Goyangan Maut Tetangga Baru ku Yang Hot.

Perkenalkan nama saya Ricky dari kota Surabaya, Masih relatif sepi dan siap dibangun segera. Segera kisah yang saya alami pada 16 Maret 2015, ketika sebuah keluarga pindah ke komplek-ku. Pada saat itu, saya memutar mobil ke luar lagi dan anak tetangga ini memakai pakaian tidur yang sangat seksi, dengan tubuh putih, postur yang baik.

Pagi itu dia melakukan kegiatan seperti senam pagi. ketika saya masih di mobil memperhatikan senamnya, belahan dadanya sangat bulat sekali dan menggoda. Selang beberapa minggu akhirnya kesempatanku dating jugaa, karena orang tuanya pergi ke luar negeri kurang lebih pada tanggal 25 Desember 2015, tersisa satu-satunya penghuni adalah anak perempuan dan laki-laki di rumah. Pada waktu itu, saya berjalan-jalan pagi di kompleks, dan melihat anak gadis tetanggaku juga sedang senam pagi di depan rumahnya.

Saat itu kami berkenalan. Panggil Yenny dan akhirnya kami berbicara sekitar 30 menit. Kuketahui umurnya masih sangat muda yaitu 21 tahun. Akhirnya saya dan dia bertukar nomor ponsel. Malam itu saya menelepon Jenny. Ketika saya sedang meminum segelas teh yang baru selesai kubuat, sambil menungggu jenny mengangkat telefonnya. Di sisi lain kemudian Yenny bertanya, “Apakah dia ricky yang menelepon?” . Setelah hamper 30 menit kami berbicara, akhirnya yenny memberanikan diri bertanya “Apakah bang ricky punya pacar? “

“Aku tidak punya pacar. Masih mencari pasangan hidup yang mau menerimaku apa adanya” kataku.

“Terlalu rendah hati, Ricky,” katanya.

“Oke, sudahkah kamu makan?” Aku bertukar bertanya dengan perasaan menyenangkan ke jennny.

“Masalahnya adalah sudah ada hidangan di rumah. Apakah kamu makan Ricky?” Dia bertanya lagi.

“Aku belum punya makanan,” kataku.

“Ya, kamu pergi saja ke rumahku dan makan,” kata Yenny.

“Tidak, Yenny, aku malu menjadi saudara. Menurutmu apa yang akan kita lakukan lagi?”

“Ken tidak ada di sana. Adikku sudah keluar dengan seorang teman pagi ini jadi tolong datang gpp,” kata Yenny. Wow, dalam hatiku sudah ada kesempatan untuk berduaan dengannya, aku tahu itu bagus, alias kau bisa bercinta dengannya, setelah pembicaraanku berakhir di telepon. Dengan cepat aku mandi dan langsung ke rumahnya. Sesampai dirumahnya akhirnya yenny  membuka pintu untukku dengan memakai daste putih. Dalam hatiku, aku berkata wah asli benar-benar memiliki tubuh yang benar-benar indah hanya mengenakan celana pendek, dadanya sangat besar dan bibirnya sangat kecil. Akhirnya saya masuk ke rumah, saya disuruh makan dulu, dan Yenny mandi.

Setelah menyiapkan makanan, saya segera bergegas ke ruang tamu menonton TV, lalu melihat VCD terbuka di meja ruang tamu. Vcd itu ternyata ada film porno yang mungkin baru selesai ditonton si Yenny. Didalam hati saya “ini kesempatan besar untuk saya”. Akhirnya kuputar kembali vcd itu di ruang tamu . Yenny tampak melompat ketika keluar dari kamar mandi dan melihatku  sedang menonton VCD porno yang saya tonton.

“Jennie, apakah kamu juga menyukai pornografi?” Tanyaku

“A … Ah … hanya darimu,” kata Yenny dengan wajah merah.

“Yah, jujur ​​saja, jika aku punya hobi, aku juga suka menonton pornografi,” kataku dengan senyum nakal,

“Ya, hobiku terlihat seperti itu, masalahnya membosankan di rumah,” kata Yenny, wajahnya memerah.

“Jadi ini dildo? Apa ini? Apakah kamu bermain dengan baik?”

Yenny tidak menjawab tapi mengalihkan pertanyaan lainnya kepadaku

“Oh, kamu Ricky, jadi menyenangkan tidak menonton film porno sendiri tanpa teman,” kata Yenny dengan senyum nakal. Dalam pikiranku gadis ini juga hebat, jadi aku mengajak  Yenny untuk dduk di sampingku karena aku melihat Yenny masih berdiri dan menatapku seperti itu.

Yenny akhirnya dduk disampingku, dan aku berbisik kepadanya “aku bisa membuatmu lebih senang daripda hanya menggunkan dildo ini,” kataku sambil tertawa.

“Benarkah? Punya kamu pasti kecil,” kata Yenny yang duduk di sebelahku.

Pada saat itu, saya segera mengambil tangannya dan memasukkannya ke celana saya dan saya hanya tersenyum padanya.

“Apakah itu yang nama kecil?” Kataku.

“Ricky itu juga luar biasa … Hehehe,” kata Yenny dengan wajah penasaran. Jadi saya langsung memeluk Yenny dan membuka pakaian yang saya gunakan segera dengan keinginannya. Sangat mudah dibuka dari belakang, termasuk tali bhnya. Akhirnya jreng kami berdua sudah bugil dan saya yang sudah melihat semuanya, dadanya yang sangat bulat dengan putting yang menggoda sekali untuk segera dimainkan oleh lidahku.

“Wow, Yenny, tubuhmu sangat indah,” kataku, menatap kedua payudaranya.

“Oh, kamu benar-benar nakal,” katanya dengan malu-malu pada kucing itu. Aku langsung bergegas menghisap kedua payudaranya yang masih terlihat merah muda,

“Uhmmm .. Uhmmmm sruppp … Sruppp”

“Hmm … mmmm” Yenny.

“Yen hisap penisku” kataku dalam keinginan memuncak, dia segera bergegas dan dengan bersemangat membuka celanaku dan mulut imutnya memasukan penisku secara langsung ke dalam.

“Oh … ah … oh, bibir tipismu benar-benar bernafsu padaku, hatiku sangat terpancar,” kataku

“Harap diam, itu sudah berisik karena benar-benar berisik di EMU, apa lagi saya sedang menghisap batangmu” katanya. Saat itu, saya langsung membawa Yenny ke kamar saya. Setelah sampai di kamar saya langsung merebahkan yenny ke tempat tidur dan menjilat dengan ganas daging yang berada di memeknya..

“Oh, ah, ah, ah, sayang yyyy benar-benar bagus …” desah, Yenny.

“Laggiiiii sayang … ah … Ahhhhh …” Pinta, Yenny

“Slurrppp” . Aku tiba-tiba memasukan batangku ludes ke dalam meki yenny dan yenny terkejut sebentar.. kugoyangkannn pelan-pelan keluar masuk.

“Goyang dlu lebih awal,” kataku.

“Oh … Ahhhhhh … Ahhhhhh …. Oh, nikmatnyaa” desah, Yenny.

“Ohh,, nikmatnya mekimuuuu yenny,” kataku lagi

“Oh … ah … ah …” Keluh Yenny dan Yenny sudah orgasmee, tapi aku belum menembak, jadi aku akan melanjutkan sampai mereka menembus penisku …

“Oh ah … ah ah ah ah ah ah … Saket” Yenny menghela nafas

“Nikmatinn bentar sayangg” Katakuu sambil mengoyangkan dengan kencang penisku

“Oh … Ahhhhhh … Ahhhhhh …. Oh, nikmatnyaa” desah, Yenny.

“ Sayangg akuu sudahh mau keluarrrr” tahanku”

“Keluarin didalam saja ohhhhh, aku pengen rasainnn pejumuuu ricc “ Kata Yenny

“Oh … ah … ah … Crotttt” Aku akhirnya tertembak. Pada saat itu, saya menarik penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan memaksanya untuk menghisap dan memberikan penisku dengan mulutnya …

“Ah ah ah ah ah” Setelah 5 menit di emu-nya, aku menyeret dan berbisik padanya. “Mana yang terbaik ? dildo atau penis terbaik?”

“Penismu sayangku” balasnya dengan mengecup kembali bibirku..

Akhirnya setiap kali ada kesempatan saya dan yenny selalu melakukannnya baik di rumahku maupun terkadang di hotel atau saat rumahnya sedang sepi.

Istri Liar Digenjot Ama Kontol Tukang Pijat,Suami Cuckold Malah Asyik Nonton.

Awalnya Pada hari selasa, kebetulan aku ama istri aku cuti kerja, lalu kami berniat untuk cari makan siang. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada 1 ruko pijat reflexi.

Di tempat reflexi tersebut menurut penjelasan pemijatnya tidak hanya kaki saja yg di pijat tapi juga seluruh badan, dari pundak kepala, pundak sampai kaki, dan pemijat nya semua laki-laki. Kebetulan pada hari biasa masih sepi dan cuma ada 2 pemijat.

Ditempat itu ada 2 bilik kamar yg hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat semuanya dan tempat beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja .

Kita berdua akhirnya masuk kesana untuk coba pijat reflexinya, tp karena aku laper banget, makanya aku suruh istri aku masuk dan aku cari makan.

Sebelum pergi aku liat dulu seperti apa sih dipijatnya, istri aku yg memang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, memang keliatan seksi sekali. Istri aku kemudian berbaring dengan santai dan pertama2 memang dipijit telapak kaki, setelah beberapa saat memperhatikan kemudian aku pamitan untuk cari makan di keluar.

Setelah selesai makan, aku balik lagi ke tempat refleksi itu, dan aku liat tidak ada orang lagi di depan, jadi aku langsung masuk ke dalam, karena tidak mau menggangu aku hanya duduk2 di depan bilik kamar istri aku.

Sekilas aku dengar suara leguhan istri aku, tp itu mungkin karena enak di pijit, tapi karena penasaran akhirnya aku coba intip di balik kain bilik kamar tsb. ternyata istri aku memang sedang menikmati pijatan sang pemijat. Pemijat tsb mulai memijat paha istri aku yang putih, pemijat itu meminta agar istri aku tidur tengkurap menghadap tempat tidur.

Lalu pemijat itu trus memijat paha istri aku, kemudian meminta dengan sopan agar celana pendek nya di buka saja, karena agak menggangu. Istri aku pertama menolak, tp karena di kasih keterangan yang menyakinkan akhirnya celana istri aku dibuka juga, tp dengan syarat ditutup selimut.

Waktu aku liat istri aku buka celana, langsung jantung aku berdebar kencang, ada perasahaan suka melihat istri aku di sentuh oleh lelaki lain.

Setelah ditutupi kain putih, si pemijat juga langsung mulai memijat di daerah paha, aku liat dia sempat menyentuh pantat nya dan daerah V nya, istri aku mungkin percaya sama si pemijat atau memang sedang menikmati, krn dia tidak protes sama sekali, dan ini membuat si pemijat trus memijat daerah paha dan sekitarnya. Melihat itu aku jadi tambah gila, sambil menggosok si adik yg memang sudah tegang berat.

Si pemijat mungkin sengaja atau tidak, membuat kain penutupnya agak terjatuh, sehingga dia bisa melihat langsung paha istri aku yang putih mulus, dengan dibungkus cd saja.

Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan tsb dan  diperhatikan juga ada tanda basah di cd istri aku. Tanpa sadar istri aku, mungkin juga keenakan trus dipijat tanpa dilindungi kain, ini membuat si pemijat makin berani mencoba meijat daerah pantat dan selankangan istri aku.

Akhirnya si pemijat mengambil kembali kain yg jatuh dan menutupi badan istri aku lagi, tp yg buat aku kaget, si pemijat meminta istri aku untuk membuka bajunya karena akan di pijat daerah punggung dan leher, setelah di beri penjelasan akhirnya istri aku membuka bajunya sambil masih tiduran, jadi si pemijat tidak melihat krn ditutupi kain.

Istri aku sekarang hanya menggunakan bh dan cd saja, ntah apa yang membuat dia berani spt itu, apa ada hipnotis ya? tp aku sangat menikmati pemandangan ini. Setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta ijin untuk membuka kain krn ingin dikasih minyak punggungnya, istri aku hanya mengganguk saja, tp tanpa sadar kali, si pemijat juga membuka bra istri aku dan anehnya istri aku diam saja.

Lalu si pemijat mulai menggosok punggung istri dan aku intip si pemijat juga kadang2 melihat pinggiran tete istri aku yg keliatan dan juga sempat menyentuh nya, krn bh nya sdh terlepas ke samping. Kemudian si pemijat memijit leher dengan sentuhan yang lembut, kayakya ini membuat istri aku terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah.

Melihat situasi itu si pemijat kemudian mencoba membuka kain dan mulai memijat daerah pantat dan sekitarnya, ini membuat istri aku tambah terangsang keliatan sekali cd nya yg sudah basah.

Kemudian si pemijat dengan sopan membuka cd istri aku tanpa ijin lagi, dan dia memulai aksinya dengan menggosok gosok daerah selangkangan istri aku.

Istri aku sempat bilang jangan tapi si pemijat itu dengan lembut mengatakan tidak apa2 nikamati saja. Aku bingung kok istri aku nurut saja, ada perasaan cemburu tp masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istri aku di sentuh oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).

Si pemijat sambil membuka celananya dengan 1 tangan krn tangan yg 1 lagi masih menggosok2 daerah clitoris di selangkangan istri aku.

Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu2 yg tidak terlalu lebat, mungkin baru di cukur, ketika akan membuka baju nya, si pemijat mengkat pantat istri aku sedikit dan langsung menjilat nya.

Sehingga dia dapat membuka bajunya. Istri aku yang di jilat meki nya langsung keliatan spt tersengat aliran listri, dan tidak berapa lama kemudian keliatan istri aku mengejang krn klimaks nya.

Si pemijat tersenyum sinis, krn telah berhasil membuat istri aku klimaks. Setelah sama2 telanjang kemudian si pemijat membalikan badan istri aku, sehinggan kelihatan lah payudaranya yg indah dengan putih berwarna hitam yg sdh menegang,

Tapi dengan masih malu2 istri aku menutupi dadanya dan bilang takut suaminya datang, dan dengan halus si pemijat bilang tidak usah takut krn aku masih sedang makan di luar. Akhirnya karena rangsangan yang hebat .

Istri aku membuka tangannya dan oleh si pemijat tangan istri aku di pegang ke samping kepala istri aku, sehinggan dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada adn ketiak istri aku yang mulus dan wangi. Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istri aku di jilat dan di ciumi terus, sehingga istri aku kegelian dan terangsang hebat.

Kemudian si pemijat mulai melepas tangan istri aku tp posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala, lalu mulai menciumi payaudara istri aku yang masih kencang krn kami blm mempunyai anak. Istri aku keliatan sangat menikmati puting nya di isap dan di jilat.

Setelah selesai menikmati payudara istri aku di mulai menjilat vagina istri aku yg sdh basah, krn mungkin sdh tidak tahan, akhirnya si pemijat ingin memasukkan kontol nya tp sebelumnya dia melap vagina istri aku.

Mungkin karena sdh basah dengan cairan vagina dan ludah nya. ketika mau masuk istri aku keliatan agak kaget mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari aku punya, mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istri aku.

Istri aku pernah bilang kontol aku ngak besar dan dia kurang menikmatinya, tp mau gimana lagi, krn sdh dikasih seperti ini. Si pemijat akhirnya berhasil memasukan kontolnya dan mulai menyodoknya serta tidak lupa menciumi payudara istri aku dan juga ketiaknya secara bergantian.

Aku yang sdh tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan mani aku di sapu tangan yg aku bawa. Si pemijat setelah 10 menit keliatan mau klimaks, istri aku bilang jangan di buang didalam, akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang mani nya di badan istri aku, sampai kena ke muka istri aku. Istri aku keliatan puas sekali.

Setelah istrihat sebentar aku liat mereka langsung beres2 dan si pemijat dengan mesra me-lap air main di tubuh dan muka istri aku serta memakaikan bh istri aku dengan meremas remas lagi dan mencium leher istri aku dengan mesranya.

Karena takut aku dateng maka mereka membereskan semuanya dengan rapi, aku diam diam langsung keluar, dan kemudian masuk lagi, aku liat istri aku dengan wajah cerah, sedang duduk dibangku ruang tunggu dan mengajak aku pulang.

Berlanjut kemudian dari sahabatku PParman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya.

PParman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Yanto, kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..

“Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Yanto istri loe harus bugil total. Mau nggak dia?” Parman bertanya padaku.

“Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?

“Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Yanto itu udah tua banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah. Tapi istri loe harus setuju dulu.”

“Nanti gue coba tanya dia deh..”

“Pokoknya sip banget deh!”

Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vina istriku. Aku ceritakan apa yang kudengar dari Parman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung merah padam.

“Malu ah.. telanjang di depan orang lain” protesnya.

“Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Parman istrinya bilang dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba memek koq”

“Ih..” muka Vina semakin merah.

“Kenapa khusus cewek?”

“Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan.”

Vina mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya kuhubungi Parman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Yanto. Setelah itu kucoba menghubungi Pak Yanto dari nomor HP yang kudapat dari Parman.

Singkatnya Pak Yanto akan datang ke rumahku esok malamnya dengan perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vina. Esok malamnya sesuai janji Pak Yanto tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang sudah tua sekali.

Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri sementara Vina hanya melirikku dengan pandangan ragu.

Kami menuju ke ruang tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Yanto langsung “To the point” menghamparkan selimut tebal di lantai.

“Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini” katanya sambil menunjuk selimut sebagai alas.

“Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian” sambungnya lagi.

Wajah Vina merona merah. Dia kelihatan malu karena itu aku membantunya melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.

“Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu” Pak Yanto memotong.

Vina berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Yanto mengeluarkan dua botol kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun.

Entah kenapa saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.

Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vina yang mulus dan dipenuhi rambut halus. Nampaknya Vina merasa enak dengan pijatan Pak Yanto di kepala dan tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya.

Dari tengkuk diteruskan ke bahu Vina yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai telapak tangan. Setelah itu Pak Yanto meminta agar istriku melepas tali bra di punggungnya.

Vina melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah tidak menutupi tubuh Vina dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Yanto mengolesi punggung Vina dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta memijat punggung. Vina tampak menikmati pijatan ini.

“Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau suami Ibu yang melepasnya?” Pak Yanto tiba-tiba berkata.

Wajah Vina memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Yanto melepas celana dalam Vina tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vina yang indah dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang.

Pak Yanto melumuri dua bongkahan pantat Vina dengan minyak dan segera memijat dengan perlahan. Kali ini Vina mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vina mulai terangsang birahinya dengan pijatan Pak Yanto.

Apalagi ketika Pak Yanto memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vina berubah menjadi lebih berat dan matanya terpejam.

Pak Yanto tetap memijat seperti tidak terjadi apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.

“Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini” Pak Yanto menjelaskan.

“Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah” lanjutnya.

Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi belum pernah dipakainya.

Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vina. Kali ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vina merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.

“Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah suami ibu agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu.” kata Pak Yanto setelah selesai memijat kaki istriku.

Kali ini kelihatannya Vina sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil posisi duduk bersila membelakangi Pak Yanto. Tubuh indah Vina yang telanjang bulat berhadapan denganku. Pak Yanto kembali menggosokkan minyak kedua pada telapak tangannya. Pak Yanto terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan Vina.

“Saya minta izin kepada Bapak dan Ibu Vina untuk melakukan pijatan di tubuh bagian depan Ibu Vina..”

“Silakan, Pak Yanto” jawabku

“Silakan..” jawab Vina.

Langkah pertama Pak Yanto adalah melumuri bagian sekitar vagina Vina dengan minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu kemaluan.

Mulut Vina sedikit terbuka. Aku tahu Vina merasakan nikmat disamping rasa malu. Pijatan Pak Yanto pasti membuat birahinya naik ke ubun-ubun.

Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke dalam celah vagina Vina yang membuat Vina menahan nafas tetapi kemudian beralih. Bulu kemaluan Vina dibasahi oleh minyak pijat Pak Yanto sementara Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.

Pak Yanto melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vina, dan memijat perut terutama bagian pusar sehingga membuat Vina kegelian. Hanya sebentar saja, setelah itu Pak Yanto meminta Vina mengangkat tangannya.

“Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu.”

Vina mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak Yanto memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.

“Ihh.. geli pak..” Vina menggelinjang.

“Ditahan Bu. ”

Pak Yanto mengabaikan Vina yang sedikit menggeliat menahan geli dan melanjutkan pijatannya di ketiak Vina. Setelah itu Pak Yanto mengambil minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya.

Selanjutnya dari belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vina yang langsung membuat Vina mendesah. Pak Yanto melakukan massage lembut pada susu Vina yang sudah tegang.

Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vina sangat terangsang dan lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.

Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku sangat bernafsu.

Berbeda dengan Pak Yanto yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa, Vina merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.

“Ukhh..” kali ini Vina mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya. Ingin sekali aku menggantikan Pak Yanto memijat susu Vina.

Pak Yanto menarik puting susu Vina dengan telunjuk dan jempolnya dengan perlahan sehingga membuat Vina mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai akhirnya Vina merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali pijatan si kakek ini.

“Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy” Pak Yanto menyudahi aksinya.

“Ya Pak?”

Pak Yanto menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.

“Apa ini, Pak Yanto?”

“Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa.” bisiknya sambil tersenyum.

Setelah itu aku membayar Pak Yanto dan ia pamit pulang. Vina sudah mengenakan pakaiannya lagi.

“Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Yanto.” kataku.

Vina tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vina yang sedang dipijat.

Vina membalas tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.

“Setubuhi aku.. aku ingin segera kamu masuk ke sini” Vina meracau sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.

“Beres sayang.. ”

Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya dari belakang. Vina segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding. Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin.

Proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina. Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vina merintih nikmat. Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas berlendir dan nikmat.

“Aahh..” Vina menghela nafas, tubuhnya bergetar.

Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat. Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vina tentang hal itu.

“Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku.” Vina balas berbisik.

“Okee..”

Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian Pak Yanto dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu aku tuangkan pada tanganku.

“Apa itu..?” tanya Vina heran.

“Ini minyak dari Pak Yanto, bagus buat payudara kamu”

“Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku sampai kamu puas.”

Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua susunya yang bergelantungan bebas.

Lalu aku mulai mengocok vaginanya dengan lembut. Vina menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan, tangan kiri di susu kiri.

Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia mengintip sambil onani, aku tidak perduli.

“Mhh.. terus.. aah.. ” Vina merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vina menggeliat.

Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku. Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan nafsunya.

Sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vina menjerit keenakan. Tiba-tiba tubuh Vina menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya.

Lalu Vina melepaskan orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata Pak Yanto, Vina orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vina bangkit kembali nafsunya dan mulai merintih-rintih.

“sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar..” Vina meracau membuat aku tercengang.

“Nanti kamu kesakitan..” jawabku cepat disela kenikmatan.

“Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh”

“As you wish.. Istriku yang cantiik..”

Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan nikmat.

“Eaahh..” Vina menjerit keras.

“Aah..iya..ah.. begiituu..”

Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vina. Berisik sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vina.

Entah apa yang ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.

“Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin merasakan.. tenagamu.. uuhh..”

Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan kasar. Lagi-lagi Vina menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur nikmat.

“Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu..” Vina setengah berteriak.

“Jangan ngaco.. sayang..”

“Ngga apa ap.. aa.. aah..!”

Vina kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vina sampai pinggangku pegal. Vina mendesah lemah.

“Keluarin.. yang banyak di dalam..” katanya pelan.

“Aku.. sedang subur.. biar jadi anak..”

Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vina. Kami berdua jatuh berlutut di lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.

“Anget..” Vina menggumam.

“Apanya?” tanyaku terengah-engah.

“Sperma kamu, di rahimku..”

“Emang biasanya dingin ya?”

“Yang sekarang lebih..”

Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih sudah menghilang. Puas sudah dia melihat “Live show” kami. Setelah itu kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vina yang tubuhnya penuh minyak.

Tetapi setelah selesai mandi Vina kembali ganas dan “Memperkosa” aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!

Cewek Binal Pengen Dicolok Memeknya Ama Teman Ayah Sendiri.

Namaku Ayu, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.

Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robin. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.

Om Robin ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan keluarganya.

Kedua anaknya sedang kuliah di Australia, sedang istYuya aktif di kegiatan sosial dan seYug pergi ke pesta-pesta. Ibu seYug diajak oleh si Tante Maria, istri Om Robin ini, namun ibu selalu menolak karena dia lebih senang di rumah.

Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robin yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil aku sudah seYug ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.

Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robin yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia berikan sendiri.

Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar.

Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, “Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang.”

“Makasih, Bi.” jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.

Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robin. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robin yang sedang berdiri dan mengeYugkan tubuh dengan handuk.

“Ooh..” pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya.

Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robin menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampiYuya.

“Halo Ayu, apa kabar kamu..?” sapa Om Robin hangat sambil memberikan sun di pipiku.

Aku pun balas sun dia walau kagok, “Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?”

“Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?” tanya Om Robin sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.

Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robin yang ketat itu mengeras.

“Iya Om, baru latihan cheers. Tante Maria mana Om..?” ujarku basa-basi.

“Tante Maria lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.” balas Om Robin sambil memasang kimono di tubuhnya.

“Ooh..” jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robin dengan leluasa lagi.

“Ke dapur yuk..!”

“Kamu mau minum apa yu..?” tanya Om Robin ketika kami sampai di dapur.

“Air putih aja Om, biar awet muda.” jawabku asal.

Sambil menunggu Om Robin menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.

“Duduk di sini boleh yah Om..?” tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.

“Boleh kok Yu” kata Om Robin sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robin pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.

“Aaah..!” pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robin langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Yu. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?” tanya Om Robin sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robin yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robin

“Om.. udah Om..!” kataku lirih.

Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

“Kamu cantik, Ayu..” ujarnya lembut.

Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robin kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robin, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.

Ciumannya makin buas, dan kini Om Robin turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robin dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robin juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

Aku melenguh agak keras dan Om Robin pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robin memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robin mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robin sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robin bernafsu.

“Oom.. aah.. aah..!”

“Yu, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini..” godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.

“Ahh.., Om.. gelii..!” balasku manja.

“Sshh.. jangan panggil ‘Om’, sekarang panggil ‘Robin’ aja ya, Yu. Kamu kan udah gede..” ujarnya.

“Iya deh, Om.” jawabku nakal dan Om Robin pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.

“Eeeh..! Om.. eh Bin.. geli aah..!” kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Robin berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Robin sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robin membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.

“Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!”

Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robin dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robin pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robin melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.

Perlahan Om Robin mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.

“Aawww.. gede banget sih Rob..!” ujarku karena dari tadi Om Robin belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu.

“Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!”

Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.

Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robin berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robin mengerang keenakan.

“Ah Yu.. enak Yu.. aduuh..!”

“Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!” balasku sambil merem melek keenakan.

Om Robin tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robin semakin nafsu saja.

“Awwh.. awwh.. aah..!” orgasmeku mulai lagi.

Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robin yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Robin dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robin maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robin mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

“Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!” Yutihku dan Om Robin serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku.

Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robin yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keYugat dan nikmatnya tangan Om Robin di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robin, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

“Aaah.. Yuuu..!” erangnya.

Om Robin melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robin duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

“Sini Om..! Ayu bersihin sisanya tadi..!” ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robin.

Om Robin hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robin yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robin yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.

“Yu, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?” ujar Om Robin sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.

“Enggak Om, dari dulu Ayu emang senang sama Om, menurut Ayu Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik.” pujiku.

“Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?” balasnya.

“Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh.”

“Iya Yu, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi.”

“He.. he.. he..” aku tersipu malu.

“Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa.” ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robin.

“Iya, makasih ya Ayu sayang..” jawab Om Robin sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.

“Aah.. Om, Ayu musti pulang nih, udah sore.” elakku sambil melepaskan diri dari Om Robin.

Om Robin pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang.

Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya.

“Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?”

Sambil menahan tawa aku pun berkata, “Iya Pak, dikasih ‘wejangan’ pula..”

Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..