penisku, dgn satu hentakan keras, aku menumpahkan berliter-liter lahar panas di dalam liang kenikmatan Intan.

Aku menekan erat pantatku dan menanamkan penisku sedalam-dalamnya di tubuh Intan. Pada saat bersamaan, Intan menarik wajahku dan menciumku erat sekali.

“Mmmmmmmmm……..”, dia memekik tertahan karena mulutnya tersumpal mulutku.

Dia jg sdh sangat dekat dgn orgasmenya. Badannya bergetar menandakan gelombang orgasmenya mulai datang. Dia melepaskan ciumannya sambil berteriak pelan “Aaaahh” dan menghentakkan pantatnya ke belakang membuat memeknya menelan lebih jauh penisku. Dia orgasme lagi. Kami mencapai puncak secara hampir bersamaan. Badai kenikmatan yg luar biasa kembali kami arungi.

Kalau tdk karena ada pacarnya di luar kamarku tentu Intan sdh kembali memekik bebas karena orgasmenya tersebut. Namun dia hanya menahan suaranya dan kemudian menggigit bantalan sandaran kursiku yg empuk. Badan kami berdua bergetar oleh nikmatnya puncak persetubuhan kami. Penisku yg terus menerus berkedut sambil memuntahkan isinya sedang dijepit oleh memek Intan yg menghisap kuat penisku. Untuk yg kesekian kalinya aku merasakan kenikmatan seks yg luar biasa malam itu. Jiwaku serasa dibawa terbang melayg karena kenikmatan yg kualami itu.

Dan ketika akhirnya kenikmatan itu berakhir aku seolah dihempas kembali ke bumi dalam keadaan letih namun sangat damai. Aku tdk menyadari kapan Ridwan masuk kamarnya tp dia sdh tdk ada di depan kamarku. Sementara itu Intan sdh tertunduk lemas di sandaran kursiku dan tdk bersuara apapun lagi. Dia jg pasti telah sangat lelah setelah berkali-kali orgasme malam ini dgn 2 orang pria.

Aku mencabut penisku dan cairan spermaku tumpah keluar dari dalam memeknya. Cukup banyak hingga mengalir di pahanya. Aku ambruk diatas karpet sementara Intan masih dalam posisi menunggingnya dgn kepala yg bersandar diatas sandaran kursiku. Tak lama diapun bangkit dan pindah ke ranjangku. Dia berbaring di ranjangku tanpa berkata apa-apa lagi. Aku yg masih terbaring lemas diatas karpet jg hanya terdiam.

Mungkin karena saking letihnya tdk begitu lama aku mendengar dengkuran lembut cewek itu. Aku pun menyusul pindah ke atas ranjangku bergabung dengannya. Sebelum tidur aku mencium lembut bibirnya dan berbisik pelan

“Makasih ya mba. Malam ini luar biasa banget”. Sepertinya dia masih mendengarku karena dia berkata “mmm” sebagai respon kata-kataku. Akupun berbaring disampingnya dan tak menunggu lama akupun ikut tertidur.

Paginya aku terbangun sekitar pukul 8. Begitu aku membuka mata, aku melihat wajah cantiknya yg sangat alami yg masih tertidur disampingku. Dgn rambut awut-awutannya malah semakin menambah kecantikan alaminya. Posisiku sendiri sedang memeluknya. Aku merasakan penisku yg sdh terbangun kembali menempel ditubuhnya entah di bagian mana dari tubuh Intant mungkin dipahanya. Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan cewek secantik dan seseksi ini. Apalagi dgn permainan seksnya yg luar biasa benar-benar cewek yg ideal sebagai pelepas keperjakaanku. Hehehehehe…

Aku tdk ingat kapan menutup tubuh kami tp yg jelas tubuh kami berdua tertutup selimut. Mungkin mba Intan yg melakukannya karena biasanya suhu akan sangat dingin menjelang subuh. Aku membuka selimutku dan bangkit menuju kamar mandi. Sempat tersingkap tubuh indahnya yg membuat aku bernafsu untuk mengentotnya lagi, apalagi penisku memang sedang mengacung tegak. Tp melihat keadaannya yg tertidur pulas dan damai, aku jadi tdk tega. Aku pun meneruskan melangkah ke kamar mandi lalu bersih-bersih disitu.

Cukup lama aku di kamar mandi dan setelah selesai akupun balik ke tempat tidur lagi untuk bermalas-malasan. Siapa tau bisa mengentot Intan lagi, pikirku. Ternyata dia telah bangun tp masih berbaring dibawah selimutnya. Dia seperti sedang bengong memikirkan sesuatu tp dia tersenyum melihat penisku yg sdh berdiri lagi.

“Pagi mba…”, kataku sambil mencium bibir mungilnya.

“Mba sekali lagi makasih ya buat malamnya yg luar biasa”, kataku kembali.

“Iya…..”, jawabnya tersenyum, “tp ini kenapa nih?”, tanyanya kemudian sambil menunjuk penisku.

“Ooh…ini? Biasa deh kalo pagi dia suka duluan bangun. Apalagi kan dia tau dia belum dapat jatah pagi”, jawabku sambil menggoda Intan.

“Huuuu….. maunya!”, jawab Intan sambil memonyongkan bibirnya.

Melihat itu aku segera menyergap bibirnya dan bergerak menindihnya. Aku bermaksud untuk menyetubuhinya lagi tp segera ditahan oleh Intan.

“Ri..ri…ntar dulu Ri, ambilin jeansku dulu dong di tempat Ridwan .”, katanya.

“Aku musti segera pulang takutnya dia ke tempat kostku nanti.”, lanjutnya kemudian.

Akupun mengurungkan niatku dan ikut memikirkan kata-kata Intan.

“Dia masih dikamarnya nggak ya?”, kataku setengah bertanya.

“Nah itu dia aku gak tau. Aku enggak denger suara apa-apa diluar jg disebelah di kamarnya Kamil.”, jawab Intan kebingungan.

“Oke gini deh aku keluar dulu liat situasi. Kalau ada kesempatan aku masuk ke kamar Ridwan terus ambil jeans mba. Mba punya kuncinya kan?”

“Ada ditasku. Untung semalam sempat aku bawa keluar, kalau enggak wah kacau..”.

Akupun bangkit dan mencari tasnya. Setelah aku temukan, aku mencari kunci itu dan segera aku menemukan kunci kamar Ridwan didalamnya.

“Oke mba aku keluar deh liat situasi tp….”, aku sengaja menghentikan kata-kataku.

“Tp apa?”, kata Intanpenasaran.

Aku tdk menjawab tp hanya tersenyum menggodanya. Sepertinya dia sdh menangkap maksudku terlihat dari tatapan matanya yg berpindah ke penisku yg sedang mengacung tegak.

“Duuuhh… nanti aja dong”, katanya membujukku.

“Mba…gak enak kan mba kalau dilihat orang ada bagian yg menggelembung.”, kataku memberi alasan sekenanya.

“Ini dulu dong dikecilin..”, kataku kemudian sambil menunjuk penisku.

“Ih… kamu tuh!! Dasar perjaka!! Sini…”, ujar Intanberpura-pura marah.

Aku pun mendekatinya. Dia pun bangkit duduk sehingga selimutnya terlepas dan memperlihatkan keindahan tubuhnya.

“Di oral aja ya. Aku masih cape dan memekku agak perih nih dijeblosin dua batang semaleman…”, katanya lagi sambil memegang penisku ketika aku sdh berada di hadapannya.

“Ya udah gapapa.”, jawabku meski sebenarnya aku lebih suka jika penisku di masukkan ke dalam memeknya.

“Tp nanti kalau udah ketemu jeans mba, aku mau ini ya?”, lanjutku sambil memegang memeknya.

“Iya gampang…”, katanya sambil mulai menghisap penisku.

Diapun mulai mengoralku. Namun karena tdk senikmat memek maka aku sulit untuk ejakulasi. Intan yg sdh tdk sabaran akhirnya memintaku memasukkan saja penisku ke memeknya. Sebelumnya aku diminta membasahi memeknya terlebih dahulu agar penisku mudah masuknya. Akhirnya pagi itu akupun ejakulasi kembali di dalam memeknya.

Singkat kata aku berhasil “menyelamatkan” jeans Intan dr kamar Ridwan dgn bantuan Kamil yg mengajaknya keluar. Intan pun bisa pulang ke kost-annya dan Ridwan sama sekali tdk mengetahui pengalaman hebat pacarnya itu. Sebelum pulang Intan masih sempat menghadiahi aku dgn sebuah persetubuhan yg indah di kamar mandi dalam kamarku. Orangtua Ridwan sendiri pulang keesokan malamnya setelah tanpa sengaja “membantu” kami mendapatkan Intan.

Sampai lulus kuliah dan menjelang menikah pun Intan masih sering “bermain” dgn aku dan Kamil. Kadang bertiga tp lebih sering berduaan saja. Capek kata Intan kalau harus meladeni kami berdua sekaligus. Sewaktu belum lulus hampir semuanya dilakukan di kost-an kami. Biasanya pada saat dia main ke tempat Ridwan , kita memanfaatkan waktu tersebut untuk mencuri-curi kesempatan ngentot apalagi kalau Ridwan sedang tdk ada di kamarnya. Wah sdh kaya piala bergilir deh dia. “Beli satu dapat tiga”, kalau kata Intan.

Di akhir semester itu sewaktu libur panjang, Ridwan mendapatkan kesempatan kerja praktek di Balongan sedang Kamil ikut acara kampus di luar negeri. Intan bolak-balik ke kost-an Ridwan untuk mengerjakan TA-nya dan TA Ridwan . Aku yg mustinya pulang liburan membatalkan rencana tersebut dan memutuskan “menemani” Intan selama Ridwan dan Kamil tdk ada. Jadilah aku dan Intan menikmati “bulan madu” selama dua minggu di kost-an. Kita entot-entotan tanpa henti selama 2 minggu tersebut kecuali Sabtu sore dan Minggu ketika Ridwan datang. Benar-benar pengalaman indah dan erotis yg tak terlupakan.

Beberapa saat kemudian Intan hamil, entah oleh Ridwan , Kamil, maupun aku, namun Ridwan selalu bisa menyelesaikan masalah itu dan dia tdk tahu kalau bibit itu tdk selalu dari dia. Menurut pengakuan Intan padaku, lelaki yg pernah berhubungan badan dengannya adalah pacarnya waktu tahun kedua yaitu kakak kelasnya ( lelaki yg mendapatkan keperawanannya ), kami bertiga, adik ibu kostnya, atasannya, pacar bulenya ( yg kemudian menikahinya ) dan pernah dgn salah satu dosen di kampusnya. Dosen itu tdk mau meluluskannya karena nilai ujiannya yg buruk namun akhirnya meluluskannya setelah merasakan nikmatnya memek Intan.

Intan sendiri akhirnya tdk jadi menikah dgn Ridwan dan menikah dgn seorang bule Australia. Kini dia tinggal disana dan terakhir kabarnya mereka akhirnya punya anak 1 setelah lama menikah. Ridwan sendiri menikah dgn seorang cewek Jakarta yg dikenalkan oleh tantenya. Sedang Kamil menikah dgn adik kelas Intan

Enaknya Memek Bu Guru Yang Seksi Dan Hot.

Seiring waktu, sekarang saya bisa belajar di universitas yang saya minati, nama saya Rendi, sekarang saya tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat bagus. Saya pikir saya cukup beruntung untuk bekerja sambil belajar jadi saya berpenghasilan tinggi.

Mulai dari reuni SMA saya di Jakarta. Setelah itu, saya bertemu dengan guru bahasa Indonesia saya, kami berbicara dengannya. Ternyata Ms. Santi masih sangat fit dan sangat menarik. Penampilannya luar biasa, mengenakan rok mini ketat, kemeja tank top sehingga lekuk tubuhnya tampak begitu jernih. Jelas dia masih muda karena ketika saya di sekolah menengah dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolah saya hanya terdiri dari dua kelas, sebagian besar siswa adalah perempuan. Saya berbicara cukup lama dengan Ms. Santi, kami rupanya tidak menyadari bahwa waktu berjalan cepat sehingga para tamu harus pulang. Lalu kami berjalan menuju gerbang sambil berjalan melewati ruang kelas tempat saya belajar ketika saya masih di sekolah menengah.

Tiba-tiba Ms. Santi ingat bahwa tasnya tertinggal di ruang kelas sehingga kami terpaksa kembali ke kelas. Pada waktu itu hampir jam dua belas malam, meninggalkan kami sendirian. Lampu di tengah lapangan dibiarkan. Sesampainya di kelas, Ms. Santi mengambil tasnya, lalu saya ingat bagaimana rasanya di kelas dengan teman-teman. Pikiran saya hancur ketika Santi memanggil saya.

Kenapa Rendi?

Ah … tidak apa-apa, aku menjawab. (Sebenarnya, suasana yang tenang dan sangat menyeramkan membuat keinginan saya bergejolak terutama ketika ada Santi disebelah saya, membuat hati saya selalu berdebar-debar).

“Ayo, Rendi, ayo pulang, aku akan kehabisan transportasi” kata Ibu Santi.

Lebih baik ibu ikut saja ke mobil saya, saya jawab dengan raguragu.

Terima kasih, Rendi.

Saya tidak sengaja mengungkapkan perasaan saya kepada Ms. Santi bahwa saya menyukainya, Oh Tuhan, apa yang saya lakukan, di dalam hati saya. Rupanya situasinya mengatakan sesuatu yang lain, Ms. Santi terdiam dan langsung keluar dari kelas. Saya panik dan mencoba meminta maaf. Ibu Santi ternyata bercerai dari suaminya di Australia, katanya suaminya kembali ke negaranya. Saya tercengang dengan pernyataan Ms. Santi. Kami berhenti sejenak di depan kantornya dan kemudian Nyonya Santi mengambil kunci dan pergi ke kantornya, saya pikir mengapa datang ke kantornya malam ini. Saya menjadi semakin ingin tahu dan masuk dan bermaksud untuk membawanya pulang tetapi Ms. Santi menolak. Saya merasa tidak enak lalu menunggunya, saya memeluk bahu Nyonya Santi, dengan cepat Santi ingin menolak tetapi ada kejadian tak terduga, Santi mencium saya dan saya menjawab.

Ohh, betapa bahagianya aku, lalu aku cepat menciumnya dengan semua hasratku yang tersembunyi. Rupanya Ms. Santi tidak mau kalah, dia menciumku dengan keinginan besar untuk mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Aku dengan sengaja melintasi dadanya yang besar, Ibu Santi terengah-engah agar ciuman kami menjadi lebih panas dan kemudian ada perjuangan yang sangat mengasyikkan. Santi memainkan tangannya ke arah batang selangkangan saya sehingga saya sangat terangsang. Kemudian saya meminta Ny. Santi untuk menanggalkan pakaiannya, satu demi satu kancing bajunya dibuka dengan lembut, saya melihat dengan penuh semangat. Ternyata tebakan saya itu salah, dada kecil yang saya pikir ternyata sangat besar dan indah, bra itu adalah renda hitam dengan model yang sangat seksi.

Menjadi tidak sabar, saya mencium lehernya dan sekarang Ms. Santi setengah telanjang, saya tidak ingin segera menelanjanginya, jadi saya perlahan menikmati keindahan tubuhnya. Saya melepas baju saya sehingga tubuh saya yang kuat dan atletis membangkitkan gairah Ms. Santi, Rendi Saya pikir Ibu ingin bercinta dengan kamu sekarang … Rendi, tutup pintunya dulu, dia berbisik dengan suara sedikit gemetar, mungkin menahan nafsu yang juga mulai naik.

Tanpa diberitahu dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu menjadi keadaan yang aman dan terkendali. Setelah itu saya kembali ke Ms. Santi. Sekarang saya jongkok di depannya. Menyikat rok mininya dan meregangkan kakinya. Wah, betapa mulus kedua paha. Basisnya tampak terkulai dibungkus celana hitam sangat minim. Sambil mencium pahanya, tangan saya menelusuri selangkangannya, meremas liang dan klitorisnya yang juga besar. Lidah saya naik ke atas. Ibu Santi berjalan dengan riang sambil mendesah lembut. Akhirnya jilatan saya sampai di pangkal pahanya.

Apa yang kamu inginkan, bro, dia bertanya dengan lembut sambil memegang kapal saya eraterat.

Ooo oh .. oh .., desis keletihan Ms. Santi ketika lidahku mulai bermain di liang kesenangannya. Dia tampak nyaman meski masih dibatasi oleh pakaian dalam.
Saya meningkatkan serangan itu. Saya melepaskan celana. Sekarang rahasianya ada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris besar sesuai dengan harapan saya. Di sekitar rambutnya tidak begitu tebal. Lidah saya kemudian diputar di bibir kemaluannya. Peluncuran itu mulai masuk ke dalam dengan gerakan melingkar yang membuat Santi lebih nyaman, sampai dia harus mengangkat pinggulnya. Aahh, kamu sangat pintar. Belajar dari mana hh

Tanpa sungungan Santi mencium bibirku. Kemudian tangannya menyentuh celana saya yang menonjol karena batang dari selangkangan yang tegak, meremasnya untuk sementara waktu. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Saya menjulurkan lidah dan memainkannya di dalam mulutnya. Aku menggelitik lidahnya sampai dia terlihat seperti dia mau. Awalnya Santi tampaknya memberontak dan melepaskan diri, tetapi saya tidak membiarkannya pergi. Mulutku seperti menempel di mulutnya. Uh, kamu berpengelaman sekali. Dengan siapa? Pacar Anda?, Ia bertanya di antara ciuman kecil yang membara dan mulai liar. Saya tidak menjawab. Tanganku mulai bermain dengan kedua payudaranya yang menarik. Jangan ganggu aku, aku melepaskan bra. Sekarang dia telanjang dada. Tidak puas, saya langsung menurunkan rok mininya. Sekarang dia telanjang. Betapa senangnya melihat tubuhnya. Putih padat, kencang dan halus.

Tidak adil. Kamu juga harus telanjang … Ms. Santi menanggalkan bajuku, celanaku, dan akhirnya celana dalamku. Batang tegak dari selangkangan saya langsung muncul. Tanpa diperintahkan kita jatuh ke lantai, berguling, saling tumpang tindih. Saya melihat ke bawah di selangkangannya, mencari dasar kesenangannya. Tanpa ampun mulut dan lidah saya menyerang daerah itu dengan liar. Ms. Santi mulai mengeluarkan jeritan menahan menahan kenikmatan. Hampir lima menit kami menikmati pertandingan. Selanjutnya saya merangkak naik. Dorong poros ke mulutnya.

Isaplah ibuu … Tanpa menunggu jawaban, aku segera menaruh batang selangkanganku ke mulut mungilnya. Awalnya agak susah, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan agar tidak lama setelah batang pangkal paha masuk ke rongga mulutnya. Bahkan, ada kenikmatan tiada tara … Sejauh ini, bagaimana dengan suami yang bermain seks ?, saya bertanya sambil meremas payudaranya. Ibu Santi tidak menjawab. Dia malah melepas batangku dari mulutnya dan kembali mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangan basah. Saya tahu, dia telah kacau. Tapi aku sengaja membiarkannya menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama saya tidak tahan juga, batang alat kelamin saya juga ingin segera mendongkrak lubang kenikmatan. Kemudian dengan cepat saya mengarahkan batang saya menuju selangkangannya. Ketika mulai menembus lubang kenikmatan, saya merasa tubuh Santi lebih gemetar. Ohh, dia mendesah ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke lubang memeknya. Setelah semua batang saya masuk, saya segera bergoyang-goyang di atasnya. Saya lebih terangsang oleh jeritan kecil, mengerang dan dua payudara yang bergabung dengan gemetar.

Tiga menit setelah saya bergoyang, Santi menyematkan kakinya ke pinggang saya. Pinggulnya terangkat. Sepertinya dia akan orgasme. Saya meningkatkan daya dorong batang selangkangan saya. Ooo ahh hmm sshhh, santi mendesah dengan tubuh gemetar menahan kesenangan puncak yang dia dapatkan. Saya membiarkan dia menikmati orgasme untuk sementara waktu. Aku mencium pipinya, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. Sekarang Ms. Santi berbalik. Naik di atas meja … sekarang kita bermain di atas meja ok! Saya mengatur tubuhnya dan Ms. Santi menurut. Dia sekarang bertumpu pada siku dan kakinya. Apa gaya ini?, Tanyanya.

Setelah siap, saya mulai meningkatkan dan mengguncangkan tubuhnya dari belakang. Ibu Santi menjerit lagi dan mendesah pada kenikmatan tiada tara, yang mungkin tidak pernah didapatnya dari suaminya. Setelah dia orgasme dua kali, kami istirahat.

Bosan?, Saya bertanya. Anda sendirian. Sampai aku ingin menghancurkan tulangku.

Tapi ini enak, bu …, aku menjawab sambil kembali untuk meremas payudaranya yang menggemaskan.

Ya, saya lelah. Tapi tolong lagi, saya ingin masuk agar sperma saya keluar. Di sini saya tidak tahan lagi dengan batang selangkangan saya. Sekarang Ms. Santi ada di atas, kataku sambil menyesuaikan posisinya.

Saya berbaring dan dia duduk di pinggang saya. Saya membimbing tangannya untuk memegang batang saya untuk masuk ke selangkangannya.

Setelah memasuki tubuhnya, aku turun sesuai dengan ototku dari bawah. Ms. Santi terkejut mengikuti irama goyangan saya yang semakin cepat dan cepat. Payudaranya yang bergabung dengan goyangan menambah gairah saya. Apalagi disertai dengan erangan dan jeritan sebelum orgasme. Ketika dia mencapai orgasme, aku tidak punya apa-apa. Saya segera mengubah posisi ke gaya konvensional. Ibu Santi menyerah dan aku menembaknya dari atas. Dekat klimaks saya meningkatkan frekuensi dan kecepatan alat kelamin selangkangan. Oh Santi, saya ingin keluar dari sini ahh .. Tidak lama setelah itu sperma saya muncrat ke lubang kenikmatan. Ms. Santi yang kemudian ia juga mengikuti klimaks. Kami berpelukan erat. Aku merasakan lubang kenikmatan begitu hangat mencubit batang kemaluanku. Lima menit lagi kami santai seperti itu.

Kami berciuman, saling peluk dan meremas pantat satu sama lain. Seperti puas puas merasakan kenikmatan yang baru saja kita rasakan. Setelah itu kami beres-beres dan kembali ke rumah saya karena Santi harus pergi mengajar besok harinya dan saya bisa menjemput sore hari.

Sore tiba, Ibu Santi saya jemput dengan mobil saya. Kami makan di mal dan setelah selesai makan kami menuju ke mobil kami di tempat parker mall. Di tempat parkir itu kami bertindak lagi, saya mulai mencium lehernya. Ibu Santi mendongak sambil menutup matanya, dan tanganku mulai meremas payudaranya. Nafas Santi semakin terengah-engah, dan tangan saya masuk di antara pahanya. Celana dalamnya basah, dan jariku mengusap belahan yang membayang. Uuuhh … mmmhh … Ms Santi mengguncangnya, tapi gairah saya telah tiba di ubunubun dan saya telah membuka paksa pakaian dan rok mininya.

Aaahh …! Ms Santi dalam posisi yang menantang di kursi belakang memakai bra merah dan CD merah. Saya segera mencium putingnya yang besar dan masih terbungkus bra seksi, bergantian kiri dan kanan. Tangan Santi mengelus bagian belakang kepala saya dan tersendat-sendat membuat saya semakin tidak sabaran. Aku melepas celana dalamnya, dan bukit kemaluannya muncul. Saya segera mengubur kepala saya di tengah dua paha. Ehhh, mmmhh … Tangan Santi meremas kursi mobil saya dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya dipeluk. Sesekali lidahku bergerak ke perutnya dan menjilatnya perlahan.

Ooohh … aduuhh … Ibu Santi mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kelaminnya yang masih sangat kencang. Lidah saya bergerak dari atas ke bawah dan bibir alat kelamin mulai terbuka. Sesekali lidahku mengusap klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Santi meloncat dan napas Ibu Santi seperti sedang diceritakan. Tanganku naik ke dadanya dan meremas dua bukit di dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika saya berhenti menjilati dan mengisap, Santi terbaring terengah-engah, matanya tertutup. Saya bergegas membuka semua pakaian saya, dan penis saya diulurkan ke langit-langit, saya membaringkannya di pipi Santi. Mmmhh, mmmhh … Ooohhm … Ketika Ms. Santi membuka bibirnya, aku menekan kepala penisku, sekarang dia mulai menghisap. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. Oouuuh, Ny. Santi, enaknyaa ahhh, aku mengerang.

Ibu Santi terus mengisap batang saya sementara tangannya menggosok lubang kenikmatannya yang juga telah tergenang karena dia terangsang untuk memperhatikan batang selangkangan saya yang begitu besar dan kuat untuknya. Hampir 20 menit dia mengisap batang kemaluanku dan segera saya merasakan sesuatu di dalam batang ingin melompat keluar. Ibu Santi … ooohh … ohhhh, aku berteriak. Dia mengerti bahwa jika saya ingin keluar, maka dia memperkuat hisapnya dan sambil menekan lubang kenikmatannya, saya melihat dia berkedut dan matanya tertutup, lalu … Creet .., suuurr … ssuuur ..
Oughh … Rendi … enak … erangan terhenti karena mulutnya diisi oleh batang selangkanganku. Dan karena isapannya terlalu kuat, saya akhirnya tidak tahan ledakan dan sambil memegangi kepalanya, saya menumpahkan surai saya ke dalam mulutnya, Crooot, croott, crooot, banyak tumpahan saya di mulutnya.

Aaahkk … ooough, aku bilang puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, aku akan naik ke atas tubuh Ibu Santi dan bibirku menghancurkan bibirnya. Aroma penisku ada di mulut Ny. Santi dan aroma mulut Nyonya Santi di mulutku, bertukar ketika lidah kami terjalin. Dengan tangan, aku menggesek kepala penisku ke celah di selangkangan Ms. Santi, dan sebentar kemudian merasakan tangan Santi menekan pantatku dari belakang. Ohm, masukannnlahhh … augh … masuklah

Perlahan-lahan selangkanganku mulai menerobos ke dalam liang kemaluannya dan Ms. Santi semakin mendesah dalam napasnya. Segera kepala penisku ditahan kembali oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu langkah, atasi rintangan. Ms. Santi menjerit sedikit. Aku menekan lebih dalam dan mulutnya mulai berceloteh, Ups, bro … yeah, lalu, lalu … mmmhh, oh yeah, bagus … Rendi

Saya melingkarkan lengan saya di punggung ibu saya, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Nyonya Santi sekarang duduk di pinggul saya. Tampak penisku menempel ke pangkal ayam miliknya. Tanpa perlu diajari, Ms. Santi segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan mengusap payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kami juga berlomba untuk mencapai puncak.

Setelah beberapa waktu, gerakan pinggul Ms Santi menjadi semakin gila dan dia membungkukkan badannya dengan bibir kami hancur lebur. Tangannya meraih rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti tersentak. Terasa seperti cairan hangat di seluruh batang selangkangan saya. Setelah tubuh Santi rileks, saya mendorongnya ke punggungnya, dan sambil menekannya, saya mengejar puncak orgasme saya sendiri. Ketika saya mencapai klimaks, Ibu Santi jelas merasakan semprotan air saya di lubang kenikmatannya, dan dia mengeluh lemah dan merasakan orgasme keduanya. Untuk waktu yang lama kami terdiam, terengah-engah, dan tubuh kami yang basah oleh keringat masih bergerak bersama-sama bergesekan, merasakan kenikmatan orgasme.

Keganasan Memek Ibu Kost bikin Kontol Ku Kepayahan Dijepit terus.

Ini adalah cerita yang menarik. Si Randy pemuda lugu termakan rayuan ibu kostnya yang sangat menggoda Randy sehingga Randy melayani ibu kostnya tersebut. Langsung saja.

Waktu itu Di kamar kost aku berbaring sambil ngelamun. Diluar gerimis yang turun sejak sore belum juga usai sehingga menambah dinginnya udara malam, dikota yang memang berhawa sejuk. Malam minggu tanpa pacar dan hujan pula membuat Randy suntuk. Dicobanya memejamkan matanya membayangkan sesuatu. Yang muncul adalah seraut wajah cantik berkerudung. Teh Larah, ibu kostnya (aku sering memanggil ibu kostku itu dengan sebutan teteh).

Dibayangkannya wanita itu tersenyum manis sambil membuka kerudungnya, mengeraikan rambutnya yang hitam panjang. Membuka satu persatu kancing bajunya. Memperlihatkan kulit putih mulus dan sepasang buah dada montok yang disangga BH merah jambu. Dan buah dada itu semakin menampakkan keindahannya secara utuh ketika penyangganya telah dilepaskan. Sepasang gunung kembar padat berisi dengan puting merah kecoklatan di dua puncaknya menggantung indah.

Lalu tangannya membuka kancing celana panjang yang segera meluncur kebawah. Tinggallah secarik celana dalam, yang sewarna BH, membungkus pinggul montok. Bagaikan penari strip-tease, secarik kain kecil itu segera pula ditanggalkan. Menampakkan selangkangannya yang membusung dihiasi bulu menghitam, kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Dihadapannya kini berdiri perempuan telanjang dengan keindahan bentuk tubuh yang menaikan nafsu syhawat.

Randy bangkit berdiri sambil menggaruk batang kontol di selangkangnnya yang mulai tegak dan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat kopi. Setelah membuat kopi kemudian keruang duduk untuk nimbrung nonton TV bersama keluarga tempat ia kost. Baru sekitar 3 bulan ia kost dirumah keluarga Pak Totok setelah dia pindah dari tempat kostnya yang lama. Totok telah beristri dengan anak satu berumur 7 tahun.

Ternyata ruang duduk itu sepi, TV nya juga mati. Mungkin Teh Larah sudah tidur bersama anaknya karena Pak Totok sedang ke Jakarta menemani ibunya yang sedang sakit. Akhirnya Randy duduk sendiri dan mulai meghidupkan TV. Namun ternyata hampir semua saluran TV yang ada gambarnya kurang bagus. Randy mencoba semua saluran dan cuma Indosiar saja yang agak terlihat gambarnya meski agak berbintik.

Mungkin antenanya kena angin, pikirnya.Dengan setengah terpaksa dinikmati sinetron yang entah judulnya apa, kerena Randy selama ini tidak pernah tertarik dengan sinetron Indonesia.

Tiba-tiba Randy mendengar pintu kamar dibuka. Dan dari kamar keluarlah perempuan yang biasa dipanggil Teh Larah. Randy kaget melihat kehadiran perempuan itu yang tiba-tiba.

“Eh, Teteh belum tidur? Keberisikan ya?” tanya Randy tergagap

“Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur kok” jawab perempuan itu dengan logat Sunda yang kental.

Yang membuat Randy kaget sebenarnya bukan kedatangan perempuan itu, tapi penampilannya yang luar dari kebiasaanya. Sehari-hari Larah, seperti kebanyakan ibu rumah tangga di kota ini, selalu berkerudung rapat. Sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Dan itulah yang pada awalnya membuatnya tertarik kost dirumah ini ketika bertamu pertama kali dan bertemu dengan Larah.

Dengan berkerudung justru semakin menonjolkan kecantikan wajah yang dimilikinya. Dengan alis matanya yang tebal terpadu dengan matanya yang bening indah, hidungnya mancung bangir dan bibirnya yang merah merekah. Dengan postur tubuh dibalik bajunya terlihat tinggi serasi.Entah mengapa Randy selalu tertarik dengan perempuan cantik berkerudung.

Pikiran nakalnya adalah apa yang ada dibalik baju yang tertutup itu. Dan pada saat itupun pikiran kotornya sempat melintas mencoba membayangkan Larah tanpa busana. Tapi pikiran itu dibuangnya ketika bertemu dengan suaminya yang terlihat berwibawa dan berusia agak lebih tua dari Larah yang masih dibawah tiga puluh tahun. Akhirnya jadilah ia kost di paviliun disamping rumah tersebut dan pikiran kotornya segera dibuang jauh, karena ia segan pada Pak Totok. Tapi secara sembunyi ia kadang mencuri pandang untuk memperhatikan kecantikan Larah dibalik kerudungnya dan kadang sambil membayangkan ketelanjangan perempuan itu dibalik bajunya yang tertutup, seperti tadi.

Tapi malam ini Larah berpenampilan lain, tanpa jilbab/kerudung! Rambutnya yang tak pernah terlihat, dibiarkan terurai. Demikian juga dengan bajunya, Larah memakai daster diatas lutut yang sekilas cukup menerawang dan hanya dilapisi oleh kimono panjang yang tidak dikancing. Sehingga dimata Fandi, Larah seperti bidadari yang turun dari khayangan. Cantik dan mempesona. Mungkin begitulah pakaiannya kalau tidur.

“Gambar tivinya jelek ya?” tanya Larah mengagetkan Fandi.

“Eh, iya. Antenanya kali” jawab Randy sambil menunduk.

Randy semakin berdebar ketika perempuan itu duduk disebelahnya sambil meraih remote control. Tercium bau harum dari tubuhnya membuat hidung Randy kembang kempis. Lutut dan sebagian pahanya yang putih terlihat jelas menyembul dari balik dasternya. Randy menelan ludah.

“Semuanya jelek”, kata Larah, “Nonton DVD saja ya?”.

“Terserah Teteh” kata Randy masih berdebar menghadapi situasi itu.

“Tapi adanya film unyil, nggak apa?” kata Larah sambil tersenyum menggoda.

Randy faham maksud Larah tapi tidak yakin film yang dimaksud adalah film porno.

“Ya terserah Teteh saja” jawab Fandi.

Larah kemudian bangkit dan menuju kamar anaknya. Randy semakin berdebar, dirapikan kain sarungnya dan disadari dibalik sarung itu ia cuma pakai celana dalam. Diteguknya air digelas. Agak lama Larah keluar dari kamar dengan membawa kantung plastik hitam.

“Mau nonton yang mana?” tanyanya menyodorkan beberapa keping DVD sambil duduk kembali di samping Fandi.

Randy menerimanya dan benar dugaannya itu DVD porno.

“Eh, ah yang mana sajalah” kata Randy belum bisa menenangkan diri dan menyerahkan kembali DVD-DVD itu.

“Yang ini saja, ada ceritanya” kata Larah mengambil salah satu dan menuju alat pemutar dekat TV.

Randy mencoba menenangkan diri.

“Memang Teteh suka nonton yang beginian ya?” tanya Randymemancing

“Ya kadang-kadang, kalau lagi suntuk” jawab Larah sambil tertawa kecil

“Bapak juga?” tanya Randylagi

“Ngga lah, marah dia kalau tahu” kata Larah kembali duduk setelah memencet tombol player.

Memang selama ini Larah menonton film-film itu secara sembunyi-sembunyi dari suaminya yang keras dalam urusan moral.

“Bapak kan orangnya kolot” lanjut Larah “dalam berhubungan suami-istri juga ngga ada variasinya. Bosen!”

Randy tertegun mendengar pengakuan Larah tentang hal yang sangat rahasia itu. Randy mulai faham rupanya perempuan ini kesepian dan bosan dengan perlakuan suaminya ditempat tidur. Dan mulai bisa menangkap maksud perempuan ini mengajaknya nonton film porno. Dalam hati ia bersorak girang tapi juga takut, berselingkuh dengan istri orang belum pernah dilakukannya.

Film sudah mulai, sepasang perempuan dan lelaki terlihat mengobrol mesra. Tapi Randy tidak terlalu memperhatikan. Matanya justru melirik perempuan disebelahnya. Larah duduk sambil mengangkat satu kakinya keatas kursi dengan tangannya ditumpangkan dilututnya yang terlipat, sehingga pahanya yang mulus makin terbuka lebar. Randysudah tidak ragu lagi.

“Teteh kesepian ya?” Tanya Randy sambil menatap perempuan itu Larah balik menatap Randy dengan pandangan berbinar dan mengangguk perlahan.

“Kamu mau tolong saya?” tanya Larah sambil memegang tangan Fandi.

“Bagaimana dengan Bapak ?” tanya Randy ragu-ragu tapi tahu maksud perempuan ini.

“Jangan sampai Bapak tahu” kata Larah. “Itu bisa diatur” lanjut Larah sambil mulai merapatkan tubuhnya.

Randy tak mau lagi berpikir, segera direngkuhnya tubuh perempuan itu. Wajah mereka kini saling berhadapan, terlihat kerinduan dan hasrat yang bergelora dimata Larah. Dan bibirnya yang merah merekah basah mengundang untuk di kecup. Tanpa menunggu lagi bibir Randy segera melumat bibir yang sudah merekah pasrah itu. Randy semakin yakin bahwa perempuan ini haus akan sentuhan lelaki ketika dirasakan ciumannya dibalas dengan penuh nafsu oleh Larah.

Bahkan terkesan perempuan itu lebih berinisiatif dan agresif. Tangan Larah memegang belakang kepala Randy dan menekannya agar ciuman mereka itu semakin lekat melumat. Randy mengimbangi ciuman itu dengan penuh gairah sambil mencoba merangsang perempuan itu lebih jauh, tangannya mulai merabai tubuh hangat Larah. Dirabanya paha mulus yang sedari tadi menarik perhatiannya, diusapnya perlahan mulai dari lutut yang halus lembut terus keatas menyusup kebalik dasternya.

Larah bergetar ketika jemari Randy menyentuh semakin dekat daerah pangkal pahanya. Tangan Randy memang mulai merambah seputar selangkangan perempuan itu yang masih terbungkus celana dalam. Dengan ujung jarinya diusap-usap selangkangan itu yang makin terbuka karena Larah telah merenggangkan kedua pahanya. Dan rupanya Larah telah semakin larut hasratnya dan ingin merasakan rabaan yang langsung pada selangkangannya.

Dengan sigap tanpa malu-malu ditariknya celana dalam itu, dibantu oleh Randy dengan senang hati, sehingga terbuka poloslah lembah yang menyimpan lubang kenikmatan itu. Segera saja tangan Randy merambahi kembali lembah hangat milik Larah yang telah terbuka itu. Dirasakan bulu-bulu jembut yang lebat dan keriting melingkupi lembah sempit itu. Jemari Randy membelai bulu jembut itu mulai dari bawah pusar terus kebawah.Larah makin mendesah ketika jemari Randy mulai menyentuh bibir memeknya. Itulah sentuhan mesra pertama dari jemari lelaki yang pernah Larah rasakan pada daerah kemaluannya.

Suaminya tidak pernah mau melakukan hal itu. Dalam bercinta suaminya tidak pernah melakukan pemanasan atau rabaan yang cukup untuk merangsangnya. Biasanya hanya mencium dan meraba buah dadanya sekilas dan ketika batang kontolnya sudah tegang langsung dimasukan ke lubang memek Larah. Bahkan ketika lubang memek itu masih kering, sehingga rasa sakitlah yang dirasakan Larah.

Selama hampir delapan tahun menikah, Larah belum pernah merasakan nikmatnya bercinta secara sesungguhnya. Semuanya dikendalikan dan diatur oleh suaminya. Berapa hari sekali harus bercinta, cara apa yang dipakai, dan sebagainya. Totok suaminya yang berusia hampir empat puluh lima tahun ternyata lelaki yang ortodok dan tidak pernah memperhatikan keinginan istrinya. Apalagi ia menderita ejakulasi prematur. Sehingga sudah jarang frekuensinya, cepat pula keluarnya.

Soal teknik bercinta, jangan ditanya. Tidak ada variasi dan dilarang istrinya berinisiatif. Baginya meraba kemaluan istri apalagi menciumnya adalah dosa. Melihat istri telanjang adalah saat memenuhi kewajiban suami istri di ranjang. Baginya bersenggama adalah memasukan batang kemaluannya yang tegang ke dalam kemaluan istri dengan tujuan mengeluarkan airmani didalam lubang itu secepatnya, tidak perlu bertanya istrinya puas atau tidak.

Sehingga selama bertahun-tahun, Larah tidak lebih dari benda yang mati yang punya lubang buat membuang airmani suaminya bila tangkinya sudah penuh. Larah sebagai perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat menggebu, cuma bisa berkhayal bercumbu dengan lelaki yang bisa memberikan kenikmatan dengan penuh fantasi.

Selama bertahun-tahun. Hanya kira-kira setahun ini Larah bertemu dengan seorang wanita sebayanya yang juga mengalami nasib hampir sama dengannya. Mereka kemudian berteman akrab, saling curhat dan bersimpati. Dari wanita ini, Lilis namanya, Larah mendapatkan film-film porno yang dipinjamkan secara sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka sangat akrab karena keduanya juga takut melakukan selingkuh dengan mencari lelaki lain. Yang berani mereka lakukan akhirnya kadang-kadang bermesraan berdua sebagai pasangan lesbian.

Tetapi sebagai perempuan normal Larah tidak terlalu mendapatkan kenikmatan yang diharapkan dari hubungan itu. Dan kini ketika jemari lelaki yang dengan penuh perasaan merabai daerah sensitifnya, semakin berkobarlah nafsu ditubuh Larah. Seakan haus yang selama ini telah menemukan air yang dingin segar.

“Ah..terus Ran..” desahnya membara.

Kuluman bibir mereka terus saling bertaut. Lidah mereka saling menjilat, berpilin mesra. Randy mengeluarkan semua kemampuannya, demikian juga dengan Larah mencoba melepaskan hasrat yang dipendamnya selama ini. Selama bertahun-tahun Larah meredam hasratnya. Tak ada keberanian untuk menyeleweng, meski niat itu ada. Tapi sudah sejak beberapa bulan terakhir ini suaminya semakin jarang menyentuhnya. Sehingga hasratnya semakin menggumpal.Malam ini keberaniannya muncul ketika suaminya tidak ada dirumah. Sejak Randy kost dirumahnya, Larah telah memperhatikannya dan ia juga tahu pemuda itu juga memperhatikannya.

Malam ini Larah tidak perduli lagi dengan dosa apalagi suaminya. Ia ingin hasratnya terlampiaskan.Mulut mereka sudah saling lepas, dan mulut Randy mulai menyusuri leher jenjang Larah yang selama ini tertutup rapat. Mulut Randy menciumi leher jenjang yang lembut itu beberapa saat terus kebawah sepertinya hendak kedaerah belahan dada Larah, tapi tiba-tiba Randy bergeser dari duduknya dan bersimpuh di lantai dan melepaskan ciumanya sehingga mukanya berada diantara paha Larah yang mengangkang dimana bibir memeknya sedang dirabai jemari pemuda itu.Rupanya Randy ingin memberikan rangsangan yang lebih lagi dan Larah juga faham maksud Fandi.

Dengan berdebar dan antusias ditunggunya aksi Randy lebih lanjut terhadap selangkangannya dengan lebih lebar lagi mengangkangkan kedua kakinya. Larah menunduk memperhatikan kepala Randy dicondongkan kedepan dan mulutnya mulai mendekati selangkangannya yang terbuka. Dilihatnya TV yang juga sedang menayangkan gambar yang tidak kurang hot. Dihadapan Randy terdapat selangkangan perempuan yang telah terkangkang bebas. Terlihat bulu jembut yang menghitam agak keriting menumbuhi lembah yang sempit diantara paha montok yang putih mulus.

Randy menelan ludah melihat pemandangan yang indah itu.Dinding mayoranya terlihat merekah basah, dihiasi bulu jembut menghitam ditepi dan atasnya. Kontras dan indah untuk dipandang. Kedua tangannya memegang kedua paha yang telah mengangkang itu. Dijulurkan lidahnya menyentuh belahan kemerahan yang sudah terkuak itu. Tercium wangi harum dari lembah itu.Kedua tangan Randy bergeser mendekati lubang memek itu untuk lebih menguakkannya

“Ahhh.!” Larah mendesah dan pinggulnya bergetar ketika ujung lidah itu menyentuh bibir memeknya.

Desahannya semakin menjadi ketika lidah Randy mulai menjilati bibir yang merekah basah itu dan dengan ujung lidahnya mengelitik kelentit yang tersembunyi dibelahannya. Dan itu semakin membuat Larah blingsatan merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pinggulnya dihentak-hentakkan keatas menikmati sentuhan yang belum pernah dirasakan tapi telah lama dihayalkan. Randy terus melakukan jilatan yang nikmat itu dan tangannya yang satu mulai merambah keatas meremasi buah dada yang montok padat.

Rupanya Larah sudah merasa semakin panas meskipun diluar hujan masih turun. Segera dibuka kimono dan dasternya, juga BH yang membungkus sepasang bukit kembar, sehingga perempuan yang sehari-hari selalu berbaju tertutup dan terlihat alim ini kini duduk telanjang bulat disofa dengan kedua kakinya mengangkang dimana seorang pemuda bersimpuh sedang menjilati memeknya. Mata Larah merem melek menikmati jilatan lidah dan rabaan tangan Randy. Hasrat yang telah lama dihayalkan kini mulai terwujud. Ia bertekad untuk mewujudkan dan melaksanakan semua hayalan yang selama ini disimpannya. Banyak hayalan gila-gilaan yang pernah di rekanya, hasil dari pengamatannya menonton film-film porno.

Demikian juga dengan Randy, impiannya kini tercapai. Bukan hanya melihat perempuan berkerudung telanjang tapi juga bisa merabai tubuhnya bahkan mungkin sebentar lagi bercinta dengannya. Jilatan dan rabaan Randy rupanya telah menaikkan nafsu Larah makin tinggi hingga akhirnya dirasakan hasrat itu semakin memuncak. Larah yang belum pernah merasakan orgasme selama berhubungan dengan suaminya, tapi dari rangsangan ketika berhubungan lesbian dengan Lilis dan ketika menonton film porno sambil merabai kemaluannya sendiri, ia tahu akan segera orgasme. Dengan ganas di tariknyanya kepala Randy agar makin rapat keselangkangannya sambil menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga bukan hanya mulut Randy yang mengesek memeknya tapi juga hidung dan dagu pemuda itu.

“Ahhhduh..AAaaaHhhh….! Ahhh!!” jeritnya tertahan ketika akhirnya orgasme itu datang juga.

Randy sempat tidak bisa bernafas ketika mukanya dibenamkan rapat keselangkangan itu ditambah Larah merapatkan kedua pahanya menjepit kepalanya. Beberapa saat Larah menyenderkan kepalanya disandaran sofa dengan mata terpejam menikmati untuk pertama kali klimaks karena dicumbu lelaki, nafas memburu dan perlahan kedua kakinya yang menjepit kepala Randy kembali membuka sehingga Randy dapat melepaskan diri. Muka Randy basah bukan hanya oleh keringat tapi juga oleh cairan yang keluar dari lubang kenikmatan Larah.

Randy bangkit berdiri sambil membuka kausnya yang digunakan untuk mengelap mukanya. Tubuhnya berkeringat. Dipandangi perempuan telanjang itu yang duduk mengangkang. Baru ini dapat diamati tubuh telanjang perempuan itu secara utuh.

“Hatur nuhun ya Ran” kata Larah berterima kasih sambil membuka matanya dan meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.

Matanya kembali berbinar ketika dilihatnya Randy telah berdiri telanjang bulat dengan batang kontol mengacung keras. Batang kontol yang besar dan panjang. Jauh lebih besar dari punya suaminya. Ini untuk pertama kalinya ia melihat lelaki telanjang bulat selain suaminya. Randy mendekat dan meraih tangan Larah, dan menariknya berdiri. Kemudian Randy mundur dua langkah mengamati tubuh telanjang perempuan itu lebih seksama.

“Kenapa sih?” tanya Larah sambil senyum-senyum.

“Saya lagi memandangi tubuh indah sempurna yang selama ini tertutup” jawab Randy yang memang terpesona dengan apa yang ada dihadapannya.

Ternyata benar yang sering diangankannya tentang apa yang ada dibalik baju tertutup yang selama ini dipakai Larah, bahkan lebih indah dari yang dibayangkannya karena ini benar-benar nyata. Tubuh Larah memang nyaris sempurna. Badannya tinggi semampai dengan wajah yang cantik dan lekuk setiap tubuhnya saling mendukung dan proposional. Buah dadanya besar padat berisi, pinggangnya ramping dengan pinggul dan pantat yang montok serta sepasang kaki jenjang dengan paha yang padat berisi. Semuanya dibalut dengan kulit yang putih mulus tanpa cela. Dan sesuatu yang rimbun berbulu kehitaman di pangkal pahanya menambah pesona.

Pemandangan itu semakin memperkeras acungan batang kontol Randy. Dan Larah yang sudah terpesona dengan benda itu dari tadi segera meraih dan mengenggamnya. Larah kembali duduk sambil tetap menggengam batang kontol itu. Randy mengikuti dan tahu maksudnya. Ternyata perempuan ini penuh dengan fantasi yang hebat, pikirnya. Dengan mata berbinar diperhatikan batang kontol yang tegang dihadapannya. Kontol yang jauh lebih besar dan panjang dari punya suaminya.

Telah lama Larah ingin merasakan mengulum kontol lelaki seperti yang dilihatnya difilm porno.

Dipandangnya otot tegang dalam genggaman tangannya. Dengan ujung lidahnya dijilat perlahan kepala kontol yang mengkilap kecoklatan itu. Terasa aneh, tapi diulang lagi dan lagi sehingga hasratnya makin menggebu. Maka dengan perlahan dibuka mulutnya sambil memasukan batang kontol yang telah basah itu dan dikulumnya. Randy meringis nikmat diperlakukan begitu. Apalagi Larah mulai melumati batang kontol didalam mulutnya dengan semakin bernafsu.

Larah mencoba mempratekkan apa yang dilihatnya difilm. Ia tidak hanya menggunakan lidahnya tapi menggaruk batang kontol itu dengam giginya, membuat Randy semakin meringis nikmat. Satu lagi ingin dirasakan Larah adalah rasa air mani lelaki. Karena itu ia ingin merangsang Randy agar pemuda itu orgasme dan menumpahkan cairan mani di mulutnya. Larah yang selama ini kecewa dengan kehidupan sex bersama suaminya hingga terlibat hubungan lesbian dan sering menghayalkan fantasi-fantasi liar yang pernah ditontonnya di film.

Kini ia punya kesempatan untuk mewujudkannya. Tak ada lagi rasa malu atau jijik. Telah dilepaskan semua atribut sebagai istri yang patuh dan saleh. Yang ada didalam benaknya adalah menuntaskan hasratnya.Randyyang batang kontolnya dikulum sedemikian rupa semakin terangsang tinggi. Kuluman mulut Larah meskipun baru untuk pertama kali melakukannya tapi cukup membuatnya mengelinjang nikmat. Sangat lain sensasinya. Hingga akhirnya.

“Ah Teh, sudah mau keluar nih” desis Randymengingatkan sambil mencoba menarik pinggulnya.

Tapi Larah yang memang mau merasakan semburan mani dimulutnya malah semakin menggiatkan kulumannya. Hingga akhirnya tanpa bisa ditahan lagi, batang kontol itu menumpahkan cairan kenikmatan didalam mulut Larah. Randy meregang, dengkulnya terasa goyah. Dan Larah semakin menguatkan kuluman bibirnya di kontol itu. Dirasakannya cairan hangat menyemprot didalam mulutnya, rasanya aneh sedikit tapi gurih. Enak menurutnya. Tanpa ragu Larah semakin keras mengocok batang kontol itu dan dengan lahap ditelannya cairan yang muncrat dari lubang kontol Randy, bahkan sampai tetes terakhir dengan menghisap batang kontol itu. Tanpa rasa jijik atau mual.

“Bagaimana rasanya Teh?” tanya Randy. Ia kagum ada perempuan yang mau menelan air maninya dengan antusias.

“Enak, gurih” kata Larah tanpa ragu. Keduanya duduk diatas sofa mengatur nafas. Kemudian Larah bangkit.

“Sebentar ya, saya buatkan minuman buat kamu” katanya sambil kedapur dengan hanya mengenakan kimono.

Randy sambil telanjang mengikuti dari belakang dan ke kamar mandi membersihkan batang kontolnya sambil kencing. Setelah itu didapatinya Larah di dapur membuatkan minuman.

Randy mendekati dari belakang dan mendekapnya sambil tangannya meremas sepasang bukit kembar yang menggantung bebas. Larah menggelinjang merasakan remasan di dadanya. Apalagi ketika kuduknya diciumi Randy. Perlahan dirasakan batang kontol Randy mulai bangkit lagi mengganjal dipantatnya. Larah semakin mengelinjang ketika tangan Randy yang satunya mulai merambahi selangkangannya.

“Sudah nggak sabar ya” katanya sambil ketawa dan berbalik. Kembali keduanya berciuman dengan rakus.

“Dikamar saja ya” ajak Larah ketika ciuman mereka semakin larut. Mereka masuk kekamar yang biasanya untuk tamu.

Disana ada tempat tidur besar dengan kasur empuk.

Larah mendorong tubuh Randy ke ranjang dan jatuh telentang. Larah juga segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang menyusul Randy. Keduanya kembali berciuman dengan buas. Tapi tidak lama karena Larah mendorong kepala Randy kebawah. Ia ingin Randy mengerjai buah dadanya. Randy menurut karena ia pun sudah ingin merasakan lembutnya sepasang bukit kembar yang montok berisi itu. Larah mendesah sambil mengeremas rambut Randy yang mulai menjilati dan menghisapi salah satu pentil buah dadanya. Sedangkan yang satunya diremasi tangan Randy dengan lembut. Randy merasakan buah dada yang lembut dan perlahan terasa semakin menegang dengan puting yang mengeras.

“Oh Ran! Geliin..terus akh!” Tangan Randy yang satunya mulai merambahi kembali selangkangan perempuan itu.

Larah menyambutnya dengan merenggangkan kedua kakinya.

“Ahh..terus sayang!” desisnya ketika jemari pemuda itu mulai menyentuh kemaluannya.

Jemari Randy dengan perlahan menyusuri lembah berbulu dimana didalamnya terdapat bibir lembut yang lembab.

Larah semakin menggelinjang ketika ujung jari Randy menyentuh kelentitnya. Kini mulut dan tangan Randy secara bersamaan memberikan rangsangan kepada perempuan kesepian yang haus seks itu. Sementara Larah juga sangat menikmati jilatan dan rabaan pemuda itu.Beberapa lama kemudian Randymengambil inisiatif setelah puas merambahi sepasang bukit ranum itu, perlahan mulutnya mulai bergerak kebawah menyusuri perut mulus Larah dan berhenti di pusarnya.

Larah menggelinjang ketika pusarnya dijilat lidah pemuda itu. Larah rupanya tidak mau nganggur sendiri. Ditariknya pinggul Randy kearah kepalanya. Randy faham maksudnya. Dengan segera dikangkangi kepala Larah diantara kedua pahanya dan menempatkan pangkal pahanya dengan batang kontol yang menegang keras diatas muka Larah. Yang segera disambut kuluman Larah dengan bernafsu. Randy juga sudah menempatkan kepalanya diantara paha Larah yang mengangkang. Mulutnya mulai merambahi kembali lembah harum berjembut lebat itu. Keduanya melakukan tugas dengan nafsu yang semakin tinggi dan terus berusaha merangsang pasangan masing-masing.

Larah istri kesepian yang bertahun-tahun menyimpan hasrat, sehingga sekarang seakan mempunyai nafsu yang sepertinya tak habis-habisnya untuk ditumpahkan. Demikian juga dengan Randy pemuda lajang yang cukup berpengalaman dalam urusan perempuan tapi baru kali ini bercinta dengan istri orang, sehingga fantasi yang dirasakan sangat beda dari yang pernah dialami sebelumnya.

“Ooohhh! Ran, lakukanlah” desah Larah mulai tak tahan menahan hasratnya. Randy segera menghentikan jilatannya dan mengatur posisi. Larah celentang pasrah dengan kedua paha terbuka lebar menantikan hujaman batang kontol Randypada lubang memeknya yang telah semakin berdenyut.

Dadanya berdebar kencang, mengingatkannya pada malam pertama ketika pertama kali diperawani suaminya. Usianya belum lagi tujuh belas tahun waktu itu. Tak ada kemesraaan dan kenikmatan, yang ada hanya kesakitan ketika batang kontol Totok merobek lubang kemaluannya. Untung cuma berlangsung sebentar karena suaminya cepat keluar air maninya.

Dilihatnya wajah puas suaminya ketika ada bercak darah disprei, tanda istrinya masih perawan.

Larah tersentak dari mimpi buruknya ketika terasa benda hangat menyentuh bibir memeknya. Direngkuhnya tubuh Randy ketika perlahan batang kontol yang keras itu mulai menyusuri lubang memeknya.

“Akh! enak Ran!” desahnya. Tangannya menekan pinggul Randy agar batang kontol pemuda itu masuk seluruhnya.

Randy juga merasakan nikmat. Memek Larah terasa sempit dan seret. Randy mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik-turun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Larah. Keduanya terus berpacu menggapai nikmat.

“Ayo Ran genjot terusss!” desah Larah makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan. Randy mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang kontolnya tuntas masuk seluruhnya kedalam memek Larah.

“Oh..Ran !”jerit Larah nkmat setiap kali Randy melakukannya.Terasa batang kontol itu menyodok dasar lubang memeknya yang terdalam.

Semakin sering Randy melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan Larah sehingga pada hentakan yang sekian Larah merasakan otot diseluruh tubuhnya meregang. Dengan tangannya ditekan pantat Randy agar hujaman batang kontol itu semakin dalam. Dan terasa ada yang berdenyut-denyut didalam lubang memeknya.

“Ahk..! Ahduh akhh!” teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali saat bersanggama dengan lelaki.

Sangat nikmat dirasakan Larah. Seluruh tubuhnya terasa dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir. Randy yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan Larah kembali berusaha mengimbangi.

Diangkat kedua kakinya keatas dan dipegang dengan kedua tangannya, sehingga pinggulnya sedikit terangkat sehingga memeknya semakin menjengkit. Menyebabkan hujaman kontol Randy semakin dalam. Randy yang berusaha mencapai kenikmatannya, merasa lebih nikmat dengan posisi Larah seperti itu. Demikian juga dengan Larah, perlahan kenikmatan puncak yang belum turun benar naik lagi.Larah mengangkat dan menumpangkan kakinya dipundak Randy, sehingga selangkangannya lebih terangkat.

Randy memeluk kedua kaki Larah, sehingga tubuhnya setengah berdiri. Dirasakan jepitan memek Larah lebih terasa sehingga gesekan batang kontolnya menjadi semakin nikmat. Randy semakin menghentakkan pinggulnya ketika dirasakan kenikmatan puncak sudah semakin dekat dirasakan.

“Ahhh” Randy mendesah nikmat ketika dari batang kontolnya menyembur cairan kenikmatannya.

Dikocoknya terus batang kontol itu untuk menuntaskan hasratnya. Bersamaan dengan itu Larah rupanya juga merasakan kenikmatan yang kedua kalinya.

“Akhh!!” jeritnya untuk kedua kali merasakan orgasme berturut-turut.

Tubuh Randy ambruk diatas tubuh Larah. Keduanya saling berdekapan. Kemaluan mereka masih bertaut. Keringat mengucur dari tubuh keduanya, bersatu. Nafas saling memburu.

“Makasih ya Ran, makasih” kata Larah terbata mengucapkan terima kasih diantara nafasnya yang memburu.

Tuntas sudah hasratnya. Dua tubuh yang panas berkeringat terus berdekapan mengatasi dinginnya malam.

Tak sampai 15 menit mereka saling berdekapan ketika dirasakan Randy, batang kontolnya yang telah lepas dari lubang memek Larah mulai dirabai dan diremas kembali oleh tangan Larah. Rupanya perempuan ini sudah ingin lagi. Randy tersenyum dalam hati, lembur nih ini malam! Memang Larah sudah bangkit lagi hasratnya. Nafsunya yang lama terpendam seakan-akan segera muncul kembali meskipun baru terpenuhi. Sepertinya ia tidak ingin melepaskan kesempatan malam ini untuk bercinta sebanyak mungkin dengan Randy sampai besok pagi, dengan berbagai teknik dan posisi yang selama ini cuma diangankannya.

Dan malam itu mereka melewati malam panjang dengan penuh keringat, cumbuan, rabaan, hentakan nafas dan desahan nikmat berkali-kali sampai pagi.

Randy bangun ketika dirasakan sinar matahari menyinari tubuhnya yang masih telanjang cuma ditutupi selimut. Ia masih terbaring diranjang tempat dia bercinta sepanjang malam dengan Larah. Dilihatnya sudah jam 10. Badannya terasa segar meskipun sepanjang malam mengeluarkan tenaga untuk melayani dan mengimbangi nafsu Larah yang ternyata tak kenal puas. Tak kurang dari lima ronde dilewati oleh mereka dengan sebentar saja istirahat.

Randy selalu ingat setiap dua atau tiga ronde, Larah selalu membuatkannya minuman sejenis jamu yang ternyata sangat berkhasiat memulihkan energinya sehingga sanggup melayani perempuan yang haus sex itu berkali-kali. Randy masih berbaring. Dicobanya membayangkan kejadian tadi malam. Seperti mimpi tapi benar terjadi. Perempuan yang terlihat lembut tapi ternyata sangat ganas di Ranjang.