Istri Biadab,Pergi Dinas Malah Main Kuda2 an Sama Cowo Lain.

Seliana adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Seliana berumur 28 tahun, dia adalah seorang Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Seliana telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Seliana dapat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis. Dia mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan dinas ke semarang dengan team.

Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Ron dan Nita melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Seliana pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.

Menjelang tengah malam, Seliana tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Seliana membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Ron dan Nita sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali.

Nita yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Ron seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,

“Ssshhh…, sshhh…”, karena mungkin takut membangunkan Seliana.

Kedua tangan Ron sedang meremas-remas kedua buah dada Nita yang kecil tetapi padat berisi itu. Seliana sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Seliana mengharapkan mereka cepat selesai dan Ron segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Nita agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Ron sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Seliana berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka.

Pada saat Seliana mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Seliana sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Ron sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Seliana berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Ron dan Nita sudah selesai dan Nita dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur.

Ron yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Seliana, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Seliana. Seliana menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Ron untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Ron malu, karena dipikirnya Ron melakukan hal itu lebih disebabkan karena Ron masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Seliana memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Ron akan menghentikan kegiatannya itu.

Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Ron bangkit dan duduk di samping Seliana. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Seliana dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan,

“Psssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru…, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu…, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam”, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Seliana bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Seliana, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Seliana.

Badan Seliana menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Seliana seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Ron melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Seliana. Jari-jari Ron membuka satu persatu kancing daster Seliana, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Seliana, sehingga terlihatlah payudara Seliana yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.

Sekarang Seliana tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Ron. Ron sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Nita, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur.

Sejak saat itu Ron bertekad untuk tidak akan membebaskan Seliana. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Ron akan menikmati tubuh Seliana berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Seliana terlalu sayang untuk disimpan oleh Seliana sendiri pikir Ron. Ron mendorong tubuh Seliana dan mulai meremas-remas payudara Seliana yang telah terbuka itu,

“Dengerin sayang, you akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal you baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan”.

Kesadaran Seliana mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Seliana perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Ron yang sedang merangkak di atasnya. Seliana mencoba mendorong badan Ron sambil berkata,

“Ron, apa yang sedang kau lakukan ini?”, “Sadarlah Ron, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Karena menganggap Ron berada dalam keadaan mabuk, Seliana mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Ron.

Akan tetapi Ron yang telah sangat terangsang melihat tubuh Seliana yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang.

“Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! You emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!”, kata Ron sambil menekan tubuhnya ke tubuh Seliana.

Seliana berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Ron akan membalas berlaku kasar padanya.

Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.

Sambil menjilat bibirnya Ron berbaring di sisi Seliana.

“Lin, lebih baik you mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa you dan saya perkosa you habis-habisan. Kalau you nurutin, you akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit”. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Seliana, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Seliana. “Bodi you oke banget!”, kata Ron. “Coba you berputar Seliana!”. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Seliana berputar membelakangi Ron. Dan dirasakanya tangan Ron sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba.

Kemudian Ron menyibakkan rambut Seliana, dan dihirupnya leher Seliana dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Seliana. Sambil melakukan hal itu tangan Ron berpindah menuju kemaluan Seliana. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata,

“Kasihan you, Seliana, pasti suami you tidak tahu cara membahagiakan you?”,

“Tapi tenang aja sayang, dengan saya, you nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, you bakalan merasakan bagaimana menjadi wNita sejati!”. Sambil memutar kembali tubuh Seliana.

Setelah itu Ron mengambil tangan Seliana dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.

Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Seliana tersentak, belum sempat Seliana dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Ron dan dengan cepat Ron telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Ron. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Ron lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Seliana,

“Apa you mau saya masukin itu?”,

“Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann…, Roon…”, Seliana dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Ron.

Seliana mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Ron agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewNitaannya.

Sambil tersenyum Ron berkata lagi,

“You tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik you diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!”. Ron lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Seliana dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Seliana dengan tanpa dapat dihalangi lagi.

Testis Ron mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Seliana, sementara Seliana megap-megap karena dorongan keras Ron.

Seliana belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Ron. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Ron yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Seliana mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Ron, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Seliana hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan.

Seliana hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Seliana mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Ron di atasnya. Ron melihat Seliana mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Seliana sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Ron merasakan tangan Seliana merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Seliana. Ron terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Seliana.

Ron sekarang ingin membuat Seliana orgasme terlebih dahulu. Seliana semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Ron, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Ron, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Ron.

Sekarang Seliana secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Ron, sehingga badan Ron mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Ron terasa semakin keras, sehingga Ron semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Seliana dalam-dalam. Seliana merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Seliana tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,

“Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”.

Kedua pahanya melingkari pantat Ron dan dengan kuat menjepit serta menekan ke bawah, disertai tubuhnya yang mengejang dan kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, benar-benar suatu orgasme yang dahsyat telah melanda Seliana. Ron merasakan penisnya terjepit dengan kuat oleh dinding kemaluan Seliana yang berdenyut-denyut disertai isapan kuat seakan-akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan dinding vagina Seliana dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelus kepala penisnya.

Setelah beristirahat sejenak dan melihat Seliana sudah agak tenang, Ron mulai memompa lagi. Pompaan Ron kali ini segera dibalas oleh Seliana, pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penis Ron serasa dilumat dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi, ketika pinggul Seliana berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba Ron merasakan penisnya terjepit dengan kuat dan dinding-dinding kemaluan Seliana berdenyut-denyut secara teratur, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru kemudian bergoyang aneh lagi.

Wah, suatu sensasi melanda perasaan Ron, suatu hubungan kelamin yang belum pernah dinikmatinya dengan wanita manapun juga selama ini. Menyesal Ron karena tidak dari dulu-dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Seliana makin bervariasi. Terkadang Ron malah meminta Seliana berhenti bergoyang untuk sekedar menarik nafas panjang. Lumatan dinding kemaluan Seliana pada penis Ron membuatnya geli-geli dan serasa akan ‘meledak’.

Ron tidak ingin cepat-cepat sampai, karena masih ingin menikmati

“elusan” vagina Seliana. Tetapi gerakan-gerakan di dalam liang kewNitaan Seliana semakin menggila dan semakin liar.

Hingga akhirnya Ron harus menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, semakin cepat Ron bergerak mengimbangi goyangan pinggul Seliana, semakin terasa pula rangsangan yang akan meletupkan lahar panas yang sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat. Dan akhirnya, pada tusukan yang terdalam, Ron menyemprotkan maninya kuat-kuat di dalam liang kewanitaan Seliana, sambil mengejang, melayang, bergetar. Pada detik-detik saat Ron melayang tadi, tiba-tiba kaki Seliana yang pada awalnya mengangkang, diangkatnya dan menjepit pinggul Ron kuat-kuat. Amat sangat kuat.

Lalu tubuhnya ikut mengejang beberapa detik, mengendor dan terus mengejang lagi, lagi dan lagi…, Seliana pun tidak sanggup menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak-beliak, serta keseluruhan tubuhnya bergetar dengan hebat tanpa terkendali, seiring dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Seliana.

“Rooonn, aduuuh, Roon, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Roon….!”.

Ron tersenyum puas melihat tubuh Seliana terguncang-guncang karena orgasme selama 15 detik tanpa henti-hentinya. Kemudian tangan Seliana dengan eratnya menekan pantat Ron ke arah selangkangannya sambil kakinya menggelepar-gelepar ke kiri kanan. Ron pun terus menggerakkan penisnya untuk menggosok klitoris Seliana. Setelah orgasmenya selesai, tubuh Seliana langsung terkulai lemas tak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan dan kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Seliana merasa bagian-bagian tubuhnya seolah terlepas dan badannya tidak dapat digerakkan sama sekali.

Setelah gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Seliana kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa dia sedang terkapar di bawah tindihan badan kekar lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja memberikan kepuasan yang tiada tara padanya. Suatu perasaan malu dan menyesal melandanya, bagaimana dia bisa begitu gampang ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar dan Seliana mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tubuhnya yang masih menghimpit badan Seliana, Ron mencoba membujuknya dengan memberikan berbagai alasan antara lain karena ia terlalu banyak minum sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.

Sambil membujuk dan mengelus-elus rambut Seliana dengan perlahan-lahan penisnya mulai tegang lagi dan dengan halus penisnya yang memang telah berada tepat di depan kemaluan Elis ditekan perlahan-lahan agar masuk ke dalam kewanitaan Seliana. Pada saat merasakan penis Ron mulai menerobos masuk ke dalam kewantaannya, Seliana bereaksi sedikit dengan mencoba memberontak lemah tapi akhirnya diam pasrah dan membiarkan penis besar tersebut masuk sepenuhnya ke dalam liang kewantaannya.

Dengan perlahan-lahan Ron menggerakkan badannya naik-turun, sehingga lama-kelamaan tubuh Seliana mulai terangsang kembali dan bereaksi, dan pergumulan kedua insan tersebut semakin lama semakin seru mendaki puncak kepuasan dan kenikmatan, terlupa akan segala penyesalan. Pertarungan mereka terus berlanjut sepanjang malam dan baru berhenti menjelang fajar menyingsing keesokan harinya.

Pukul 10 pagi keduanya baru terbangun dan terlihat Nita telah berpakaian rapi, sedang menikmati sarapan paginya sambil mengerling ke arah mereka dengan senyum-senyum rahasia. Pada mulanya Seliana merasa sangat malu terhadap Nita, tapi melihat reaksi Nita yang seperti itu, seakan-akan mengajak bersekutu, akhirnya Seliana menjadi terbiasa.

Istri Liar Digenjot Ama Kontol Tukang Pijat,Suami Cuckold Malah Asyik Nonton.

Awalnya Pada hari selasa, kebetulan aku ama istri aku cuti kerja, lalu kami berniat untuk cari makan siang. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada 1 ruko pijat reflexi.

Di tempat reflexi tersebut menurut penjelasan pemijatnya tidak hanya kaki saja yg di pijat tapi juga seluruh badan, dari pundak kepala, pundak sampai kaki, dan pemijat nya semua laki-laki. Kebetulan pada hari biasa masih sepi dan cuma ada 2 pemijat.

Ditempat itu ada 2 bilik kamar yg hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat semuanya dan tempat beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja .

Kita berdua akhirnya masuk kesana untuk coba pijat reflexinya, tp karena aku laper banget, makanya aku suruh istri aku masuk dan aku cari makan.

Sebelum pergi aku liat dulu seperti apa sih dipijatnya, istri aku yg memang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, memang keliatan seksi sekali. Istri aku kemudian berbaring dengan santai dan pertama2 memang dipijit telapak kaki, setelah beberapa saat memperhatikan kemudian aku pamitan untuk cari makan di keluar.

Setelah selesai makan, aku balik lagi ke tempat refleksi itu, dan aku liat tidak ada orang lagi di depan, jadi aku langsung masuk ke dalam, karena tidak mau menggangu aku hanya duduk2 di depan bilik kamar istri aku.

Sekilas aku dengar suara leguhan istri aku, tp itu mungkin karena enak di pijit, tapi karena penasaran akhirnya aku coba intip di balik kain bilik kamar tsb. ternyata istri aku memang sedang menikmati pijatan sang pemijat. Pemijat tsb mulai memijat paha istri aku yang putih, pemijat itu meminta agar istri aku tidur tengkurap menghadap tempat tidur.

Lalu pemijat itu trus memijat paha istri aku, kemudian meminta dengan sopan agar celana pendek nya di buka saja, karena agak menggangu. Istri aku pertama menolak, tp karena di kasih keterangan yang menyakinkan akhirnya celana istri aku dibuka juga, tp dengan syarat ditutup selimut.

Waktu aku liat istri aku buka celana, langsung jantung aku berdebar kencang, ada perasahaan suka melihat istri aku di sentuh oleh lelaki lain.

Setelah ditutupi kain putih, si pemijat juga langsung mulai memijat di daerah paha, aku liat dia sempat menyentuh pantat nya dan daerah V nya, istri aku mungkin percaya sama si pemijat atau memang sedang menikmati, krn dia tidak protes sama sekali, dan ini membuat si pemijat trus memijat daerah paha dan sekitarnya. Melihat itu aku jadi tambah gila, sambil menggosok si adik yg memang sudah tegang berat.

Si pemijat mungkin sengaja atau tidak, membuat kain penutupnya agak terjatuh, sehingga dia bisa melihat langsung paha istri aku yang putih mulus, dengan dibungkus cd saja.

Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan tsb dan  diperhatikan juga ada tanda basah di cd istri aku. Tanpa sadar istri aku, mungkin juga keenakan trus dipijat tanpa dilindungi kain, ini membuat si pemijat makin berani mencoba meijat daerah pantat dan selankangan istri aku.

Akhirnya si pemijat mengambil kembali kain yg jatuh dan menutupi badan istri aku lagi, tp yg buat aku kaget, si pemijat meminta istri aku untuk membuka bajunya karena akan di pijat daerah punggung dan leher, setelah di beri penjelasan akhirnya istri aku membuka bajunya sambil masih tiduran, jadi si pemijat tidak melihat krn ditutupi kain.

Istri aku sekarang hanya menggunakan bh dan cd saja, ntah apa yang membuat dia berani spt itu, apa ada hipnotis ya? tp aku sangat menikmati pemandangan ini. Setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta ijin untuk membuka kain krn ingin dikasih minyak punggungnya, istri aku hanya mengganguk saja, tp tanpa sadar kali, si pemijat juga membuka bra istri aku dan anehnya istri aku diam saja.

Lalu si pemijat mulai menggosok punggung istri dan aku intip si pemijat juga kadang2 melihat pinggiran tete istri aku yg keliatan dan juga sempat menyentuh nya, krn bh nya sdh terlepas ke samping. Kemudian si pemijat memijit leher dengan sentuhan yang lembut, kayakya ini membuat istri aku terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah.

Melihat situasi itu si pemijat kemudian mencoba membuka kain dan mulai memijat daerah pantat dan sekitarnya, ini membuat istri aku tambah terangsang keliatan sekali cd nya yg sudah basah.

Kemudian si pemijat dengan sopan membuka cd istri aku tanpa ijin lagi, dan dia memulai aksinya dengan menggosok gosok daerah selangkangan istri aku.

Istri aku sempat bilang jangan tapi si pemijat itu dengan lembut mengatakan tidak apa2 nikamati saja. Aku bingung kok istri aku nurut saja, ada perasaan cemburu tp masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istri aku di sentuh oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).

Si pemijat sambil membuka celananya dengan 1 tangan krn tangan yg 1 lagi masih menggosok2 daerah clitoris di selangkangan istri aku.

Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu2 yg tidak terlalu lebat, mungkin baru di cukur, ketika akan membuka baju nya, si pemijat mengkat pantat istri aku sedikit dan langsung menjilat nya.

Sehingga dia dapat membuka bajunya. Istri aku yang di jilat meki nya langsung keliatan spt tersengat aliran listri, dan tidak berapa lama kemudian keliatan istri aku mengejang krn klimaks nya.

Si pemijat tersenyum sinis, krn telah berhasil membuat istri aku klimaks. Setelah sama2 telanjang kemudian si pemijat membalikan badan istri aku, sehinggan kelihatan lah payudaranya yg indah dengan putih berwarna hitam yg sdh menegang,

Tapi dengan masih malu2 istri aku menutupi dadanya dan bilang takut suaminya datang, dan dengan halus si pemijat bilang tidak usah takut krn aku masih sedang makan di luar. Akhirnya karena rangsangan yang hebat .

Istri aku membuka tangannya dan oleh si pemijat tangan istri aku di pegang ke samping kepala istri aku, sehinggan dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada adn ketiak istri aku yang mulus dan wangi. Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istri aku di jilat dan di ciumi terus, sehingga istri aku kegelian dan terangsang hebat.

Kemudian si pemijat mulai melepas tangan istri aku tp posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala, lalu mulai menciumi payaudara istri aku yang masih kencang krn kami blm mempunyai anak. Istri aku keliatan sangat menikmati puting nya di isap dan di jilat.

Setelah selesai menikmati payudara istri aku di mulai menjilat vagina istri aku yg sdh basah, krn mungkin sdh tidak tahan, akhirnya si pemijat ingin memasukkan kontol nya tp sebelumnya dia melap vagina istri aku.

Mungkin karena sdh basah dengan cairan vagina dan ludah nya. ketika mau masuk istri aku keliatan agak kaget mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari aku punya, mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istri aku.

Istri aku pernah bilang kontol aku ngak besar dan dia kurang menikmatinya, tp mau gimana lagi, krn sdh dikasih seperti ini. Si pemijat akhirnya berhasil memasukan kontolnya dan mulai menyodoknya serta tidak lupa menciumi payudara istri aku dan juga ketiaknya secara bergantian.

Aku yang sdh tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan mani aku di sapu tangan yg aku bawa. Si pemijat setelah 10 menit keliatan mau klimaks, istri aku bilang jangan di buang didalam, akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang mani nya di badan istri aku, sampai kena ke muka istri aku. Istri aku keliatan puas sekali.

Setelah istrihat sebentar aku liat mereka langsung beres2 dan si pemijat dengan mesra me-lap air main di tubuh dan muka istri aku serta memakaikan bh istri aku dengan meremas remas lagi dan mencium leher istri aku dengan mesranya.

Karena takut aku dateng maka mereka membereskan semuanya dengan rapi, aku diam diam langsung keluar, dan kemudian masuk lagi, aku liat istri aku dengan wajah cerah, sedang duduk dibangku ruang tunggu dan mengajak aku pulang.

Berlanjut kemudian dari sahabatku PParman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya.

PParman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Yanto, kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..

“Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Yanto istri loe harus bugil total. Mau nggak dia?” Parman bertanya padaku.

“Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?

“Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Yanto itu udah tua banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah. Tapi istri loe harus setuju dulu.”

“Nanti gue coba tanya dia deh..”

“Pokoknya sip banget deh!”

Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vina istriku. Aku ceritakan apa yang kudengar dari Parman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung merah padam.

“Malu ah.. telanjang di depan orang lain” protesnya.

“Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Parman istrinya bilang dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba memek koq”

“Ih..” muka Vina semakin merah.

“Kenapa khusus cewek?”

“Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan.”

Vina mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya kuhubungi Parman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Yanto. Setelah itu kucoba menghubungi Pak Yanto dari nomor HP yang kudapat dari Parman.

Singkatnya Pak Yanto akan datang ke rumahku esok malamnya dengan perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vina. Esok malamnya sesuai janji Pak Yanto tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang sudah tua sekali.

Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri sementara Vina hanya melirikku dengan pandangan ragu.

Kami menuju ke ruang tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Yanto langsung “To the point” menghamparkan selimut tebal di lantai.

“Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini” katanya sambil menunjuk selimut sebagai alas.

“Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian” sambungnya lagi.

Wajah Vina merona merah. Dia kelihatan malu karena itu aku membantunya melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.

“Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu” Pak Yanto memotong.

Vina berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Yanto mengeluarkan dua botol kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun.

Entah kenapa saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.

Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vina yang mulus dan dipenuhi rambut halus. Nampaknya Vina merasa enak dengan pijatan Pak Yanto di kepala dan tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya.

Dari tengkuk diteruskan ke bahu Vina yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai telapak tangan. Setelah itu Pak Yanto meminta agar istriku melepas tali bra di punggungnya.

Vina melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah tidak menutupi tubuh Vina dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Yanto mengolesi punggung Vina dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta memijat punggung. Vina tampak menikmati pijatan ini.

“Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau suami Ibu yang melepasnya?” Pak Yanto tiba-tiba berkata.

Wajah Vina memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Yanto melepas celana dalam Vina tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vina yang indah dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang.

Pak Yanto melumuri dua bongkahan pantat Vina dengan minyak dan segera memijat dengan perlahan. Kali ini Vina mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vina mulai terangsang birahinya dengan pijatan Pak Yanto.

Apalagi ketika Pak Yanto memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vina berubah menjadi lebih berat dan matanya terpejam.

Pak Yanto tetap memijat seperti tidak terjadi apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.

“Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini” Pak Yanto menjelaskan.

“Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah” lanjutnya.

Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi belum pernah dipakainya.

Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vina. Kali ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vina merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.

“Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah suami ibu agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu.” kata Pak Yanto setelah selesai memijat kaki istriku.

Kali ini kelihatannya Vina sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil posisi duduk bersila membelakangi Pak Yanto. Tubuh indah Vina yang telanjang bulat berhadapan denganku. Pak Yanto kembali menggosokkan minyak kedua pada telapak tangannya. Pak Yanto terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan Vina.

“Saya minta izin kepada Bapak dan Ibu Vina untuk melakukan pijatan di tubuh bagian depan Ibu Vina..”

“Silakan, Pak Yanto” jawabku

“Silakan..” jawab Vina.

Langkah pertama Pak Yanto adalah melumuri bagian sekitar vagina Vina dengan minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu kemaluan.

Mulut Vina sedikit terbuka. Aku tahu Vina merasakan nikmat disamping rasa malu. Pijatan Pak Yanto pasti membuat birahinya naik ke ubun-ubun.

Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke dalam celah vagina Vina yang membuat Vina menahan nafas tetapi kemudian beralih. Bulu kemaluan Vina dibasahi oleh minyak pijat Pak Yanto sementara Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.

Pak Yanto melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vina, dan memijat perut terutama bagian pusar sehingga membuat Vina kegelian. Hanya sebentar saja, setelah itu Pak Yanto meminta Vina mengangkat tangannya.

“Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu.”

Vina mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak Yanto memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.

“Ihh.. geli pak..” Vina menggelinjang.

“Ditahan Bu. ”

Pak Yanto mengabaikan Vina yang sedikit menggeliat menahan geli dan melanjutkan pijatannya di ketiak Vina. Setelah itu Pak Yanto mengambil minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya.

Selanjutnya dari belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vina yang langsung membuat Vina mendesah. Pak Yanto melakukan massage lembut pada susu Vina yang sudah tegang.

Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vina sangat terangsang dan lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.

Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku sangat bernafsu.

Berbeda dengan Pak Yanto yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa, Vina merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.

“Ukhh..” kali ini Vina mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya. Ingin sekali aku menggantikan Pak Yanto memijat susu Vina.

Pak Yanto menarik puting susu Vina dengan telunjuk dan jempolnya dengan perlahan sehingga membuat Vina mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai akhirnya Vina merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali pijatan si kakek ini.

“Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy” Pak Yanto menyudahi aksinya.

“Ya Pak?”

Pak Yanto menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.

“Apa ini, Pak Yanto?”

“Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa.” bisiknya sambil tersenyum.

Setelah itu aku membayar Pak Yanto dan ia pamit pulang. Vina sudah mengenakan pakaiannya lagi.

“Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Yanto.” kataku.

Vina tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vina yang sedang dipijat.

Vina membalas tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.

“Setubuhi aku.. aku ingin segera kamu masuk ke sini” Vina meracau sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.

“Beres sayang.. ”

Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya dari belakang. Vina segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding. Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin.

Proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina. Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vina merintih nikmat. Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas berlendir dan nikmat.

“Aahh..” Vina menghela nafas, tubuhnya bergetar.

Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat. Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vina tentang hal itu.

“Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku.” Vina balas berbisik.

“Okee..”

Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian Pak Yanto dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu aku tuangkan pada tanganku.

“Apa itu..?” tanya Vina heran.

“Ini minyak dari Pak Yanto, bagus buat payudara kamu”

“Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku sampai kamu puas.”

Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua susunya yang bergelantungan bebas.

Lalu aku mulai mengocok vaginanya dengan lembut. Vina menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan, tangan kiri di susu kiri.

Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia mengintip sambil onani, aku tidak perduli.

“Mhh.. terus.. aah.. ” Vina merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vina menggeliat.

Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku. Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan nafsunya.

Sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vina menjerit keenakan. Tiba-tiba tubuh Vina menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya.

Lalu Vina melepaskan orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata Pak Yanto, Vina orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vina bangkit kembali nafsunya dan mulai merintih-rintih.

“sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar..” Vina meracau membuat aku tercengang.

“Nanti kamu kesakitan..” jawabku cepat disela kenikmatan.

“Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh”

“As you wish.. Istriku yang cantiik..”

Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan nikmat.

“Eaahh..” Vina menjerit keras.

“Aah..iya..ah.. begiituu..”

Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vina. Berisik sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vina.

Entah apa yang ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.

“Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin merasakan.. tenagamu.. uuhh..”

Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan kasar. Lagi-lagi Vina menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur nikmat.

“Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu..” Vina setengah berteriak.

“Jangan ngaco.. sayang..”

“Ngga apa ap.. aa.. aah..!”

Vina kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vina sampai pinggangku pegal. Vina mendesah lemah.

“Keluarin.. yang banyak di dalam..” katanya pelan.

“Aku.. sedang subur.. biar jadi anak..”

Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vina. Kami berdua jatuh berlutut di lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.

“Anget..” Vina menggumam.

“Apanya?” tanyaku terengah-engah.

“Sperma kamu, di rahimku..”

“Emang biasanya dingin ya?”

“Yang sekarang lebih..”

Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih sudah menghilang. Puas sudah dia melihat “Live show” kami. Setelah itu kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vina yang tubuhnya penuh minyak.

Tetapi setelah selesai mandi Vina kembali ganas dan “Memperkosa” aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!

Istri Perek Ketagihan Kontol Sopir Tetangga Yang Perkasa.

Ayunda ditugaskan sebagai pimpinan cabang sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu maka ia harus berpisah dgn suaminya yg bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota. Ayunda menyewa sebuah kamar paviliun yg dihuni oleh seorang perempuan tua yg anak-anaknya tinggal di kota semua.

Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yg dapat di terimanya dari para bawahannya di kantor. Ayunda pulang pergi ke kantor selalu menumpang Kendaraan yg dimiliki oleh tetangganya yg bernama Safrudin, kebetulan Safrudin telah kenal baik dgn Mbok Minah pemilik rumah yg ditempati Ayunda. Safrudin seorang duda yg berumur kurang lebih 45 tahun, cerai dan tak memiliki anak. Jarak rumah Safrudin dan Ayunda memang jauh karena di desa itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Ayunda, maka secara perlahan ada perasaan suka Safrudin terhadap Ayunda namun segala keinginan itu di buang jauh-jauh oleh Safrudin karena ia tahu Ayunda telah mempunyai suami dan setiap minggu suami Ayunda selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Safrudin tak enak hati, namun ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan.

Safrudin setiap hari selalu melihat sosok keelokan badan Ayunda tapi bagaimana caranya menaklukannya, sedang gairahnya selalu minta dituntaskan saat bersama Ayunda diatas bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Safrudin dgn meminta pertolongan seorang orang pintar, ia berkeinginan agar Ayunda mau dgnnya. Atas bantuan orang pintar itu, Safrudin merasa puas dan mulailah ia mencoba pelet pemberian orang pintarnya.

Siang saat Ayunda menumpang Kendaraan Safrudin melihat paha Ayunda yg putih mulus itu, kejadian itu membuat gairah Safrudin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun yg longgar sehingga kejantanannya yg menonjol terlihat oleh Ayunda, Safrudin malu dan berusaha membuang muka, sedang Ayunda merasa tak enak hati dan menutupkan pahanya, wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Safrudin itu memang besar dan panjang tak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dgn Safrudin akan dapat memberikan anak baginya serta kepuasan yg jauh berbeda saat bercinta dgn suaminya, memang saat akhir-akhir ini frekuensi hubungan seks dgn suaminya agak berkurang dan suaminya cepat ejakulasi, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil dan ini semakin membuat ia uring-uringan serta kepuasan yg dia harapkan dari suaminya tak dapat Ayunda nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Safrudin taklah sebanding dgnnya karena status sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yg tak masuk katagorinya di tambah lagi kehidupan Safrudin yg bergelimang dgn kuda kadang membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Ayunda butuh bantuan Safrudin mengantar jemput, ditambah Safrudin memang baik terhadapnya.

Kalau dilihat sosok Ayunda, ia seorang perempuan karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dgn Manto, belun dikaruniai anak, tingginya 161 cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga membuat para lelaki ingin dekat dgnnya dan menjamah buah dadanya yg montok dan seksi.

Dgn berbekal pelet yg diberikan gurunya, Safrudin mendatangi rumah Ayunda. Malam itu gerimis dan Safrudin mengetuk pintu rumah Ayunda. Kebetulan yg membukakan pintu adalah Ayunda yg saat itu sedang membaca majalah.

“Eee.. Bang Safrudin tumben ada apa Bang?” tanya Ayunda.

“Ooo.. aku ingin nonton acara bola karena aku tak punya televisi apa boleh Bu Ayunda?” jawab Safrudin.

“Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu..” Ayunda menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat.

“Sebentar ya Bang?” Ayunda ke belakang, membuatkan minuman untuk Safrudin. Safrudin duduk diruangan itu sambil melihat televisi.

Tak berapa lama Ayunda keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil, sambil jongkok ia menyilakan Safrudin minum. Saat itu Safrudin sempat melihat belahan dada Ayunda yg mulus sehingga Safrudin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Ayunda. Sambil minum Safrudin menanyakan, “Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?”

“Ooo Mbok Minah sudah tidur,” jawab Ayunda.

“Bagaimana kabarnya Bang?” Ayunda membuka pembicaraan.

“Baik-baik saja,” jawab Safrudin sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Safrudin berulang-ulang mencoba manteranya, saat itu Ayunda sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah mengenai sasaran, Safrudin berusaha mengajak Ayunda bicara tentang rumah tangga Ayunda dan suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Ayunda terangsang.

Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?” tanya Safrudin.

“Lho malu aku Bang, soalnya suami aku sibuk dan aku juga sibuk bekerja bagaimana kami mau berhubungan dan suami aku selalu egois dalam bercinta.” jawab Ayunda menjelaskan.

“Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?” tanya Safrudin.

“Jangan ngomong itu dong Bang, aku malu masa rahasia kamar mau aku omongin ama Abang?” jawab Ayunda.

“Bu Ayunda, aku tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?” Safrudin berkata dgn nada terangsang.

“Haa.. dgn siapa?” jawab Ayunda,

“Sedang Manto suamiku di kota,” timpalnya.

“Dgn aku..” jawab Safrudin.

“Haa gila! masa aku selingkuh?” Ayunda menerangkan sambil mengeser duduknya. Safrudin merasa yakin Ayunda tak menolak jika ia memegang tangannya.

“Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah.” Ayunda mengeser duduknya.

“Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?” jawab Safrudin memegang tangan Ayunda dan mencoba memeluk badan mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Safrudin Ayunda beranjak ke kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Safrudin tadi telah mengundang gairahnya. Ia biarkan Safrudin ikut ke kamarnya.

Saat berada di kamar, Ayunda hanya duduk di pingir ranjangnya dan Safrudin berusaha membangkitkan nafsu Ayunda dgn meraba dada dan menciumi bibir Ayunda dgn rakus sebagaimana ia telah lama tak merasakan kehangatan badan perempuan. Safrudin berusaha meremas dada Ayunda dan membuka blous tidur itu dgn tergesa-gesa, ia tak sabar ingin menuntaskan gairahnya selama ini. Sementara mulutnya tak puas-puasnya terus menjelajahi leher jenjang Ayunda turun ke dada yg masih ditutupi BH pink itu. Sementara Ayunda hanya pasrah terhadap perbuatan Safrudin, ia hanya menikmati saat gairahnya ingin dituntaskan.

Kemudian tangan Safrudin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yg putingnya telah memerah karena remasan tangan Safrudin. Dgn mulutnya, Safrudin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Safrudin berusaha membuka CD Ayunda dan mengorek isi goa terlarang itu. Safrudin pun telah telanjang bulat lalu ia meminta Ayunda untuk mengulum gagang kemaluannya, Ayunda menolak karena gagang kejantanan Safrudin panjang, besar dan baunya membuat Ayunda jijik. Dgn paksa Safrudin memasukan gagang kejantanannya ke mulut Ayunda , dgn terpaksa gagang kejantanan itu masuk dan Ayunda menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Safrudin. Safrudin pun tak ketinggalan dgn caranya ia memainkan lidahnya di rongga kemaluan Ayunda, lebih-lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan rongga kemaluan itu dan dijilatinya dgn telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Ayunda klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Safrudin. Saat lebih kurang 20 menit Safrudin pun memuncratkan maninya ke mulut Ayunda dan sempat tertelan oleh Ayunda.

Kemudian Safrudin mengganti posisi berhadap-hadapan, Ayunda ditelentangkannya di ranjang dan di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Ayunda dgn menekuk tungkai Ayunda ke bahunya. Sambil tangannya merangsang Ayunda kedua kalinya Safrudin pun meremas buah dada Ayunda dan mengorek isi rongga kemaluan Ayunda yg telah memerah itu, lalu Ayunda kembali dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Safrudin inilah saat-saat yg di tunggu-tunggunya, paha yg telah terbuka itu ia masukkan gagang kejantanannya dgn hati-hati takut akan menyakiti rongga kemaluan Ayunda yg kecil itu. Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya gagang kejantanannya dapat masuk dgn pelan dan ini sempat membuat Ayunda kesakitan.

“Ouu.. jangan keras-keras Bang, ntar berdarah,” kata Ayunda.

“Sebentar ya.. Yu sedikit lagi,” kata Safrudin sambil mendorong masuk gagang kejantanannya ke dalam rongga kemaluan sempit itu. Dgn kesakitan Ayunda hanya membiarkan aksi Safrudin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Safrudin supaya Ayunda tak kesakitan.

“Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh..” hanya itu yg terdengar dari mulut Ayunda dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Safrudin menyemburkan air kenikmatannya dalam rongga kemaluan Ayunda sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di samping Ayunda hingga pagi.

Permainan cinta itu berlangsung tiga kali dan membuat Ayunda serasa dilolosi tulang berulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tak kuat dan energinya terkuras oleh Safrudin malam itu.

Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu, karena Ayunda telah berada dibawah pengaruh pelet Safrudin dan saat suaminya datang Ayunda pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tak membuat curiga suami dan masyarakat di desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Safrudin yg memang agak jauh dari rumah penduduk lainnya.

Ayunda pun rajin menggunakan pil KB karena ia juga takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa akhirnya ia positif hamil, ia amat gusar. Namun karena pintarnya Ayunda memasang jadwal dgn suaminya maka suaminya amat senang sekali padahal Safrudin tahu Benih itu adalah anaknya karena hampir setiap ada kesempatan ia melakukanya dgn Ayunda sedangkan dengan suaminya Ayunda hanya sekali per 20 hari dan tak rutin. Akhirnya anak Ayunda lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Ayunda pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tak ada kemiripan anaknya dengan Manto malah yg ada hanya mirip Safrudin. Sejak Ayunda berada di kota, secara sembunyi-sembunyi Safrudin menyempatkan diri untuk berkencan dgn Ayunda karena Ayunda sudah tak dapat melepaskan diri dari pengaruh pelet Safrudin.