Memek Widya Yang Rapet

Namaku Yudo, aku seorang laki-laki yang baru saja lulus kuliah berkuliah di salah satu universitas swasta di Jogja. Ceritaku berawal dari ketika aku mendapat kerja di kota Gresik, Jawa Timur. aku memang memutuskan untuk keluar dari Jogja ketika lulus kuliah karena di Jogja terlalu banyak teman dan keluargaku, jadi aku pengen mencari tantangan diluar rasa nyamanku.
aku mendapat pekerjaan sebagai seorang admin di sebuah perusahaan ekspedisi yang dipunyai seorang Bapak Haji Komar, atau sering dipanggil Abah. Dia menjadi panutanku karena dia seorang pekerja keras, hebat menurutku, diawali bekerja sebagai kernet, sedikit demi sedikit uangnya ditabung untuk DP truk dan mencicil di juragannya. Menolak ajakan teman temannya untuk menghabiskannya di Moroseneng, sebuah lokalisasi dipinggiran Surabaya, atau di warung warung kopi pangku di daerah Balongbendo.
“Yud, makan ga?” ujar Ryan teman kostku sembari mengetok kamarku, membuyarkan lamunanku. “Yo ayo”

Kita makan di warung tenda di ujung perumahan tempat sebelah Rumah Sakit Ibnu Sina. Kostku tidak terlalu besar, hanya berisi 6 kamar ukuran 3 x 3 dan 2 kamar mandi ada diluar. yang langsung berbatasan dengan rumah ibu kost. Ibu Kost ku seorang ibu rumah tangga dan mempunyai anak laki-laki bernama Nanang yang sudah menikah dan dikaruniai seorang cucu. dia bekerja di bank sebagai wakil kepala cabang di Surabaya. berangkat pagi dan pulang sangat malam. Yang menarik perhatianku adalah Mbak Widya, istri Mas Nanang, seorang wanita yang lembut berparas ayu berasal dari pacitan. kalau dari wajahnya nampak lebih muda dariku satu atau dua tahun. selalu menyapaku dan anak-anak kost lain ketika tidak sengaja bertemu pagi hari sewaktu kita berangkat kerja, dari balik etalase toko milik mertuanya.

“Berangkat Mas Waluyo?” senyum manis dari bibir tipisnya merekah, membuat pagiku ceria.
Mbak Widya sebenarnya adalah sosok yang sangat baik dan alim, dia selalu mengenakan jilbab panjang ketika bepergian, namun beruntungnya aku karena aku selalu bisa melihatnya tanpa jilbab, dengan baju rumah yang sederhana, daster atau kaos dan celana panjang. kadang dari kaos atau daster itu terlihat putingnya menyembul, mungkin ukurannya 34 B, entah lupa memakai bra atau itu hanya imajinasiku saja. atau tercetak samar celana dalamnya sewaktu dia berjalan membelakangiku. tidak terlalu besar namun terlihat kencang, karena sewaktu dia berjalan terlihat bergerak bergantian dengan anggun. Aku kadang tergoda untuk mengocok kontolku sewaktu mandi sembari membayangkan Mbak Widya. Oh apa daya, dia sudah bersuami hanya imajinasiku yang bisa membantuku.
saat-saat berangkat kerja maupun pulang kerja menjadi saat yang menyenangkan karena sewaktu itu ada kemungkinan mbak Widya menyapaku.

Sore itu hari sabtu, aku pulang siang karena kantor memang tutup setengah hari, tadi pak haji memanggil ku dan menyuruhku untuk menggantikan rekan kerjaku yang sakit. pekerjaan pertama selain tugasku menjadi admin. aku disuruh menggantikan Angger untuk mengatur surat jalan dan truk di pelabuhan. nanti malam aku harus begadang karena itu dilakukan 24 jam.
Setelah berganti baju dengan celana pendek dan kaos oblong aku turun ke toko untuk mencari rokok dan kopi. pikirku mau ngopi dulu sebelum nanti berangkat lagi ke pelabuhan.
ternyata Mas Nanang sedang duduk di bale bengong di belakang rumah.
aku menyapa ” Halo Mas, ga ngantor?”
Mas Nanang membalas, ” woi halo Mas, sini Mas ngopi.”
“Waah boleh ya Mas? makasih” balasku ” sebentar aku beli rokok Mas”
Di bale bengong Mas Nanang bercerita tentang pengalamannya sewaktu bekerja, dia tipikal orang yang rame dan suka bercanda. badannya gemuk dan wajahnya ceria. dia bercerita tentang hal-hal di Surabaya. dan dia bertanya apa aku sering ke surabaya. aku mengiyakannya, karena kadang aku disuruh untuk membeli spare part atau menghantarkan tagihan Abah.
“wah ngerti donk Mas, daerah Embong Malang” tanya Mas Nanang
“wah ga tau Mas, saya cuman ke Raden Saleh aja Mas”
“wah Mas, rugi. hahahaha”
“kenapa Mas?”
“disana ada spa Mas, cantik-cantik badannya bagus-bagus teranya?”
“Tera?”
“Thera Mas Therapis”
“oooh” gumamku, ini yang selalu dibicarakan teman-teman kantorku. Kalo ga salah namanya Cosco. Mas Nanang mulai bercerita tanpa jeda, pergerakannya di dunia lendir, dia menyebut beberapa nama thera langganannya. Rasti, Racun, Mayang, kata Mas Nanang. “Ada lagi yang baru-baru Mas” Katanya. Mereka selalu senang kalo saya datang, selalu bisa dipuaskan kata mereka, sombong Mas Nanang sembari menerawang ke atas.
Aku berpikir kenapa Mas Nanang masih bermain dengan Therapis yah? padahal istrinya cantik putih bersih, belum lagi kulitnya mulus. memang tidak terlalu tinggi cuman hampir sama denganku, kira-kira 162 cm. belum lagi senyumnya dan rambutnya yang wangi sehabis mandi pagi. apalagi masih tergerai agak basah sehabis mandi, ada air yang mengalir ke lehernya yang jenjang. bajunya basah terkena air dari rambutnya yang tidak di keringkan sempurna, mengecap Susu kencang didalam kaos “Mas!”, “ngelamun aja, bayangin therapis yah” Mas Nanang menyenggol tanganku sampe rokokku terjatuh. “dia berpamitan, ya udah Mas saya mau pergi dulu, janjian sama temen di Cosco hahaha. ikut ngga?” aku menggeleng. Mas Nanang beranjak dan masuk ke dalam rumah. ngapain bayangin Therapis kalo ada mbak Widya pikirku. aku mengambil rokokku yang jatuh dan mendongak terlihat ruang di dalam rumah dapur ibu kost yang terbuka, mbak Widya sedang duduk namun melihat kearah lain, memakai daster yang agak terangkat karena duduk, dua pahanya terbuka, mungkin karena didalam rumah jadi dia tidak risih. tapi pemandangan itu benar-benar membuat jantungku memompa darahku dengan cepat ke kontolku, yang pelan-pelan mulai mengeras. terlihat paha mulus mbak Widya, dan belahan memek tanpa bulu yang hanya ditutupin segaris celana dalam model Thong warna merah darah.
aku tidak menyangka kalo mbak Widya nakal juga, dengan memakai daleman seperti itu. aku memiringkan badanku agar terlihat lebih jelas tapi ternyata tanganku menyenggol gelas kopi dan terjatuh. buru-buru aku membereskan pecahan kaca tersebut, tapi ternyata mbak Widya mendengarnya dan dia sudah berdiri di depanku lalu membantuku membersihkan. ” saya mohon maaf mbak, nanti saya ganti” mbak Widya menjawab “ga papa Mas” tapi kenapa pandangannya tidak ke mukaku, namun ke bawah. Sial. kontolku masih ngaceng gara-gara melihat mbak Widya tadi. buru-buru aku memanggil lagi mbak Widya untuk mengalihkan perhatiannya. “mbak” dia hanya menjawab “gapapa Mas” pendek. ketus. Aku tidak bisa menutupinya karena posisiku sedang berjongkok. “mati aku, pasti dilaporin ke bapak kost atau suaminya” pikirku dalam hati. Anak kost yang pervert. apa dia tau kalo aku lagi melihat memeknya tadi. duuhhh!! diusir deeh.
dengan lemas aku naik ke kamar kostku dilantai dua mengambil handuk dan bersiap mandi. yaah. kenapa juga aku terusin tadi, malah ngaceng,malah kelihatan mbak Widya. malu kan. belum lagi kalo mbak Widya jijik risih. duuhhhh ******!.
anak-anak kost pulang semua sabtu gini. aku segera bersiap untuk berangkat. tapi setelah selesai dan bersiap untuk berganti tiba-tiba pintu kamarku di ketok aku masih memakai handuk membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang mengetok. “lapo yan ga mulih koen?…. ehhh mbak Widya maafffff” segera aku tutup dan aku berganti kaos dan celana pendek.
aku membuka pintu dan segera meminta maaf atas kejadian tadi ” mbak saya minta maaf sekali ya tadi saya tidak sengaja memecahkan gelas dan juga tidak berniatt…” aku segera memotong kata-kataku sendiri. karena aku berpikir mungkin mbak Widya tidak tahu, kenapa aku malah membuka omongan. “gapapa Mas kalo gelasnya, cuman satu ini juga” jawabnya, dengan senyum tertahan. Wah marah ini pikirku. kemudian dia melanjutkan, ” Mas Yudo ada waktu sebentar? saya mau nanya”
“oh iya mbak, sebentar saya ganti celana tidak sopan”
“gapapa Mas bentar aja kok, disitu dikursi balkon aja yah”
“baik mbak” kok bentar pikirku kecewa. lama juga gapapa biar aku bisa menikmati wajah manisnya.
aku masuk kamar untuk mengambil rokok dan segera menyusul mbak Widya di balkon kost, balkon ini bersebelahan dengan kamarku dan ada TV tempat anak-anak kost menonton TV.
Mbak Widya duduk dengan anggun, masih memakai daster tapi kali ini dia memakai cardigan warna krem untuk menutupi bagian atasnya.
“ada apa mbak” sembari mengambil rokok, dan menyulutnya. aku berusaha untuk tenang dan tidak curi-curi pandang ke tubuhnya. aku memang sudah lama tidak bercinta dengan cewek semenjak pindah di Gresik, karena pacarku juga minta putus karena tidak bisa LDR, awalnya aku masih phone sex atau video call untuk melepas syahwat, tapi tidak bisa berjalan karena tentu saja kita butuh sentuhan langsung.
raut wajah mbak Widya berubah, wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis. duhh aku takut kalo dia berpikir aku merendahkannya dengan kejadian tadi. aku tahu dia wanita yang sangat baik ramah dan tidak pernah kemana-mana kecuali bersama mertuanya. Senam atau zumba aja dia pergi dengan ibu kost.
“Mas aku boleh tanya?”
deg. deg. jantungku berdebar mendengar suaranya yang lembut. bercampur antara simpati dan nafsu. karena aku tidak pernah duduk sedekat itu dengan mbak Widya, tercium aroma keringat khas wanita yang membuat hasrat kelakianku muncul.
“iya mbak, mau tanya apa?”
“Mas Yud suka yah sama aku?” duarrrrrr bagai tersengat petir aku kaget setengah mati. aku berusaha mengatur nafasku, dan pikiranku untuk menjawab. “eh mbak sa…ya..eh gimana ya” ” ngga mungkin mbak saya suka”
tiba tiba mbak Widya menoleh dengan wajah yang sendu ” kenapa Mas? saya bukan tipe Mas yah?”
“maaf ya mbak..eh kok mbak Widya nanya seperti itu?” aku masih berusaha menata pikiranku agar menjawab dengan pas. “mbak cantik banget, ayu menurut saya” duhh kok malah bilang cantik sih. kacau pikiranku ini.
tapi mbak Widya malah kalem dan tersipu sedikit, “lho tapi kenapa tadi Mas bilang ga mungkin suka?”
aku bingung juga menjawabnya kan dia istrinya Mas Nanang. aku berusaha mencari-cari kata-kata yang pas untuk menjawab ini. karena sebenarnya aku memang suka sekali sampai-sampai aku membayangkan dia sewaktu mengocok kontolku sendiri. kadang sampai terbawa mimpi aku ngentotin dia.
dia memecahkan lamunan sesaatku, “Mas jawab. aku cuman mau tanya sekali” setelah itu aku ga bakal nanya lagi jadi please jawab jujur aja gapapa, mau apapun jawaban itu” pinta mbak Widya sembari dia melihat dalam ke mataku.
“kok rokoknya didiemin aja Mas” dia melihat ke rokokku yang hanya aku pegang tanpa aku hisap.
“eh iya mbak” “saya suka rokoknya eh saya hisap”
aku taruh sebatang rokokku di asbak dan mulai menjawab ” mbak” aku tidak berani memandang wajahnya yang manis karena takut kacau lagi pikiranku.
“iya mbak saya suka sama mbak Widya mulai saya datang pertama kali di kost ini”
tidak disangka wajah mbak Widya berubah, dia tersenyum seperti sewaktu pagi hari menyapaku, merekah seperti sewaktu sore hari menyapaku. dengan pelan dia berkata “saya juga Mas yud”
petir kedua menyambar. aku mengambil rokok baru dan menyulutnya. tapi kenapa kok korek ini ga bisa nyala-nyala. tiba tiba tangan mbak Widya memegang tanganku dan mengambil korek dan menyalakannya untukku, “ini Mas” sembari menyulut korek untuk rokok di mulutku.
“berarti bener ya Mas, selama ini yang Widya dengar di sewaktu Mas tidur, sewaktu Mas mandi” “maaf Mas aku sering mencuri dengar Mas ngigau sewaktu Widya menyapu balkon, Mas nyebut-nyebut nama Widya, kemudian juga pas Mas mandi kedengeran Mas nyebut-nyebut nama Widya”
“ehhh iya mbak maaf sekali, saya tidak bermaksud…” tiba-tiba Widya memotong ” udah Mas gapapa, saya suka kok”
“Mas onani kan sambil nyebut nama saya” “saya suka kok Mas begitu” “saya denger sewaktu saya menyetrika di samping kamar mandi pada awalnya saya tidak percaya tapi Mas sering kan begitu?”
maluuuuuuuu. seketika muka saya merah menahan malu.
“ngga usah malu Mas, tau ngga sih saya juga masturbasi sendiri dengerin itu” “tapi sedih aja kita memuaskan hasrat kita tapi berbatas tembok”
Gilaaaa. aku diam dan tiba-tiba membayangkan kami berdua masturbasi bersamaan dengan saling menyandar di tembak saling bertolak belakang.
“tapi Mas Nanang mbak?”
“jujur ya Mas, Mas Nanang ngga pernah nyentuh aku sudah lama, aku juga tidak tahu kenapa, apa mungkin aku kurang buat Mas Nanang. aku sering menggoda dia tapi dia acuh tak acuh” “sampai kadang aku tidur dengan pakaian sexy agar dia tergoda, tapi selalu ditinggal tidur atau ngerokok di bale bengong”
aku berpikir sendiri oh ini karena Mas Nanang sering jajan kali yah. tapi kenapa yah. hmmm. aku ga mungkin ngomong ini ke mbak Widya nanti bubar pernikahannya. aku tidak mau itu.
“maaf ya Mas aku jujur, Widya butuh puas juga Mas” “pernah aku maksa tapi itunya Mas Nanang ngga berdiri Mas, akhirnya setelah Mas Nanang tidur aku masturbasi sendiri”
tidak terpikir bahwa aku akan sedekat itu dengan mbak Widya dan dia bakalan cerita masalahnya yang rahasia.
“Mas kok diem aja”
“eh iya kan saya dengerin mbak Widya” aku simpati dan seneng denger ceritanya mbak Widya. kok bisa yah cewe secantik ini dianggurin.
“Mas tadi juga kelihatan itunya pas dibawah hehehe” sambil dia tersenyum lagi
waduhhhh pikirku
“gpp Mas Mas liat aku kan, Widya sengaja kok menggoda Mas”
“Widya pengen sama Mas”
“pengen apa mbak?”
tiba-tiba bibirnya mendekati pipiku dan mencium lembut, segera aku menolehkan wajahku dan mencium bibirnya yang selama ini hanya bisa aku lihat tersenyum padaku.
ternyata senyum itu benar memang buatku.
aku mencium mengulum bibir atasnya dengan lembut dan dia membalas. tanganku mulai meraba kedalam cardigannya memeluknya semakin erat dan meraba punggungnya yang lembut. Mbak Widya, menjauhkan wajahnya dan melepas cardiganya tanpa melepas pandangan matanya ke aku, ternyata dia mengenakan daster kain polos warna putih. tapi tanpa bra, terlihat putingnya mencuat keras dari dalam dasternya. segera tanganku berpindah ke susunya dan meremasnya pelan dari luar daster. tangan kanan mbak Widya berpindah untuk meremas paha bagian dalamku. aku memainkan putingnya dari luar dasternya dan dia melenguh lirih. “mmmh” masih mangatupkan bibirnya. tangan kirinya membuka kancing dasternya dan membimbing tanganku untuk memegang susunya. aku merasakan kulit halus di jemariku dan susu bulat kenyal yang sangat menggoda. mbak Widya melenguh lebih keras “mmmhh uhhhh” ketika tangan kananku memainkan putingnya dan tangan kiriku meremas pantatnya. bribrinya terbuka nafasnya tersengal-sengal karena birahi. dan dia membisikkan ke telingaku “Mas Widya basah” keringat mulai terlihat di lehernya membuatnya semakin terlihat menggoda terkena sinar matahari sore.
“dikamar yuk, takut kedengeran” pintaku
Mbak Widya menjawab dengan anggukan kecil dan mata sayu Widya menggandengku masuk ke kamar kostku.
Widya merebahkan diri di ranjangku tangannya meremas pelan susunya sambil tidak memalingkan matanya ke aku. kontolku yang dari tadi sudah gerah berontak menginginkan memek, sudah menjulang di dalam celana. aku menaikkan dasternya sampai lepas lewat kepalanya dan menciumi putingnya yang sudah mengeras, menjilati ujung putingnya sembari tanganku mencari gundukan memek. dia melenguh ketika jariku memainkan itilnya yang mengeras.
“masss ugggh”
aku memainkan itilnya dan memasukkan jariku ke arah lubang memek Widya. basah lengket hangat. dia sudah basah dan baru aku memainkan jadiku di bibir memeknya memutari lubang memeknya. tiba-tiba dia menarik tanganku dan mengarahkan jariku ke lubang memeknya.
“Mas keluarin aku mass, aku pengen” segera jari tengahku kumasukkan dan ku kocok memeknya sambil tetap ku pilin2 putingnya. terasa memeknya berkedut dijariku sewaktu aku menyentuk gundukan kecil didalamnya. kupercepat dan dia menggelinjang, nafasnya memburu dan tiba-tiba dia membusungkan badannya.
terpekik tertahan dia bilang “massss aku keluarrrr”
wajahnya memerah, badannya lunglai matanya terpejam dan bibirnya tersenyum menikmati orgasme pertamanya.
“jangan panggil mbak yah, Widya aja” ujarnya, sambil menatap sayu.
Dengan lemas tangannya menggapai kontol yang masih terbungkus celana.
“Mas juga keluarin yah pejunya” “ngga perlu bayangin lagi Mas, Widya disini buat Mas seutuhnya” katanya. dia duduk disamping tempat tidur. menurunkan celanaku pelan. kontolku sudah mengeras sejak tadi. merindukan memek wanita. dia memegang lembut kontolku yang sudah mengeras. mengocoknya perlahan sambil menempelkan bibirnya di kepala kontolku. menjilati lubang kencingku dengan lembut sembari tangan kirinya meremas pelerku. “oohh” rasanya nikmat sampai ke lututku, lama sekali aku tidak merasakan di kulum. Widya telaten sekali mengulum kepala kontolku dan menjilati seluruh batang kontolku. aku merasakan kenikmatan yang sangat ketika lidahnya bermain di ujung kepala kontolku. sesekali dia meludahi kepala kontolku dan mengocokknya dengan tangannya yang lembut. duhhh mau keluar ini. aku sudah hampir tidak tahan. dan aku bilang “Mas udah mau keluar Wid”
mbak Widya memelankan kocokannya dan segera berbaring di ranjang seraya membuka lebar kedua pahanya. “disini aja Mas, masukin di memeknya Widya”
“Ohhh” aku mendapat keberuntungan apa ini. aku berpikir Widya tidak mau untuk bener-bener bercinta. dengan muka girang, aku segera mengatur nafasku agar tidak cepat keluar, karena tadi kuluman dan kocokan Widya sungguh menyiksaku.
aku mengarahkan kepala ku ke memek Widya dan menjilat itilnya, mengulumnya. Widya menggelinjang keenakan. “masukin mass, please” aku tidak mau dan malahan memainkan lidahku di liang memeknya yang basah. “ahhhh” Widya semakin menggila, tubuhnya seperti tidak terkontrol. bibir vaginanya yang mungil juga tidak luput jadi jilatanku. kemudian lidahkku mulai turun ke lubang pantatnya. “aggghh” “masss aku belumpernh..nahhh” “nggg enak Mas enak” lidahku mencolok colok lubang pantat Widya.
“mass masukin mass please” “ludahin memek Widya Mas” aku agak tercengang tapi kulakukan saja, kukumpulkan ludahku di mulut dan ku ludahkan beberapa kali. juhhh. dan Widya melenguh keenakan. “ahhh” lagi Mas ” ahhh”. baru pertama aku menemukan hal ini. dan itu membuatku semakin bergairah, perasaan merendahkan tapi juga sekaligus sange melandaku.
“aku masukin ya sayang” kepala kontolku terasa sangat nikmat ketika memasukki liang memek Widya, dengan pelan sampai ke mentok kepangkalnya. nikmat sekali memek Widya ini. sekali itu juga Widya melenguh ” ahhh masss kontolnya enak, agak sakit tapi enak”
aku merebahkan badan dan memeluknya dan berbisik “memek Widya juga enak sekali”
dia balas membisikku “entot Widya Mas, Widya milik Mas”
setelah membiasakan memek Widya dengan kontolku aku menggenjot memek Widya. pantatku maju mundur berirama. Widya menancapkan kukunya di punggungku meremas punggungku. wajahnya terlihat sangat ayu berpeluh keringat, entah keringat siapa itu. tetesan keringat dari hidungku menjatuhi pipinya. dia membuka matanya yang sedari tadi terpejam menikmati sodokan kontolku, “Mas kencengin aku mau keluar ” tangannya meremas pantatku dan menarik2 kearah memeknya. aku segera mempercepat goyanganku. dan tidak lama dia membusungkan lagi badannya dan bilang “Mas ludahin mulutku” tanpa berpikir aku langsung melakukannya, padahal menurutku itu sangat tidak sopan. juhhhh. juuhhh. tapi ternyata itu berefek Widya mengalami orgasme hebat, dia menggelinjang hebat, setengah berteriak “akkkk mass aku keluaarrrr” untung tidak ada yang mendengar. “Mas keluarin juga ayok”
“dimana wid” disela nafasku tersengal menggenjot memek Widya. “keluarin dalam aja Mas gapapa”
sudah diubun dan tanpa berpikir aku segera mempercepat sodokanku, sampai rasa geli menjalar di batangku. “widdd aku keluar” dengan reflek aku menjambak rambutnya. Widya membalas sambil “ahhh” dia kaget tapi kemudian “aku juga Mas, jambak aku mass” “kluarin masss”
dan akhirnya kontolku menyemburkan pejuhnya kedalam liang memek diwidya, diapun
mendapatkan orgasmenya lagi.
kemudian aku jatuhkan badanku di badan Widya. wajahku berada sangat dengat dengan wajah manis Widya.
“aku sayang kamu wid”
“aku juga Mas, Widya sayang banget sama Mas yudo”

Sepupuku

Pengalaman Ku Bersama Sepupuku

Cerita ini terjadi sekitar 2011 dimana saat itu saya sudah duduk di bangku kuliah semster 6 dan adik sepupu saya bernama Dinia semester 2. kita sama sama kuliah di kota pelajar, namun dengan kampus yang berbeda. Dinia orangnya cantik, cukup sempurna menjadi wanita untuk ukuran wajah.. dan urusan body menurut saya bernilai 9,. ow iya kita tinggal 1 rumah di sana. Di kota pelajar ini kakek kita punya 1 rumah, dan rumah itu cukup besar karna basik nya kos kosan kusus wanita. Dan kita berdua menempati rumah induk. Saya sebagai 1 1 nya laki laki di situ di kasih tugas untuk menjaga si Dinia.. hehehe,,, “menjaga”.

Kunjungi situs judi terbaik di http://www.dewasatu1.com atau link alternatif di http://3.1.0.255 Situs poker terbaik di http://www.langitpoker3.com

Ilustrasi Body Sepupuku Waktu Saya Garap

Suatu pagi, rasa malas melanda ku untuk tidak bangun pagi karna tidak ada kelas saat itu, ku lihat jam menunjukan pukul setengah 8 pagi. Kudengar pintu yang terbuka, trnyata yang masuk adalah dinia membangunkan ku,

(D : dinia ; S : saya)

D : mas, minta tolong donk anterin ke kampus hari ini,..

S : aarrrgh.. emng motor kamu kenapa??

D : itu udah aku siapin sarapan kamu makan trus anter aku yaaa?? (dgn memasang muka yang sangat menggemaskan dengan ke dua tangan di jepitkan di area dada, membuat pemandangan yang cukup menyegarkan di pagi hari)

S : gt donk.. ada sarapan, ada jasa..

Setelah mandi dan menuju meja makan,

S: kamu ga makan?

D : diet..

S:sarapan penting buat otak mu, biar pinter kyk aku nihh.. lagian jg badan udah bagus.. mau diapain lagi sii

D : gendut tauuuk..sering di liatin juga kl di kampus kan risi rasanyaa.. pgn kecilin pantat susah cari celana kurang PD …

S : ya jelas pada liatin lirik2 kamu.. toket lo kegedean..!!

D : gimana ngecilinyaa??!

S : itu anugrah… kamu harus bersyukur atas itu..

D: mas suka??

S : brrrrr ( ane sdikit nyemprotin makanan karna kageet) biasa ajaahh… yuk berangkat!

.

Sesudah balik mengantar tiba2 kepikiran pertanyaan sepupu dan terbesit pikiran kepo untuk tau berapa ukuran Bh nya, ku liat ada angka 36 di sana. Ku pikir masuk kriteria besar menurut ku.. Saat itu memang aku tidak mempunyai pacar karna aku punya paham, tanpa pacar aku bisa senggol sana sini tanpa harus kawatir ada permasalahan.. so, saya tuntaskan dengan coli.. hahaha… berujung crot di BH hitam nya dan segera aku masukan ke kerangjang laundri..

Jam menunjukan pukul 14.00, baru asiknya main PES ada pintu terbuka,

D : masuk aja, duduk aja dulu..
R : yoi.. ada siapa di rumah?

D ; ada kakak aku..,, mas!!!? motornya ada… bentar y ren..

….

Lasung aku tutup leptop dan bersembunyi di pojok lemari, karna males saja kalo harus keluar kamar menemui orang yang ga aku kenal. Di buka nya pintu kamarku sama dinia…

D : ga ada trnyataa..keluar apa yak..

Dan dinia menutup kamar ku kudengar langkah kakinya menjauh dan menuju kebelakang dapur mencariku.. hingga akirnya dinia balik ke ruang tamu, (fyi kamar saya berada di belakang ruang tamu di skat tembok dan ada ventilasi diatasnya jadi apa yang mereka bicarakan samar2 akan terdengar)

R : ga ada??
D : pergi kyknya , tp motornya ada..
R : kewarung kalii.. atau sama temen nya..

D : mungkin.. hehehe… mau minum apa?
R : susu ada??

D : ga adaa! Jgn aneh2 .. nanti ada kakak ku..

R : ini kaca lis kan.. ga kliatan juga kl dari luar.. kakak mu juga ga ada drumah…kalo pulang pasti keliatan..

Sruuuphh…sruuphh…

S : anjriiit pd ngapain nihh.. wkwkkww.. tiba tiiba sepi cmn kedengeran orang ciuman..

D : rendiii… jgn ahh…

R : jangan kok masih nyosor aja? Main cepet aja sini.. ga tahan aku din…

Cuman terdengar suara pakaian bergesekan…

R : enak bgt sayang mulutmu..yang dalem sayang kulumnya..

D : sruuuuppphhh srupppph.. dah sini, masuk! Gatel juga punya gw..

R : aaahh.. mantep sayang anget bgt ni memek km..

D: ayo sayang keburu dateng kakak kuuhhh…aaahhhh…eeeemmmpphh..

R : kamu ga pengen oragme dulu?

D : y udah sini.. aku diatas… aaahhhhhgg.. mentok sayang.. emmmphh.. say my name honey..

R : enak bgt dinia memek kamu anget bgt.. love u dinia…

D : kulumin tete aku, remesin… dah mau sampe..eeeeehh…eemmmphh… aaaaaaakkhh…yeeeesss.. dapet sayang akuu.. ahhhh…

Terengah engah den di selingi tertawaan dari dinia..

D : muuuuuachh,..

R : nungging gih..(plaaaaakkk… plaaakk)

D : akkhh..

R : niiihh lonte kuu,… hmmm?? sukak kntol?? heemm?? enk bgt sii.. plaaakk.. ( terdengar beberapa kali tamparan di pantat)

D : iiiikkhh…terussss sayangg…he’em…. kntol kamu enak bgt..ayooo sayaang… tumpahin sayaaang.. peju in aku.. aaaakkhh…

R : ploook…plokkk…. udah pernah ngewe sama siapa aja?? ngaku??! …

D : cuman sama kamu sayangg…aaahhh sumpaahh…
R : body kyk gini, kakak mu pasti ngaceng tiap hari liatin kamu…hem?? …

D : ga tau syang.. aaaahkk…

R : nihh nih…. ni kontl nya kakak mu nihhh… hmmm… kamu di kontolin kakak mu nii… aaaahh..
D : ayoo mas adek mu ini udah basah masaaaakkhh…dianggurin …

R : sruuupphhh aakkhhh… nihhh balikk… uuuuuhhhh… enak bgt din.. uuhh.. telen sayang… bersihin niihh… ahhhh… manteeep gituu… telen semua… udah?? bersihin donk kntol ku..

..

Setelah itu hanya obrolan basa basi yang ku dengar. Rendi.. itulah nama pacar dari adik ku, tidak pernah ku ketahui siapa dia dan sejak kapan mereka pacaran,. jam menunjukan pukul 16.30 dan rendi pun pamit pulang. Dinia lemas dengan Rendi dan saya lemas dengan tangan saya…*bangkee

Tiba tiba dinia membuka pintu kamar ku..

D : lhoh??! mas kapan pulangnyaa??

S : emng dari tadi di siniii…ga kemana.. cuman ambil minum td di dapur…

D : td g adaa??!

S : ngapain si panik?! kyk apa ajaa..

D : ngintip enggak ?? 

:(

S : enggak! Bawel..cuman nguping…wkwkwkwkw….

D : aaaaaaaaa!!!!

Dinia lasung lari ke kamarnya dan mengunci kamarnyaa.. entah, mungkin malu atau bagaimana.

Malam pun datang aku melihat tv di ruang tengah dan dinia masih di kamarnya, perbedaan kamar kami adalah, dinia ada kamar mandi dalam, sedangkan saya tidak. Baru asik nya nonton tv dinia keluar dengan berbalut handuk yang menyelimuti tubuhnya lasung mendekati ku dengan tatapan curiga,

D : tadi pagi masuk kamar ku??

S : eeee…enggak…

D : serius?? kok lemari ku isinya berantakan?? dan ada BH ilang..

S : tauuukk! (dengan sedikit cuek sambil nonton tv walaupun cemas)

Seketika dinia ke belakang di dekat kamar mandi mencoba membolak balik kan tumpukan baju..

D : astagaa… ini apa?? ini baru kering lho… bauk sperma lagi, punya mas?? ya ampun mas.. kan tinggal bilang…

S : boleh??!

D : ya enggak laaahh!! wkwkwkw.. kasihan si jomblo 1 nii..

S : kampret! Brisik! Cukup laaah pake tangan sambil liat adek nyaa..

D : iiihhh.. kasihan tu burung kena tipu mulu sama tangan..

S : iya iyaa.. yang udah punya jatah burung..
D : pembicaaraan gini tu tabu baget lho mas sebenrnya..kok kita bisa santai aja ya?

S : dari dulu orang tua ku ngajarinya “open minded”… its ok menurutku.. lagian kan ortu kita kakak – ade, mungkin sama aja cara didiknya

D : jadi kalo ada yang berhubungan sm kluarga sendiri its ok menurut mas?

S : selama mereka ga ada paksaan , menurut ku ga msalah.. kalo ada unsur pemaksaan dr 1 pihak itu baru masalah.. kyk kamu nih, tiba2 perkosa aku.. masalah ituuu

D : yakaleeee aku perkosa mas?! ga kebalik?…. cieeee.. egnas…… tuu

S : kamu sii.. ehh boleh tanya ga?(sambil melorotkan boxer ku) gedean punya pacar mu apa punya ku? Tanya doank

D : woooi!! anjrittt niihh telanjang depan adek sendiri.. ehh.. gedenya kyknya sama cuman panjanganan punya mas deh kayaknya.. ( dinia tiba tiba memegang kntol ku yng sudah mengeras..) iya nihh panjangan punya mas..
saya pun terdiam bener bener terdiam, untuk pertama kalinya kntol ku di pegang adek sepupu sendiri

D : kalo punya rendi dua genggaman tangan gini udah tenggelem, ini palkon nya masi keliatan.. (dan sambil di kocok2 sedikit… terasa lembut tanganya dinia mengocok kemaluanku..)

Dinia melihat ku degnan muka sayu nya,

D : enak ga mas? (kocokanya pelan tp pasti berasa lembut dan nikmat sekali)

Mendengar perkataan itu aku hanya bisa mengangguk dengan membalas melihat matanya, semakin lama, tempo dari kocokan dinia semakin cepat,

S : uuuuuhh.. terus dek…mau keluar…

Crooottt…crooottt….croot..
D : banyak bgt mas… uuhh uhhh…. (dinia menjilati tangan nya yang blepotan sperma..)

S : enak??

D : he’em… sruuuupphh.. suka sih mas.. kan sehat juga? :3 kata dokter.. dokter online..hehe

S : ya kenapa yang di kontol ga di jilatin juga, masih banyak jg kan ini??

D : emng boleh??

S : boleh laahh…

Langsung dinia mendekatkan kepalanya ke kntl ku dan mulai menjilati nya… sruuuphhh..sruppphh…

D : hmmm… kntol mas anget spermanya agak agak encer.. banyakin sayur mas.. biar sehat dan manis.. sruuuppphhh.. udahhhh…. kok masi tegang aja si mas?? mmmmmphh sruuuupphhh…

Melihat dinia masih sibuk mengulum walaupun tadi sempat bilang sudah dan di lepasnya, tapi dikulumnya kembali batang ku dan beberapa kali di cium nya. Sejenak dinia bangun dan melihat ku, “udahan ya mas…” sambil melepaskan genggamanya.. dan berlalu ke kamarnya…

Riri Exibisionis Di Puncak

Perkenalkan, namaku Riri, umurku bulan ini 18 tahun. Aku masih semester 1 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, jadi masih banyak waktu main-main dan happy-happy bareng teman-teman 

. Kalau dari fisik sih aku tergolong cakep (pede XD) dengan wajah cantik, imut, rambut panjang sebahu, ukuran buah dada yang cukup gede juga menggemaskan, dibarengi kulit putih mulus tanpa cacat dan tubuh gak kurus-kurus amat ataupun gemuk-gemuk amat alias montok, pokoknya nafsuin deh kalau dipandang lelaki, bayangin aja sendiri.. 

Kalau dari segi sifat sih aku orangnya baik, ramah dan gak nakal-nakal amat cuma sedikit exibisionis aja. Aku juga masih perawan. Sejauh ini kalau riri pacaran cuma pegang-pegangan aja, kadang cium-ciuman dan grepe-grepean sambil berbugil ria kalau si dianya udah gak tahan amat 

, tapi tetap gak ada acara masuk-masukan karena menjaga perawan untuk suami tetap prinsip bagiku (ceileeehh…) sekian intronya, masuk ke cerita.

Liburan semester ini aku pengen habiskan beberapa hari di Puncak, mumpung papa ada Villa yang cukup besar, mewah dan ada kolam renangnya( siapa juga yang mau berenang ditempat dingin begini @,@). Aku mengendarai sendiri mobil Honda Jazz pink ku, karena ku anak gadis satu-satunya papa jadi aku sangat dimanjakan, senangnya.. Villa itu selalu terjaga kebersihannya karena ada Pak Mamat dan Mbok Narti yang selalu menjaga dan merawatnya, jadi aku gak perlu repot-repot lagi membersihkannya dulu. Seperti biasa kalau ada anggota keluarga ku ke sini Pak Mamat dan Mbok Narti balik ke rumahnya jadi aku bisa bebas mau ngapa-ngapain, mau telanjang ria juga bebas 

Kunjungi situs judi terbaik di http://www.dewasatu1.com atau link alternatif di http://3.1.0.255 Situs poker terbaik di http://www.langitpoker3.com

.

Malam harinya aku lagi pengen olahraga biar tetap hangat dan biar nanti tidurnya enak, setidaknya lompat tali dan lari di treadmill. Aku Cuma memakai kaos putih lengan pendek yang cukup ketat tanpa bra 

, celana hitam pendek yang juga cukup ketat. Tubuhku sudah kelihatan mengkilap karena keringat yang mengucur.
“kriuuukk” ada yang bunyi.

Duh perut aku yang lapar, baru sadar kalau aku belum makan malam dan waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, walau masih ada stock bahan-bahan makanan di dapur tapi aku lagi malas bikin. Untungnya ada tukang nasi goreng lewat, horeee..
“Bang, bang, nasi gorengnya satu ya bang..” pintaku pada bapak-bapak itu. Orangnya pendek dan agak gemuk dengan perut buncit, bermahkota rambut keriting yang sudah mulai beruban dan berlapiskan kulit hitam yang kusam. Ku taksir umurnya sekitar 50 tahunan.

“Pedas atau gak neng?” Tanyanya.
“Pedas dong, telurnya didadar ya bang” jawabku.
Tukang nasi goreng itu pun mulai membuat pesananku, tapi dasar lelaki, dianya melakukan tugasnya sambil melirik-lirik tubuhku yang mengkilap oleh keringat ini, apalagi dengan pakaian seksi gini. Karena bajuku yang ketat dan tanpa bra, membuat buah dada ku jadi tercetak dan pastinya jadi mangsa tatapan mesum tukang nasi goreng itu.

Hmm.. biarin deh dia liatin, sekali-sekali kasih ginian hihihi, batinku dalam hati.
“Habis olahraga ya neng?” tanyanya sela-sela masak nasi goreng
“Iya bang, biar segar” jawabku sambil tersenyum. “Habis ini juga mau berenang bentar” sambungku lagi.
“Malam-malam gini berenang neng? Gak dingin tuh?” tanyanya lagi
“Kan pendinginan bang, lagian aku gak pandai-pandai amat berenangnya jadi cuma rendamin badan sama mainin air aja” jawabku.
“Mau abang ajarin berenang neng?” tanyanya.
“Hmm, boleh tuh. Tapi Riri makan dulu yah” jawabku. Dianya Cuma senyum-senyum sendiri. Pasti dipikirannya saat ini penuh pikiran mesum terhadapku, dasar lelaki batinku.

“Oh ya, Nama neng siapa neng? Perkenalkan nama abang Slamet” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Riri” jawabku ku menggapai salam dari tangan kasarnya sambil tersenyum manis. Makin nikmat matanya menikmati tubuhku dari dekat. Pak Slamet melanjutkan masaknya kembali. Tidak lama kemudian nasi goreng pesanankupun siap.

“Nih neng nasi gorengnya, tujuh ribu aja untuk neng yang cantik ini”
“Haha, bisa aja si abang deh, nih bang uangnya” sambil mendekat padanya ku berikan uang itu padanya. Tentu saja matanya gak sia-siakan kesempatan melihat buah dadaku lebih dekat. Aku menangkap matanya melihat dadaku.

“Ayo.. liat apaan? Ish ish bang Slamet matanya nakal yah.. “
“Eh-eh gak neng anu.. anu” katanya gelagapan.
“Anu- anu apa? dasar” kataku. “Gak jadi ah ajarin berenangnya, yang ada nanti malah matanya liatin tubuh Riri mulu” sambil memasang muka cemberut pura-pura bete.
“Gak kok neng, maaf neng”
“hmm, yaudah deh kali ni Riri maafin,” sambil masih memasang wajah cemberut padanya.
Aku pun melanjutkan untuk makan nasi goreng, tapi aku makannya di teras depan, ku lihat pak slamet merapikan gerobak dorong dagangannya. Tidak lama aku telah menghabiskan makan malamku karena ku benar-benar lapar.

“Nih bang piringnya” kataku sambil menyodorkan piringnya.
“Jadi nih bang mau ajarin riri berenang?” tanyaku padanya. Ya iyalah dia pasti gak bakal jawab nolak, kesempatan langka bagi tukang nasi goreng ini puas-puasin matanya ke tubuh gadis kota yang putih mulus dengan wajah cantik ini.

“Kalau gitu masukin aja gerobaknya bang terus tutup pagarnya” walau sekitar Villa ini cukup sepi, tapi untuk jaga-jaga biar gak nimbulkan masalah nanti mending gerobak itu aku suruh masuk.
“Iya neng” patuhnya.
Kami pun langsung ke halaman belakang. Disana terdapat kolam renang yang cukup gede plus gazebo. Aku berjalan didepan pak Slamet yang mengikutiku, tentu saja matanya gak lepas dari bongkahan pantatku yang bulat nafsuin.
“Riri pakai baju ini aja yah bang, gak bawa baju renang soalnya” kataku saat kami sampai di pinggir kolam.
“Eh, iya neng” katanya. Aku pun masuk ke kolam itu, cukup dingin ternyata.
“Bang Slamet…. Ayo masuk, katanya mau ajarin Riri berenang, cepetan” kataku padanya.

Dia masih bingung, sepertinya dia takut pakaiannya basah, aku pun ngerti.
“Buka aja bang baju sama celananya, bang Slamet pake kolor kan? Gak papa bang, pake kolor aja” Ujarku padanya dari dalam kolam. Dia pun mulai melepaskan baju dan celana panjangnya, dan tampaklah kolor kumalnya yang membungkus anunya yang tampak telah menonjol keras, tapi aku pura-pura gak tahu. Diapun mengikutiku masuk kedalam kolam. Tentu saja pikiran tukang nasi goreng itu makin mesum saja. Bayangkan saja, seorang gadis cantik montok putih mulus basah-basahan dengan pria tua tukang nasi goreng yang cuma pake kolor aja, kolornya hijau lagi -,-.

Dimulailah pengajaran renang oleh pria tua tersebut. Aku mempraktekkan apa yang dikatakannya, kadang dia memegang tanganku sambil aku mencoba mengayuh kakiku. Dengan posisi tersebut tentu saja wajahku mengadap ke perutnya, tampak sekilas olehku tonjolan dari kolor kumalnya dari jarak dekat begini.
Hihi, pasti dia ngaceng berat nih, batinku. Lama-lama di kolam malam-malam gini bikin gak tahan dinginnya. Aku pun meminta stop dulu belajar renang yang penuh dengan hawa kemesuman ini karena gak tahan dengan dinginnya. Aku pun keluar dari kolam diikuti oleh pak Slamet. Tentu saja pakaianku yang basah makin mencetak tubuhku, bahkan putting payudaraku tampak mencuat menjadi santapan matanya.

“Ish baaang, matanya nakal lagi ya.. awas ya” kataku pura-pura bete lagi.
“anu-anu, duh Sorry neng..” katanya gelagapan.
“Anu-anu mulu, tuh anunya tegang gitu, nafsu amat yah bang liat badanku tercetak pakaian basah gini?”
“Hehe, sorry deh neng, ya gimana lagi neng, pasti ngaceng dong kalau ngeliat neng kaya gini” katanya malu-malu menghadap tanah sambil garuk-garuk kepala.
Kami pun mengelap badan basah kami dengan handuk, karena yang aku bawa ke halaman belakang cuma satu, jadi kami pakai bergantian.
“Dasar mesum” Sungutku sambil melemparkan handuk padanya namun karena pak Slamet kurang sigap, handuk itu malah jatuh ke kolam dan basah. Jadinya pak Slamet gak jadi mengeringkan badannya.

“Ya udah masuk yuk bang, bilas dulu pake air hangat” Kami pun masuk ke dalam
Rumah. ” Bang, kayanya kalau manggil abang kemudaan yah, Riri panggil bapak aja gimana?” tanpa mempedulikan jawabannya aku terus berjalan masuk ke dalam.
“Nah, bapak pakai kamar mandi di bawah, Riri yang diatas yah..” kataku sambil memberikan handuk padanya, mungkin dia berharap kami mandi bersama, enak saja, haha. Aku pun naik ke lantai atas dimana kamarku berada yang memang ada kamar mandinya.

“Neeeng” teriak pak Slamet, tapi aku tidak mempedulikannya karena sedang melepaskan pakaian yang menempel ditubuhku.
“Neeeng” teriaknya lagi. “Apaan sih” , aku pun keluar kamar dengan hanya mengenakan handuk putih yang hanya menutupi dari dada hingga paha atasku.
“Apaan sih pak”
“Ini neng airnya gak mau nyala” katanya yang telah menggunakan handuk, tidak memakai apa-apa lagi di balik handuk itu karena tampak kolor kumalnya telah tergeletak di lantai.
Dengan cuma memakai handuk tanpa memakai apa-apa lagi di dalamnya, di sampingku ada pria tua yang juga hanya memakai handuk dengan penis yang mengacung, bayangkan saja betapa mesumnya keadaan ini. Aku pun mencek keran air tersebut, ternyata memang tidak mau nyala, kamar mandi ini memang jarang digunakan, tapi gak nyangka ternyata bisa rusak begini. “Yaudah pak, pake kamar mandi atas aja, tapi Riri dulu yang pake, baru habis itu Bapak yang pake, gak bareng loh mandinya” Ujarku sambil ketawa. “Oke deh neng”

“Yuk pak, ke atas, tunggu didalam kamar Riri aja” kataku tersenyum sambil menarik tangan kasarnya berjalan ke arah kamarku, tentu saja dia ngikut aja bagai sapi yang dicolok hidungnya, hihi. Kami pun sampai di dalam kamarku.
“Riri mandi dulu ya pak, tunggu sini aja, tapi jangan ngintip hehe” kataku sambil tersenyum manis padanya dan tertawa kecil.
“I- iya neng” jawabnya. Aku pun melanjutkan untuk mandi, air hangat ini terasa menyenangkan 

, tanpa ku ketahui handuk ku ternyata jatuh ke lantai dan basah. Hal ini baru ku ketahui saat selesai mandi. “Duh, sial amat, pake jatuh pula ini handuk. Paak.. Pak.. ambilkan handuk dong.. itu ada di lemari”
“I-Iya neng” katanya sambil menuju lemari dan mencari-cari handuk, taapi ternyata tidak menemukannya. “Gak ada neng handuknya, dimananya yah?” teriaknya.
“Ihhh.. di lemari pak, masa sih gak ad” teriakku dari dalam kamar mandi. Aku sadar ternyata handuk yang ku maksud itu yang ku pakai tadi waktu mengeringkan badan di kolam tadi dan handuk itu tergeletak basah di dalam kolam. Jadi satu-satunya handuk yang masih layak yang sedang dipakai bapak tukang nasi goreng ini.”Duhh.. ah ya sudah kalau gitu” kata ku dalam hati.

“Pakk” kataku dari dalam kamar mandi.
“Iya neng, ada apa?”
“Pinjam handuknya bapak sebentar yah, sebentar aja” Pintaku padanya. Yang tentu saja kalau iya, maka bapak itu tidak memakai apa-apa lagi alias bugil, di dalam kamar gadis cantik.
“eh, itu.. tapi bapak jadi gak pakai apa-apa dong neng” katanya.
“Iya, bentar aja kok pak, nanti kalau bapak masuk angin Riri yang tanggung jawab deh” ujarku.
“Ya udah neng, bentar” sambil pria tua itu membuka handuknya, tampak lah penis yang mengacung tegak yang dari tadi menahan nafsu.” Ini neng, buka pintunya neng”. Aku pun sedikit membuka pintu dan hanya menjulurkan tanganku keluar.

“Mana pak? Sini handuknya” kataku dengan hanya tangan yang mencoba menggapai-gapai handuk. Pak Slamet mendekat ke arah kamar mandi. Kami dalam keadaan sama-sama telanjang bulat saat itu. Penis pak Slamet semakin menjadi-jadi tegangnya, mendekati tanganku, hanya beberapa senti saja jarak tanganku dengan penisnya yang mengacung tegak. Kalau mau dia bisa saja menempelkan penisnya ke tanganku, hihi. Tapi pak Slamet masih bisa menahan dan memberi handuk itu ke tanganku.
Akupun menerimanya dan menutup pintu kembali.

“Pak.. pak..” teriakku lagi dari dalam kamar mandi.
“Iya neng, apa lagi neng?” tentunya pak Slamet menantikan kesempatan-kesempatan mesum berikutnya terhadapku.
“Ini pak, tolong ambilkan baju untuk Riri dong pak, itu di dalam lemari” kataku yang masih mengeringkan badan. Tentu saja si tua bangka itu mati kesenangan karena ada kesempatan mewujudkan fantasinya.
“Pilih aja yang bapak suka, apa aja boleh kok, terserah bapak deh maunya Riri pake baju kaya apa” kataku lagi. Sambil masih telanjang bulat, bapak itu membuka lemari kemudian mengacak-acaknya dan memilih-milih pakaian untuk ku kenakan. Tentu saja dia menemukan beberapa pakaian santai yang seksi, yang ketat maupun longgar serta dalaman-dalaman yang menggiurkan XD.

” Celana dalamnya jangan lupa yah pak, tapi kalau bh kalau bapak maunya Riri gak pakai juga gak papa” kataku, “hehe rasain, bapak mesum sih”, kataku dalam hati. Akhirnya dia selesai memilih pakaian untuk ku.
“Ini neng pakaiannya, hehe” dengan tawa mesumnya. Akupun mengeluarkan tanganku untuk mengambil yang dia berikan. Sebuah kaos biru muda longgar yang belahan lehernya sampai ke dada, yang tentunya akan menampakkan belahan dadaku bila ku kenakan tapi panjangnya sampai sedikit dibawah bongkahan pantatku, dan sebuah celana dalam putih. Jadi di balik kaos longgar itu cuma ada celana dalam putih itu saja. Betul-betul mesum. Aku pun mengenakan pakaian yang dia berikan tersebut.
Sebelum keluar kamar, aku menyerahkan kembali handuknya yang tadi aku pinjam. “Pak, ini handuknya” kataku mengeluarkan tanganku menyerahkan handuk itu.

“Iya neng”
“Makasih yah pak”
Tidak lama aku pun keluar kamar, kulihat bapak itu telah mengenakan handuknya kembali, tentu saja dengan penis masih mengacung tegak di baliknya. Melihat aku yang memakai pakaian seseksi itu tentu saja membuat acungan penisnya makin menjadi-jadi. Pakaian ini memang betul-betul seksi, memperlihatkan paha mulus putihku, dan bila berjinjit tentu saja seluruh bongkahan pantat bulatku akan nampak semua.

” Ih, bapak sih, ngasih Riri baju kaya gini. Gimana pak, Riri pake baju yang bapak pilihkan ini? Seksi ya? Tuh kayanya anunya bapak ngaceng berat tuh liat Riri gini, hihi”
“Eh, eh, a.. aa.. iya neng, neng Riri seksi amat, duh, sorry ya neng, si otongnya gak bisa nahan” katanya gelagapan.
“Hehe, iya pak ya udah, gak papa kok, namanya juga laki-laki pak” kataku.

“Mandi deh pak, tunggu apa lagi? belum puas liatin Ririnya?” sambungku. Matanya masih menelusuri tubuhku, dengan pandangan nafsu yang menggebu-gebu.
“eh, i-iya neng” Pak Slamet melangkah masuk ke kamar mandi sambil masih menatap lekat-lekat tubuhku. Sebelum masuk ke kamar, dia berhenti lagi dan menatapku.
“Apa lagi sih pak? Masuk sana.. ih bapak gak puas-puas liatin dari tadi, nanti handuknya Riri tarik lho..” kataku menggoda sambil tersenyum nakal padanya.
“Mau dong neng, hehe” katanya diiringi tawa mesumnya.

“Ih dasar.. mesuuum. Hihihi, udah gak tahan banget ya pak? ya udah sana lepasin nafsunya, onani gih sana”kataku lagi.
“Hehe, iya deh neng, tapi onaninya sambil ngebayangin neng riri boleh ya?” tanyanya mesum.
“Iya-iya, sini masuk, lama amat” kataku ketawa kecil sambil menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Akupun kini kini telah berada di dalam kamar mandi dengan pak Slamet.
“Hehe, kok ikutan masuk sih neng?” tanyanya.

“Bapak sih lama amat, ya udah deh bapak gak usah sambil ngebayangin riri aja onaninya, tapi liat langsung aja” kataku
“Ja-jadi neng nemenin bapak onani? Hehe, ok deh neng” tawa penuh kemesumannya.
“Iyaaaa, bapak puas-puasin deh liatin Riri sambil onani, keluarin tuh pejunya banyak-banyak, huh.. dasar. ” kata ku senyum-senyum padanya.
“Sini pak, biar Riri yang bukain handuknya, lama amat.” Kataku mendekatinya. Handuk itu pun terbuka, penis tegak itu pun akhirnya mengacung-ngacung menunjuk ke arahku.
“Tuh pak, ngaceng gitu.. hihi pasti nafsu banget yah pak, udah tegang poll, hihi” tawaku
“Hehe, iya neng. Bapak mulai ngocok ya neng”katanya
“Hihi, iya pak kocok aj, Riri disini aja kok nemanin bapak ngocok sampai pejunya keluar, hihihi” balasku.
“Oh.. uhh..”erangnya sambil mulai mengocokkan tangannya di penisnya. Aku hanya memandanginya saja, kadang sambil tersenyum-senyum manis padanya biar dia tambah nafsu.

“Napa pak? Enak yah.. erangannya gitu amat hihi” tanyaku sambil ketawa-ketawa kecil.
“I- iya neng, ohh.. uhhhhh hoooooohh… enak neng” lenguhnya
“hihi, kalau bapak mau ngomong kotor ke Riri, ngomong aj pak, mumpung Riri disini, kan biar Onaninya lebih enak” ujarku tersenyum padanya.
“iya neng… oohh.. Riri.. bapak mau remas-remas susumu, ohhh.. uuhhhh…. Bapak mau genjotin Riri, ngentotin Riri abis-abisan, semprotin badan neng Riri pake peju bapak… oohhhhhhhhhh hoh hohhhh” lenguhnya semakin menjadi-jadi, kocokan tangannya di penisnya juga semakin cepat. Aku hanya senyum-senyum saja padanya mendengar ocehan kotornya, kadang memutar dan meliukkan badanku untuk menambah nafsunya padaku.

“ohhhh… neng Riri, genjotin neng Riri, oughhhhh, neng Riri nafsuin, binaaal… pemuas nafsu lelaki… oh, remas susu neng Riri.. oughhh”
“Hihi, ayo pak.. ayo.. semangat pak”Kataku ketawa juga mendengar celotehnya.

“Neng, bapak keluar neng.. ohh uhhhh” Akhirnya keluar juga pejunya, menyemprot sekencang-kencangnya kearahku. Wajah jeleknya makin menjadi jelek saat dia melenguh orgasme begitu. Untung jarakku darinya gak dekat-dekat amat sehingga gak ada peju yang mengenaiku. Sangat banyak peju yang dia keluarin, berlumuran di lantai kamar mandiku. Dengan nafas ngos-ngosan bapak itu terduduk di pinggir Bathtub.

“Enak pak? Puas yah? Hihi”
“Enak banget neng, hosh hosh..” nafasnya masih memburu.
“Ya udah, bapak mandi deh, jangan lupa nanti lantainya disiram yah, ntar lengket-lengket, Riri keluar dulu ya.” Kataku
“Oke neng, hehe” senyumnya penuh kepuasan.
“Oh, ya, bapak mau Riri bikinin kopi gak?”tanyaku.
“Boleh neng, gak pakai gula ya neng” jawabnya. Aku pun keluar kamar menginggalkan dia sendiri yang masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru dia alami.