Istri Perek Ketagihan Kontol Sopir Tetangga Yang Perkasa.

Ayunda ditugaskan sebagai pimpinan cabang sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu maka ia harus berpisah dgn suaminya yg bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota. Ayunda menyewa sebuah kamar paviliun yg dihuni oleh seorang perempuan tua yg anak-anaknya tinggal di kota semua.

Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yg dapat di terimanya dari para bawahannya di kantor. Ayunda pulang pergi ke kantor selalu menumpang Kendaraan yg dimiliki oleh tetangganya yg bernama Safrudin, kebetulan Safrudin telah kenal baik dgn Mbok Minah pemilik rumah yg ditempati Ayunda. Safrudin seorang duda yg berumur kurang lebih 45 tahun, cerai dan tak memiliki anak. Jarak rumah Safrudin dan Ayunda memang jauh karena di desa itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Ayunda, maka secara perlahan ada perasaan suka Safrudin terhadap Ayunda namun segala keinginan itu di buang jauh-jauh oleh Safrudin karena ia tahu Ayunda telah mempunyai suami dan setiap minggu suami Ayunda selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Safrudin tak enak hati, namun ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan.

Safrudin setiap hari selalu melihat sosok keelokan badan Ayunda tapi bagaimana caranya menaklukannya, sedang gairahnya selalu minta dituntaskan saat bersama Ayunda diatas bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Safrudin dgn meminta pertolongan seorang orang pintar, ia berkeinginan agar Ayunda mau dgnnya. Atas bantuan orang pintar itu, Safrudin merasa puas dan mulailah ia mencoba pelet pemberian orang pintarnya.

Siang saat Ayunda menumpang Kendaraan Safrudin melihat paha Ayunda yg putih mulus itu, kejadian itu membuat gairah Safrudin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun yg longgar sehingga kejantanannya yg menonjol terlihat oleh Ayunda, Safrudin malu dan berusaha membuang muka, sedang Ayunda merasa tak enak hati dan menutupkan pahanya, wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Safrudin itu memang besar dan panjang tak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dgn Safrudin akan dapat memberikan anak baginya serta kepuasan yg jauh berbeda saat bercinta dgn suaminya, memang saat akhir-akhir ini frekuensi hubungan seks dgn suaminya agak berkurang dan suaminya cepat ejakulasi, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil dan ini semakin membuat ia uring-uringan serta kepuasan yg dia harapkan dari suaminya tak dapat Ayunda nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Safrudin taklah sebanding dgnnya karena status sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yg tak masuk katagorinya di tambah lagi kehidupan Safrudin yg bergelimang dgn kuda kadang membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Ayunda butuh bantuan Safrudin mengantar jemput, ditambah Safrudin memang baik terhadapnya.

Kalau dilihat sosok Ayunda, ia seorang perempuan karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dgn Manto, belun dikaruniai anak, tingginya 161 cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga membuat para lelaki ingin dekat dgnnya dan menjamah buah dadanya yg montok dan seksi.

Dgn berbekal pelet yg diberikan gurunya, Safrudin mendatangi rumah Ayunda. Malam itu gerimis dan Safrudin mengetuk pintu rumah Ayunda. Kebetulan yg membukakan pintu adalah Ayunda yg saat itu sedang membaca majalah.

“Eee.. Bang Safrudin tumben ada apa Bang?” tanya Ayunda.

“Ooo.. aku ingin nonton acara bola karena aku tak punya televisi apa boleh Bu Ayunda?” jawab Safrudin.

“Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu..” Ayunda menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat.

“Sebentar ya Bang?” Ayunda ke belakang, membuatkan minuman untuk Safrudin. Safrudin duduk diruangan itu sambil melihat televisi.

Tak berapa lama Ayunda keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil, sambil jongkok ia menyilakan Safrudin minum. Saat itu Safrudin sempat melihat belahan dada Ayunda yg mulus sehingga Safrudin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Ayunda. Sambil minum Safrudin menanyakan, “Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?”

“Ooo Mbok Minah sudah tidur,” jawab Ayunda.

“Bagaimana kabarnya Bang?” Ayunda membuka pembicaraan.

“Baik-baik saja,” jawab Safrudin sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Safrudin berulang-ulang mencoba manteranya, saat itu Ayunda sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah mengenai sasaran, Safrudin berusaha mengajak Ayunda bicara tentang rumah tangga Ayunda dan suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Ayunda terangsang.

Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?” tanya Safrudin.

“Lho malu aku Bang, soalnya suami aku sibuk dan aku juga sibuk bekerja bagaimana kami mau berhubungan dan suami aku selalu egois dalam bercinta.” jawab Ayunda menjelaskan.

“Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?” tanya Safrudin.

“Jangan ngomong itu dong Bang, aku malu masa rahasia kamar mau aku omongin ama Abang?” jawab Ayunda.

“Bu Ayunda, aku tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?” Safrudin berkata dgn nada terangsang.

“Haa.. dgn siapa?” jawab Ayunda,

“Sedang Manto suamiku di kota,” timpalnya.

“Dgn aku..” jawab Safrudin.

“Haa gila! masa aku selingkuh?” Ayunda menerangkan sambil mengeser duduknya. Safrudin merasa yakin Ayunda tak menolak jika ia memegang tangannya.

“Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah.” Ayunda mengeser duduknya.

“Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?” jawab Safrudin memegang tangan Ayunda dan mencoba memeluk badan mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Safrudin Ayunda beranjak ke kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Safrudin tadi telah mengundang gairahnya. Ia biarkan Safrudin ikut ke kamarnya.

Saat berada di kamar, Ayunda hanya duduk di pingir ranjangnya dan Safrudin berusaha membangkitkan nafsu Ayunda dgn meraba dada dan menciumi bibir Ayunda dgn rakus sebagaimana ia telah lama tak merasakan kehangatan badan perempuan. Safrudin berusaha meremas dada Ayunda dan membuka blous tidur itu dgn tergesa-gesa, ia tak sabar ingin menuntaskan gairahnya selama ini. Sementara mulutnya tak puas-puasnya terus menjelajahi leher jenjang Ayunda turun ke dada yg masih ditutupi BH pink itu. Sementara Ayunda hanya pasrah terhadap perbuatan Safrudin, ia hanya menikmati saat gairahnya ingin dituntaskan.

Kemudian tangan Safrudin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yg putingnya telah memerah karena remasan tangan Safrudin. Dgn mulutnya, Safrudin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Safrudin berusaha membuka CD Ayunda dan mengorek isi goa terlarang itu. Safrudin pun telah telanjang bulat lalu ia meminta Ayunda untuk mengulum gagang kemaluannya, Ayunda menolak karena gagang kejantanan Safrudin panjang, besar dan baunya membuat Ayunda jijik. Dgn paksa Safrudin memasukan gagang kejantanannya ke mulut Ayunda , dgn terpaksa gagang kejantanan itu masuk dan Ayunda menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Safrudin. Safrudin pun tak ketinggalan dgn caranya ia memainkan lidahnya di rongga kemaluan Ayunda, lebih-lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan rongga kemaluan itu dan dijilatinya dgn telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Ayunda klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Safrudin. Saat lebih kurang 20 menit Safrudin pun memuncratkan maninya ke mulut Ayunda dan sempat tertelan oleh Ayunda.

Kemudian Safrudin mengganti posisi berhadap-hadapan, Ayunda ditelentangkannya di ranjang dan di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Ayunda dgn menekuk tungkai Ayunda ke bahunya. Sambil tangannya merangsang Ayunda kedua kalinya Safrudin pun meremas buah dada Ayunda dan mengorek isi rongga kemaluan Ayunda yg telah memerah itu, lalu Ayunda kembali dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Safrudin inilah saat-saat yg di tunggu-tunggunya, paha yg telah terbuka itu ia masukkan gagang kejantanannya dgn hati-hati takut akan menyakiti rongga kemaluan Ayunda yg kecil itu. Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya gagang kejantanannya dapat masuk dgn pelan dan ini sempat membuat Ayunda kesakitan.

“Ouu.. jangan keras-keras Bang, ntar berdarah,” kata Ayunda.

“Sebentar ya.. Yu sedikit lagi,” kata Safrudin sambil mendorong masuk gagang kejantanannya ke dalam rongga kemaluan sempit itu. Dgn kesakitan Ayunda hanya membiarkan aksi Safrudin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Safrudin supaya Ayunda tak kesakitan.

“Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh..” hanya itu yg terdengar dari mulut Ayunda dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Safrudin menyemburkan air kenikmatannya dalam rongga kemaluan Ayunda sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di samping Ayunda hingga pagi.

Permainan cinta itu berlangsung tiga kali dan membuat Ayunda serasa dilolosi tulang berulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tak kuat dan energinya terkuras oleh Safrudin malam itu.

Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu, karena Ayunda telah berada dibawah pengaruh pelet Safrudin dan saat suaminya datang Ayunda pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tak membuat curiga suami dan masyarakat di desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Safrudin yg memang agak jauh dari rumah penduduk lainnya.

Ayunda pun rajin menggunakan pil KB karena ia juga takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa akhirnya ia positif hamil, ia amat gusar. Namun karena pintarnya Ayunda memasang jadwal dgn suaminya maka suaminya amat senang sekali padahal Safrudin tahu Benih itu adalah anaknya karena hampir setiap ada kesempatan ia melakukanya dgn Ayunda sedangkan dengan suaminya Ayunda hanya sekali per 20 hari dan tak rutin. Akhirnya anak Ayunda lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Ayunda pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tak ada kemiripan anaknya dengan Manto malah yg ada hanya mirip Safrudin. Sejak Ayunda berada di kota, secara sembunyi-sembunyi Safrudin menyempatkan diri untuk berkencan dgn Ayunda karena Ayunda sudah tak dapat melepaskan diri dari pengaruh pelet Safrudin.

Janda Hot Horny Mau Di Ngewein ama Sales Asuransi.

“Tok tok tok…” suara pintu kamarku terdengar diketuk membuyarkan lamunanku.

“Siapa?” sahutku.

“Saya, Nyah…” terdengar suara pembantuku di balik pintu.

“Ada apa, Bi?

“Ada tamu mau ketemu Nyonya…”

“Dari mana?” aku bertanya, sebab aku merasa tidak ada janji bertemu dengan siapapun.

“Katanya dari perusahaan asuransi, udah janji ingin bertemu Nyonya.”

Oh ya aku baru ingat, bahwa aku meminta perusahan asuransi datang ke rumahku pada hari ini, saat aku libur kerja, karena aku ingin merevisi asuransi atas rumah pribadiku yang telah jatuh tempo.

“Suruh dia masuk dulu dan tunggu di ruang tamu, Bi!” bergegas aku mengenakan pakaianku, hanya daster terusan tanpa bra dan celana dalam, karena aku tak mau tamuku menunggu lama, wajahku pun hanya sedikit kuoles bedak.

Setelah aku rasa rapi, bergegas aku menemuinya.

“Selamat siang, Bu!” sapaan hormat menyambutku saat aku tiba di ruang tamu.

“Selamat siang,” aku membalas salamnya.

“Perkenalkan, Bu! saya Steven marketing executive di perusahaan xxx,” tangannya mengundangku bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya, dan mempersilakannya duduk. Sejenak aku perhatikan, usianya kutaksir 25-an, tapi yang membuatku agak tertarik tadi saat posisi berdiri bersalaman, aku sempat mengukur tinggi tubuhku hanya sebatas lehernya, aku perkirakan tingginya 180cm-an, aku agak berkesan apalagi penampilannya bersih dengan kumis tipis menghiasi bibirnya, wajahnya sih memang biasa saja.

Kami terlibat obrolan panjang tentang asuransi yang ditawarkan, ternyata orangnya supel dan ramah, cara bicaranya mencerminkan wawasannya yang luas, pandangannya tidak “jelalatan” seperti lelaki lainnya yang pernah aku temui, padahal puting payudaraku yang tidak menggunakan bh terlihat berbayang dibalik dasterku. Tak banyak pikir lagi, aku segera menyetujuinya, apalagi preminya tidak terpaut jauh dengan asuransiku sebelumnya. Dia berjanji akan datang kembali minggu depan membawa polis-nya.

Sepulangnya dia, aku masih membayangkannya, simpatik sekali orangnya, terutama tubuhnya yang tinggi, hampir sama dengan almarhum suamiku. Juga aku teringat jawaban almarhum suamiku bahwa orang yang tinggi agak kurus, 80% senjatanya panjang dan besar saat aku bertanya, mengapa senjata Mas Budi (almarhum suamiku), besar dan panjang? Aku sendiri bingung, tak biasanya aku berpikiran seperti ini, apalagi baru pertama kali bertemu.

Tapi aku tak mau membohongi diriku, aku tertarik padanya. Waktu seminggu yang dijanjikannya terasa lama sekali. Akhirnya tibalah hari yang dijanjikannya, aku berias secantik mungkin, meskipun tidak mencolok, kusambut kedatangannya dengan manis. Kali ini kulihat Steven mengenakan setelan pakaian kerja lengkap dengan dasinya.

Setelah polis aku terima dan menyerahkan pembayarannya, aku mengajaknya mengobrol sedikit mengenai pribadinya. Ternyata usianya 28 tahun, dengan status bujangan, dan masih mengontrak rumah di daerah Kebayoran Lama, Jakarta.

“Ibu Venda sendiri, bagaimana?” kini dia balik bertanya kepadaku.

Kujelaskan statusku yang janda, kulihat wajahnya sedikit berubah.

“Maaf, Bu! kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan Ibu.”

“Tidak apa-apa, toh gelar ini bukan saya yang menghendaki, tapi sudah suratan.”

Sejak tahu statusku janda, Dia jadi sering datang ke rumahku, ada saja alasannya untuk datang ke rumahku, meskipun kadang terkesan dibuat-buat. Hubungan kami menjadi lebih akrab, diapun tidak memanggilku dengan sebutan “Bu” lagi, tapi “Venda” sedangkan aku pun memanggilnya Mas Steven.

Tapi yang aku heran dari Mas Steven adalah sikapnya yang belum pernah menjurus ke arah seks sedikitpun, meskipun sering kali kami bercanda layaknya orang pacaran. Aku jadi berfikiran jelek, jangan-jangan Mas Steven “Gay”. Padahal aku sudah tetapkan dalam hati, bahwa Mas Steven lah orang kedua yang boleh membawaku mengarungi samudera kenikmatan.

Tapi ternyata pikiran jelekku tidak terbukti. Kejadiannya waktu malam Minggu Mas Steven datang untuk yang kesekian kalinya. Kami memutar film roman percintaan, bibiku sejak tadi sudah masuk ke kamarnya tidak tahu ngapain. Mungkin sengaja memberi kesempatan kepada kami anak muda yang sedang dilanda asmara.

Saat adegan percumbuan berlangsung, aku meliriknya, kulihat wajahnya sedikit memerah dan celana panjangnya yang berbahan tipis, kulihat sedikit menggelembung, aku bimbang. Akhirnya kutetapkan hatiku untuk memulai percumbuan dengannya tapi bagaimana caranya?Aku ada ide agak tidak terkesan aku yang mau, aku harus pura-pura sakit.

“Aduh Mas Steven! kepalaku sakit sekali,” aku mulai menebarkan jaring.

Kupegangi keningku yang tidak sakit, pancinganku berhasil, Mas Steven menghampiriku.

“Kenapa Ven?” tanyanya.

“Kok, tiba-tiba sakit.”

“Anu, Mas! tekanan darahku rendah, jadi kadang-kadang kambuh seperti ini,” aku terus merintih layaknya orang kesakitan.

Aku membaringkan tubuhku di sofa.

“Mas, tolong bawa aku ke kamar,” aku semakin nekat.

Kulihat Mas Steven kelabakan.

“Papah aku, Mas!”

Akhirnya Mas Steven memapahku ke dalam kamarku, kutempelkan buah dadaku ke punggungnya, terasa aliran kenikmatan di tubuhku. Dibaringkannya tubuhku di ranjang tidurku, dan bergegas Mas Steven keluar.

“Kemana, Mas?” tanyaku pura-pura lirih.

“Bangunin bibi.”

“Nggak usah, Mas, tolong keningku dibaluri minyak angin saja.”

“Minyak anginnya dimana?” tanyanya.

“Di meja Rias.”

Mas Steven dengan telaten sekali memijat keningku, kurasakan jarinya sedikit gemetar.

“Mas tolong tutup pintu dulu, entar bibi lihat nggak enak,” aku baru sadar pintu kamarku masih melongo.

“Sekalian Mas, TV-nya matiin dulu!”

Mas Steven beranjak mematikan TV, aku segera melepaskan pakaianku, hingga tinggal Bra dan celana dalam saja, kututupi tubuhku dengan selimut, Mas Steven telah kembali ke kamarku dan menutuppintunya.

“Mas tolong kerokin aja deh!” aku mulai memasang jurus.

“Lho, pusing kok dikerokin?”

“Biasanya aku kalau pusing begini Mas!” aku berkilah tak mau kebohonganku terbongkar.

Mas Steven menurut, dan mencari uang logam untuk mengeroki tubuhku.

“Jangan pakai uang logam, Mas! aku biasanya pakai bawang.”

Setelah aku beritahu tempat bawang, Mas Steven kembali lagi ke kamarku, kali ini kulihat wajahnya sedikit berkeringat, tidak tahu keringat apa. Segera aku tengkurap,

“Cepat, Mas, kepalaku tambah pusing, nih!”

Mas Steven membuka selimut yang menutupi tubuhku, dan…

“Mbak Venda, kapan melepas baju?” nadanya terkejut sekali.

“Tadi, waktu kamu keluar,” jawabku santai.

Hening sejenak, mungkin Mas Steven masih bimbang menyentuh tubuhku.

“Ayo, Mas!”

“Iya… maaf ya Mbak!” aku mulai merasakan dinginnya air bawang di pundakku, gemetarnya tangan Mas Steven terasa sekali.

“Kenapa tangan Mas gemetaran?”

“iya, aku nggak biasa,” suaranya agak gugup.

“Rileks aja Mas,” aku mencoba menenangkannya.

Akhirnya gerakan tangan Mas Steven semakin lancar di punggungku. Aku mulai merasakan bulu kudukku bangun, terlebih saat tangan Mas Steven mengeroki bagian belakang leherku. Segera aku membalikkan tubuhku, kini buah dadaku yang besar tepat berada di hadapan Mas Steven,

“Mbak, depannya aku nggak berani.”

Aku sudah tidak mau bersandiwara lagi,

“Mas, kalau depannya jangan dikerok, tapi dibelai,” kulihat wajahnya sedikit pucat.

“Memangnya Mas Steven nggak mau?” aku menantangnya terang-terangan.

“Aku nggak pernah, Mbak…” jawaban polosnya membuat aku sadar bahwa dalam urusan seks ternyata Mas Steven tidak punya pengalaman apa-apa alias perjaka ting-ting.

Berpikir seperti itu, nafsuku kian bangkit, segera kudorong tubuhnya hingga rebah di atas pembaringanku. Kubuka kancing bajunya dan melemparkannya ke lantai. “Mbakk, jangan…” Mas Steven masih berusaha menolak, tapi aku yakin suaranya hanya sekedar basa-basi, atau refleksi dari belum pernahnya. Aku mulai menciumi bibir Mas Steven, kumis tipisnya terasa geli di bibirku. Tapi tak ada balasan.

“Mas Steven kok diam saja,” aku bertanya manja.

“Tapi, Mbak jangan marah.. ya?” tanyanya bodoh.

Orang aku yang minta kok aku marah? Mungkin disentakkan oleh kesadaran bahwa dirinya adalahlelaki, Mas Steven langsung menyambar bibirku dan melumatnya. Aku berteriak senang dalam hati, malam inilah dahagaku akan terpuaskan. Ciuman kami berlangsung lama, jari-jariku bergerak mengusap dadanya, putingnya yang hitam kutarik-tarik, sementara jari-jari Mas Steven mulai membelai buah dadaku, usapannya pada puting buah dadaku, membuat syaraf kewanitaanku bangkit, meskipun usapannya terasa agak takut-takut tapi kenikmatan yang aku peroleh tidak berkurang.Apalagi tekanan keras di pahaku membuatku segera sadar bahwa senjata Mas Steven mulai bangkit.

Satu persatu pakaian kami bergelimpangan ke lantai, kini tubuh kami sudah bugil. Tubuhku ditindih Mas Steven, perlahan-lahan mulut dan lidah Mas Steven mulai menggelitik puting buah dadaku, yang terasa makin mengeras,

“Mas… terusss… enak…” aku mulai merintih nikmat.Tanganku segera menggenggam senjatanya, tapi sungguh mati aku kaget dibuatnya, besar sekali.Lebih besar dari punya almarhum suamiku. Aku semakin bernafsu, kukocok perlahan senjatanya yangkeras dan kokoh,

Mas Steven merintih tak karuan. Hisapannya semakin keras di buah dadaku membalas kocokan tanganku di senjatanya. Aku sudah tak tahan menunggu permainan Mas Steven dibuah dadaku saja, nafsuku yang tertahan 3 tahun membuncah hebat dan menuntut penyaluran secepatnya. Dengan penuh nafsu aku segera ambil posisi di atas, tanganku terus mengocok senjatanya yang semakin panjang dan membesar, lidahku mulai menjilati dadanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, pada bagian putingnya kuhisap dan kugigit pelan.

“Mbak Venda… aku nggak tahan…” Kupercepat gerakan tanganku.

Kulihat muka Mas Steven semakin memerah. Mulutku yang mungil sampai pada senjatanya yang kaku, kujilati seluruh batang senjatanya, kugelitik halus lubang atasnya. Kumasukkan senjatanya ke dalam mulutku,

“Uffhhh…” terasa penuh di mulutku, akibat besarnya senjata Mas Steven.

Mulutku mulai menyedot-nyedot, sementara tanganku terus mengocok batang senjatanya. Remasan tangan Mas Steven di rambutku semakin kuat, hingga akhirnya saat kuhisap kuat dengan kocokankupercepat, aku merasakan tubuh Mas Steven bergetar hebat dan…

“Vennn…” Mas Steven menjerit,terasa cairan kenikmatan itu memenuhi mulutku, agak anyir, tapi aku menelannya sampai tuntas.

“Daaar…” memang perjaka tulen, sebentar saja senjatanya sudah membesar kembali, dan siap bertempur.

Aku segera berjongkok di atas tubuhnya, kuarahkan senjatanya yang besar di lubang kewanitaanku yang sudah basah. Perlahan kuturunkan pinggulku, seret sekali, mungkin terlalu lama tidak dimasuki senjata pria, apa lagi senjata Mas Steven yang besar dan panjang.

Aku merasakan sedikit sakit tapi lebih banyak nikmatnya. Saat bulu kemaluan kami bertemu, dimana senjata Mas Steven amblas seluruhnya ke dalam kemaluanku, sulit digambarkan kenikmatan yang aku dapatkan. Aku diamkan sejenak menikmati denyutan senjata Mas Steven di liang kewanitaanku. Kulirik wajah Mas Steven yang terpejam, mungkin menikmati remasan kewanitaaanku di seluruh batang senjatanya.

Perlahan aku gerakkan pantatku naik turun, kian lama gerakan pinggulku kian buas, aku sudah tak dapat menguasai lagi nafsuku yang sudah tertahan, sesaknya senjata Mas Steven di kemaluanku ditambah cairan pelumas dari tubuh kami masing-masing menimbulkan suara-suara birahi seirama dengan gerakan pantatku.

Akhirnya…

“Venn… aku nggak tahan…” aku rasakan semburan hangat di kewanitaanku, aku semakin cepat… menggerakkan pinggulku meraih puncak kenikmatan yang tinggal selangkah lagi, tapi senjata Mas Steven keburu melembek hingga akhirnya mengecil.

Aku tambah panik dan histeris dengan nafsuku yang tergantung. Aku mencoba membangkitkan kembali nafsu Mas Steven, tapi setiap kali aku mau orgasme, Mas Steven selalu mendahuluiku.

Sampai sekarang meskipun kami jadi sering berhubungan badan tapi belum pernah sekalipun aku orgasme. Kalau baru pertama aku masih bisa terima, tapi sudah yang kesekian kalipun masih begitu. Entahlah, kalau buat keperkasaan. Mas Steven jauh dengan almarhum suamiku yang dapat membawaku ke puncak orgasme hingga 4 kali.

Ku Gasak Memek Pembantu Liar Di Komplek Rumah Ku.

Di kompleks perumahan ibuku, Icha terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Icha baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kira-kira 34D dan pantat bulat dan padat.

Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya.

Tugas Icha adalah menjaga anak majikannya yang masih kecil-kecil. Kalau sore hari, dia selalu mengajak anak majikannya berjalan-jalan sambil disuapi. Nah, aku sering sekali berpapasan dengannya saat dia sedang mengasuh Hanna (anak bungsu pasangan tempat Icha bekerja).

Hanna ini seorang anak yang lucu, sehingga kadang-kadang aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya. Suatu kali, seperti biasa aku bertemu dengan Icha yang sedang mengasuh Hanna, dan aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.

Tiba-tiba Icha nyeletuk, “Kok cuma Hanna yang dicubit Pak?” Aku sedikit terkesiap, “Haah?” dan aku memandang kepada Icha. Dia sedang menatapku dengan kerlingan genit dan tersenyum menggoda.

“Habis, kalau aku cubit pipi Mbak Icha, aku takut Mbak Icha marah,” kataku.
“Kalau cubitnya pelan-pelan, aku nggak marah kok Pak. Malah seneng,” sahut Icha.

Kurang ajar anak ini, aku membatin, tapi mulai tergoda untuk memancingnya lebih jauh.

“Kalau cuma cubit aku enggak mau Icha.” kataku.
“Terus maunya apa? Emang berani?” dia malah menantang. Benar-benar ganjen anak ini.
“Aku maunya, cium bibir kamu yang seksi itu, boleh?” aku bertanya.

Dia malah balik bertanya, “Cuma cium? Enggak mau kalau cuma cium.”

Astaga, ini sudah keterlaluan.

“Icha, aku kan sudah punya istri, emang kamu masih mau?” aku bertanya.
“Yaa, jangan sampai istri Pak Santo tahu dong. Masak cuma Mbak Dewi aja yang boleh ngerasain Pak Santo.” balas Icha.

Aku agak kaget juga mendengar ucapan Icha. Rupanya Dewi curhat sama Icha. Tapi, kepalang tanggung pikirku.

“Jadi benar nih kamu mau Icha?” aku memastikan.
Icha menjawab, “Siapa takut? Kapan?”
“Kamu bisanya kapan Icha? Aku sih kapan aja bisa,” jawabku sambil melirik ke toketnya yang bagus itu.

Saat itu Icha pake kaos ketat yang tipis, sehingga bra hitamnya membayang dan memperlihatkan lekuk yang sangat mengairahkan. Pembaca, terus terang saat itu aku sudah “Konak”. Penisku kurasakan sudah mengeras.

“Ya sudah, nanti malam aja Pak, kebetulan Bapak-Ibu mau ke Bogor, anak-anak mau diajak semua.” kata Icha.
“Oke, nanti jam berapa aku ke rumahmu?” tanyaku.
“Yaa, jam delapanan deh,” jawab Icha sambil membusungkan dadanya.

Dia tahu aku sedang memperhatikan toketnya. Nafsuku menggelegak.

“Kamu nantang benar sih Icha, ya sudah, nanti jam delapan aku dateng. Awas nanti kamu ya.” ancamku sambil tersenyum.

Eh, dia malah menjawab, “Asal Pak Santo kuat aja nanti malam.”

Sambil mengedipkan matanya dan bibirnya membuat gerakan mengecup. Ya ampuunn, bibirnya benar-benar seksi. Aku menyabarkan diri untuk tidak menggigit bibir yang menggemaskan itu.

“Kalau gitu aku pulang dulu ya Icha, sampai nanti malam ya.” kataku.
“Benar yaa. Jangan boong lho. Icha tunggu ya sayang..” Icha membalas.

Malamnya, jam delapan, aku sudah berada di depan pagar rumah Icha, lebih tepat rumah majikannya. Icha sudah menungguku. Dia membukakan pintu pagar dan aku langsung masuk setelah melihat situasi aman, tidak ada yang melihat. Kami masuk ke dalam dan Icha langsung mengunci pintu depan.

Icha memakai celana yang sangat pendek, dengan kaos ketat. Kulitnya cukup mulus walaupun tidak terlalu putih, namun dibandingkan dengan Dewi, masih lebih putih Icha. Aku tidak mau membuang waktu, langsung kudekap dia dan kuserbu bibirnya yang memang sudah lama sekali aku incar. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling membelit, dipadu dengan nafas kami yang memburu.

Tiba-tiba Icha melepaskan ciuman kami, dan dia memegang kedua pipiku sambil menatapku, lalu berkata manja.

“Pak Santo, kalau Pak Santo mau ngewe sama Icha, ada syaratnya Pak.” Aku bingung juga, “Apa syaratnya Cha?” tanyaku.
“Pak Santo harus panggil aku Mbak, terus aku panggil Pak Santo Yayang. Gimana? Mau nggak?” tanya Icha sambil tangannya turun ke dadaku dan dia meremas dadaku dengan gemas.

Pembaca, ini yang mengherankan, aku seorang yang sudah berusia diatas 40 tahun, punya istri dan anak, jabatanku cukup tinggi di kantor, dan seorang pembantu rumah tangga yang berumur baru 22 tahun mencoba untuk menguasaiku, dan aku merasa senang. Aku mengangguk sambil menjawab, “Iya Mbak, aku mau.” Sementara itu, penisku sudah ereksi dengan maksimal.

“Sekarang, Yayang harus nurut apa yang Mbak bilang ya.” perintah Icha, maksudku Mbak Icha.
“Iya Mbak.” jawabku pasrah.

Lalu Mbak Icha menuntunku ke kamarnya di bagian belakang rumah. Kami masuk ke kamar itu, Mbak Icha menutup pintu dan sekarang dia yang memeluk dan menyerbu bibirku. Kembali kami berpagutan sambil berdiri, lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

Mbak Icha kembali melepaskan ciuman kami, dan berkata,” Yaang, kamu jongkok dong.” Aku menurut, aku berjongkok di depan Mbak Icha.

“Lepasin celana Mbak Yang, pelan-pelan ya Yaang.”
“Iya Mbak.” cuma itu kata yang bisa aku keluarkan.

Lalu akupun mulai menurunkan celana pendeknya yang tinggal ditarik saja kebawah karena dia memakai celana olahraga. Perlahan mulai tampak pemandangan indah di depan mataku persis. Pembaca, memeknya gundul tanpa bulu sedikitpun, dan montok sekali bentuknya. Warnanya kemerahan dan diatasnya terlihat kelentitnya yang juga montok. Mbak Icha melebarkan pahanya sedikit, sehingga memeknya agak terkuak. Mbak Icha mendongakkan wajahku dengan tangannya. Dan dia bertanya, “Gimana Yang? Bagus nggak Memek Mbak?”

“Iya Mbak. Bagus banget. Tembem.” jawabku tersendat, karena menahan nafsu dalam diriku.
“Yayang mau cium Memek Mbak?” tanyanya.
“Mau Mbak.”

Aku tidak menunggu diperintah dua kali. Langsung kuserbu Memek yang sangat indah itu. Mbak Icha menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, sehingga lebih terbuka ruang bagiku untuk mencium keharuman memeknya. Mula-mula hidungku menyentuh kelembaban memeknya, dan aku menghirup keharuman yang memabokkan dari Memek Mbak Icha. Kususupkan hidungku dalam jepitan daging kenikmatan Memek Mbak Icha. Mbak Icha mengerang, “Aahh, Yayaanngg. Terusin Yang.”

Lalu kukecup memeknya dengan penuh kelembutan. Dan perlahan mulai keluarkan lidahku untuk menjelajahi bibir memeknya. Kugerakkan lidahku perlahan-lahan kesekeliling memeknya. Tanganku meremas-remas pantatnya. Sesekali lidahku menyapu kelentitnya, dan kujepit kelentitnya dengan kedua bibirku.

Tubuh Mbak Icha mengejang sambil mendesah, “Aarrgghh.. Yayaanngg.. Ennaakk Yaanngg..” Kedua tangan Mbak Icha meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke belahan pahanya. Wajahku terbenam di Memek Mbak Icha, aku hampir tidak bisa bernafas. “Yaanngg.. Tunggu Yaang. Mbak nggak kuat berdiri Yang.”

Lalu Mbak Icha merebahkan tubuhnya di kasur sambil melepaskan kaos dan branya. Dia terlentang di kasur. Aku berdiri dan ingin mulai melepas baju dan celanaku.

“Jangan Yang, kamu jangan buka baju dulu. Jilatin Memek Mbak dulu Yang.” perintah Mbak Icha. Lagi-lagi aku nurut.

Lalu Mbak Icha kembali menekan kepalaku ke selangkangannya. Kuteruskan kegiatan mulut dan lidahku di pesona kewanitaan Mbak Icha yang sangat indah kurasa. Kumasukkan lidahku ke dalam memeknya, dan kuputar-putar di dalam memeknya.

Dia menggelinjang kenikmatan. Rambutku sudah berantakan karena diremas terus oleh Mbak Icha. Sekitar sepuluh menit kujilati Memek Mbak Icha dan memberinya kenikmatan sorgawi. Akhirnya dia menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan tangannya menekan kepalaku dengan kuatnya.

“Aauugghh.. Yaanngg. Mbakk.. Kkeeluaarr Yaanngg” rintihnya. Pantat dan pingulnya bergerak memutar dengan liar dan tiba-tiba berhenti. “Sshh.. Oogghh.. Yaanngg.. Ennaakk banggeett Yaangg.”

Kusedot seluruh cairan yang membanjir dari Memek Mbak Icha. Rasanya gurih dan wanginya harum sekali. Kurasakan becek sekali Memek Mbak Icha saat itu. Setelah beristirahat kurang lebih sepuluh menit, Mbak Icha bangun dan mulai membuka pakaianku.

“Sekarang giliran kamu Yang. Mbak mau gigitin kamu” perintahnya.

Setelah semua pakaianku lepas, Mbak Icha memandang ke penisku yang sudah pusing dari tadi. Dia menggenggam penisku dengan gemas dan mulai mengocoknya dengan lembut. Kemudian aku disuruhnya telentang, lalu dia mendekatkan kepalanya ke penisku. Dikecupinya kepala penisku, dan lidahnya mulai menjelajahi bagian atas penisku.

Astaga, permainan lidah Mbak Icha luar biasa sekali. Dalam sekejap aku dibuatnya melayang ke angkasa. Kenikmatan yang diberikan melalui lidah dan mulutnya, membuatku mendesah dan menggelepar tidak karuan.

Dari bagian kepala, lalu ke batang penisku dan bijiku semua dijilatinya dengan penuh nafsu. Sesekali bijiku dimasukkan ke dalam mulutnya. Sampai terbalik mataku merasakan nikmatnya. Ujung lidahnya juga menyapu bahkan menusuk anusku. Kurasakan listrik yang menyengat ke sekujur tubuhku saat lidah Mbak Icha bermain di anusku. Sepuluh menit lamanya Mbak Icha menjilati dan mengemut penis dan anusku.

Kemudian dia merayap naik ke badanku, mengangkangiku, dan mengarahkan penisku ke memeknya. Perlahan dia menurunkan pantatnya. Kurasakan penisku mulai melakukan penetrasi ke dalam belahan memeknya yang sangat montok itu. Agak susah pada awalnya karena memang tembem sekali Memek Mbak Icha. Setelah masuk semua, Mbak Icha mulai menaik turunkan pantatnya.

“Aauugghh, Mbak. Enak Mbak.” rintihku.
“Iya Yang, Mbak juga ngerasain enak. Adduuhh. Kontol kamu enak banget Yang.”

Dan Mbak Icha mulai melakukan putaran pinggulnya. Pantatnya tidak lagi turun naik, melainkan pinggulnya yang berputar. Ini benar-benar membuat sensasi yang luar biasa nikmatnya. Mbak Icha sangat pintar memutar pinggulnya. Aku mengimbangi gerakan Mbak Icha dengan menusuk-nusukan penisku. Tapi, “Yaanngg. Kamu diem aja ya Yaangg. Biar Mbak aja yang muter.”

Akupun diam dan Mbak Icha semakin liar memutar pinggulnya. Tidak lama kemudian, Mbak Icha menghentikan putaran pinggulnya, dan kurasakan memeknya menyedot penisku. Serasa dipilin oleh gumpalan daging yang hangat, kenyal dan kesat.

Lalu Mbak Icha mengerang keras, “Yaanngg.. Aarrgghh. Mbak keluar laggii Yaanngg..”

Mbak Icha rebah di atas tubuhku, sementara memeknya terus menyedot penisku. Luar biasa sekali rasanya memek Mbak Icha ini. Kemudian Mbak Icha memberi perintah agar aku bergantian di atas. Aku menurut, dan tanpa melepaskan penisku dari dalam memeknya kami berubah posisi.

Sekarang aku berada di atas. Mbak Icha melingkarkan kakinya ke kakiku, sehingga aku tidak leluasa bergerak. Rupanya ini yang diinginkan oleh Mbak Icha, agar aku diam saja. Mbak Icha juga tidak menggerakkan pinggulnya, hanya kurasakan daging di dalam memeknya yang melakukan gerakan menyedot, memijit, memutar dan entah gerakan apa namanya.

Yang pasti aku merasakan jepitan Memek yang sangat kuat namun enak sekali. Aku tidak dapat menggerakkan penisku di dalam memeknya. Juga tidak dapat menarik penisku dari dalam Memek itu. Tidak lama kurasakan Memek Mbak Icha menyedot penisku. Lalu perlahan Mbak Icha mulai memutar pinggulnya.

Aku merasa seperti perahu yang berada di dalam lautan yang bergelora karena ada badai yang dahsyat. Dan semakin lama gelombang itu semakin kuat menggoncang perahu. Nafas kami sudah memburu, keringat sudah mengucur membasahi tubuh kami.

Dan kurasakan Memek Mbak Icha mulai berdenyut keras lagi, bersamaan dengan aku mulai merasakan desakan lahar dalam diriku yang menuntut untuk keluar dari tubuhku. Putaran pinggul Mbak Icha semakin menggila, dan aku pun membantu dengan menekan-nekankan pinggulku walaupun tidak terlalu bebas.

“Oogghh.. Yaanngg.. Mbaakk nnggaakk kkuatt laaggi Yaanngg..” erang Mbak Icha. Aku juga sudah tidak bisa menahan lagi desakan dari dalam itu, “Iyaa mbaakk.. Aakkuu juggaa.. Aarrgghh.”

Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena saat itu muncratlah sudah cairan kenikmatanku di dalam memek Mbak Icha. Bersamaan dengan itu, Mbak Icha juga sudah mengejang sambil memelukku dengan kuatnya.

“Sshh.. Oouugghh.. Enaak baannggett Yaangg.”

Kami merasakan nikmat yang tiada duanya saat air mani kami bercampur menjadi satu di dalam memek Mbak Icha. Mbak Icha mencium bibirku, aku pun membalasnya dengan penuh gairah. Dan.. Kami pun terkulai tak berdaya. Aku terhempas di atas tubuh Mbak Icha. Nafas kami tinggal satu-satu. Seprai dan kasur Mbak Icha sudah basah sama sekali karena keringat dan air mani kami yang meluap keluar dari Memek Mbak Icha saking banyaknya.

“Yayaanngg..” Mbak Icha memanggilku dengan mesranya.
“Iya mbaakk.” aku menjawab dengan tidak kalah mesranya.
“Kamu hebat deh Yaang.” kata Mbak Icha sambil mengecup bibirku dengan lembut. “Mbak juga hebat. Memek Mbak enak banget deh Mbak.” kataku. Mbak Icha tersenyum, “Yayang suka sama memek Mbak?” tanyanya.

“Suka banget Mbak. Memek Mbak bisa nyedot gitu. Nanti boleh lagi ya Mbak?” aku merayunya.
“Pasti boleh Yang. Memek ini emang untuk Yayang kok.” Kata Mbak Icha. Dan malam itu, kami melakukannya sebanyak tiga kali, sampai kudengar adzan subuh dari mesjid terdekat. Lalu aku keluar dari rumah itu setelah melihat bahwa situasi aman, dan pulang ke rumahku.